Asal Usul Gurun Pasir Sahara, Hujan Pasir Mengubur Kaum Ad

Salah satu kelebihan panorama yang dimiliki Timur Tengah, dan benua Afrika adalah Gurun Pasir Sahara, area ini terlihat terang dan sangat jelas terlihat pada peta. Saat ini, Sahara merupakan padang pasir yang panas dan terbesar di dunia, wilayahnya lebih dari 9 juta kilometer persegi yang meliputi sebagian besar Afrika Utara, sebuah ukuran yang hampir sama besar dengan Amerika Serikat atau benua Eropa.

Gurun Sahara membentang dari Laut Merah dan termasuk bagian dari pantai Mediterania hingga ke pinggiran Samudera Atlantik. Bahkan beberapa bukit pasir bisa mencapai ketinggian 180 meter, dimana diantranya bercampur dengan pasir laut dan formasi batuan serta kerikil. Beberapa ilmuwan saat ini telah membandingkan material yang diambil dari gurun pasir Sahara dan material permukaan Mars. Bagaimana ini bisa terjadi, sejak kapan Gurun Pasir Sahara menutupi wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah? Sebuah badai disertai petir dan hujan pasir telah menyapu bersih sekaligus mengubur golongan umat yang pernah menjadi penguasa di sekitar tahun 3000-2300 SM.

Misteri Gurun Pasir Sahara

Gurun Pasir Sahara menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap, sebuah gurun pasir yang terkenal sejak sekitar ribuan tahun yang lalu merupakan wilayah subur yang sangat berbeda di masa lalu. Ilmuwan memperkirakan bahwa gurun pasir Sahara adalah wilayah sub-tropis dimana rusa, kuda nil dan gajah pernah diburu manusia kuno, jerapah dan badak bebas menjelajah daerah tropis yang kini menjadi gurun pasir. Pasokan makanan berlimpah sehingga membuat ribuan manusia pemburu pengumpul migrasi ke wilayah ini dan menetap di sub-tropis ini.

Bahwa semua fakta ini telah terbukti sejak ditemukannya ratusan kuburan manusia dan berbagai lukisan batu yang menggambarkan manusia kuno berburu dan berenang. Gambaran radar yang diambil oleh NASA menunjukkan bahwa dibawah gurun pasir merupakan jaringan yang tersusun dari sungai di seluruh Sahara, termasuk Afrika Utara diperkirakan pernah menjadi wilayah yang sangat subur.

Asal Usul Gurun Pasir Sahara

Menurut studi sebelumnya, gurun pasir Sahara awalnya berubah seketika sekitar 5000 tahun yang lalu. Tetapi studi terbaru menunjukkan hasil berbeda, para ilmuwan meyakini bahwa sekitar kurang dari 5000 tahun lalu sebuah wilayah sub-tropis berubah secara tiba-tiba menjadi gurun pasir. Selama ribuan tahun terjadi pergeseran mendadak,  temuan ini kemudian digunakan ilmuwan agar membantu pemahaman tentang perubahan iklim di masa depan. Studi serbuk sari kuno, spora dan organisme air sedimen Danau Yoa di Chad Utara telah memberi bukti secara bertahap tentang perubahan 6000 tahun yang lalu. Daerah terbentudari savannah berubah menjadi kering terus menerus hingga sekitar kurang dari 5000 tahun yang lalu, atau berkisar tahun 3000-2300 SM.

Teori Pembentukan Butiran Pasir

Pasir merupakan bentuk halus dari lapukan dan kikisan dari batu, proses ini diyakini membutuhkan waktu puluhan ribu tahun atau bahkan kikisan batu membutuhkan waktu selama selama jutaan tahun. Semakin lama erosi terjadi, maka bentuk butiran pasir semakin halus. Gurun Pasir Sahara merupakan beberapa tumpukan pasir tertua di Bumi dan diyakini telah ada selama tujuh juta tahun. Beberapa bukit pasir diduga mengandung biji besi, noda partikel kuarsa juga membuat pasir berwarna kuning.

Lalu, dari mana pasir Sahara berasal? Studi yang menyebutkan gurun pasir Sahara terbentuk sejak kurang dari 3000 tahun lalu tampaknya tidak masuk akal, karena waktu untuk membentuk pasir tidak sesuai dengan teori konsensus yang memerlukan waktu selama jutaan tahun.

Menurut Wallace Thornhill, Ketika objek besar seperti komet mendekati Bumi, sebelum menghantam bumi akan terjadi pelepasan listrik antara dua benda dan debit biasanya cukup besar untuk menghancurkan objek yang masuk ke atmosfer, sehingga bumi akan dihujani pasir tersu menerus. Seperti kebakaran yang pernah terjadi di Chicago, dimana seluruh wilayah Amerika Serikat diterangi oleh api aneh dan pasir seperti jatuh dari atas, semua ini terjadi pada saat hilangnya komet Biela.

Great Chicago Fire, kebakaran chicago

Sebuah sebutan yang dikenal ‘The Great Chicago Fire‘ merupakan kebakaran pada hari Minggu, 8 Oktober hingga Selasa pagi, 10 Oktober 1871, dimana dalam catatan sejarah bahwa kebakaran telah menewaskan 300 orang, menghancurkan sekitar 9 kilometer persegi di Chicago, Illinois, dan menyebabkan lebih dari 100,000 penduduk tunawisma.

Jutaan ton material tak terhitung merupakan batuan yang membombardir atmosfer bumi, terpecah-belah dan menjadi butiran pasir halus. Seperti itulah gambaran ketika material jatuh ke Bumi, sehingga menutupi wilayah subur yang luas dan mengubahnya menjadi gurun pasir tandus yang kita lihat sekarang.

Badai Petir Dan Hujan Pasir Mengubur Kaum Ad

Sebelumnya, siapakah Kaum Ad? Jika melirik kisah dan sejarah yang mengacu pada Ad-Lantis, maka sangat jelas bahwa Kaum Ad merupakan keturunan atau sisa peradaban Atlantis yang ditenggelamkan di sekitar Laut Mediterania. Plato pernah menulis bahwa Atlantis terhampar diseberang pilar-pilar Hercules, memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9000 tahun sebelum waktu Solon (sekitar tahun 9500 SM). Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dasar Samudra dalam waktu satu hari satu malam.

Bencana ini diduga karena jatuhnya benda luar angkasa berukuran besar sehingga menyebabkan banjir besar, dalam kisah sejarah lebih banyak mengaitkan sejarah ini dengan Bahtera Nuh. Bencana ini ternyata tidak seluruhnya memusnahkan kaum sebelum Nuh, sebuah penguasa besar yang telah memerintah sejak Idris dan periode Nuh dengan puncak kejayaan Atlantis, perdaban tertinggi dan paling maju dalam sejarah manusia. Ternyata mereka masih tersisa di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Satu-satunya wilayah yang tersisa adalah Afrika Utara yang dikenal subur sejak Periode Neolitik sekitar 9500 SM. Ini terlihat dari bukti-bukti bangunan yang mengusung teknologi dan desain sebelumnya. Bangunan menjulang tinggi seperti Menara Babel, Piramida dan arsitektur kerajaan Mesir dan hampir diseluruh wilayah Timur Tengah masih menggunakan metode peradaban terdahulu hingga menjelang tahun 2300 SM.

Dalam catatan sejarah para nabi, Hud hidup di sekitar tahun 2450 hingga 2320 SM, seorang nabi yang diutus untuk mengingatkan Kaum ‘Ad yang tinggal di Al-Ahqaf, Rubu’ Al-Khali-Yaman. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud, sehingga datang angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh menggelegar dan mereka tertimbun pasir.

Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati berge-limpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (QS Al Haaqqah, 69: 6-7)


Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami. Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih.” (QS Al Ahqaaf, 46: 24)


Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud”. (QS Fusilat, 41:13)

 

Seperti yang telah dijelaskan diatas, ketika objek besar (seperti komet mendekati Bumi) sebelum menghantam bumi akan terjadi pelepasan listrik antara dua benda (Bumi dan Komet/Meteor) dan debit listrik yang dihasilkan biasanya cukup besar untuk menghancurkan objek yang masuk ke atmosfer, sehingga bumi akan dihujani pasir terus menerus. Inilah yang terjadi ketika itu, sebuah benda besar telah mengubur wilayah Gurun pasir Sahara yang kemungkinan telah didiami oleh Kaum ‘Ad.

Proses pengikisan bebatuan di atmosfer tampaknya tidak jauh berbeda dengan kebakaran yang terjadi akibat hujan pasir panas di Chicago tahun 1871. Kejadian Chicago adalah sebagian dari tabrakan benda kecil, tidak seluruhnya, tetapi dampaknya telah menyebabkan kebakaran yang luar biasa selama sehari. Bagaimana jika benda besar menabrak Bumi menjadi terpecah belah, kemudian proses listrik dan atmosfer membuatnya menjadi pasir halus dan panas yang membakar selama delapan hari? Peristiwa ini yang membuat Kaum ‘Ad seperti tunggul pohon yang lapuk, musnah disiram pasir panas.

Sebegitu besarkah benda yang menghantam Bumi sekitar tahun itu? Bahkan ilmuwan saat ini telah menduga, bahwa gurun pasir Sahara muncul secara tiba-tiba antara tahun 2400-3000 SM, tetapi usia pasir diperkirakan sudah mencapai jutaan tahun. Hal ini sangat jelas bahwa pasir Sahara bukan berasal dari Bumi dan lebih mirip dengan material planet Mars. Meteor ataupun komet yang beredar di luar angkasa merupakan sisa-sisa pembentukan planet, bisa saja Mars atau sisa tabrakan planet Thea, kemudian tertarik gravitasi Bumi. Sampai saat ini, masih ada jutaan batuan luar angkasa dan sering kita lihat sebagai fenomena meteor di langit malam.

(Rujukan: http://www.isains.com/2016)

Kisah Pokok Tamar Yang Menangis

(Rujukan: https://shafiqolbu.wordpress.com/)

pokok kurma malysia

Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah bahawa pada masa itu masjid Rasulullah ﷺ beratap pelepah pokok tamar @ kurma. Jika Rasulullah ﷺ berkhutbah, baginda berdiri di atas salah satu batang pokok tamar. Oleh kerana jumlah umat Islam bertambah ramai, maka dicadangkan dibina mimbar agar jemaah majlis yang berada di belakang dapat melihat Rasulullah ﷺ ketika berkhutbah.

Cadangan Saidina Abu Bakar As-Sidiq ra supaya dibina mimbar yang baru diterima Rasullulah ﷺ. Lalu para sahabat pun membuat mimbar daripada kayu yang mempunyai 3 anak mata tangga. Apabila mimbar yang baru itu siap, Rasulullah ﷺ pun mula memberikan khutbah di atas mimbar baru tersebut, malah Nabi merasa selesa dengan mimbar yang baru itu lalu tidak menggunakan lagi batang tamar yang sering Baginda gunakan sebelum ini.

Namun, ketika Rasullullah ﷺ menggunakan mimbar baru itu, kedengaran suara rintihan seperti tangisan unta kehilangan anak yang semakin lama semakin kuat hingga menggoncangkan tanah yang terus bergetar sehingga para sahabat pun bertanya-tanya.

Rupa-rupanya, suara tangisan sedih itu datangnya daripada batang pokok tamar usang yang dulunya sering kali digunakan oleh Rasullullah ﷺ.

Rindukan Rasulullah

Rasulullah ﷺ tersenyum. Lalu Baginda turun daripada mimbar dan menghampiri pokok tamar yang tidak jauh dari mimbar tersebut. Rasulullah ﷺ meletakkan tangan pada batang pokok tamar dan mengusap-usap dengan perlahan-lahan.

Rasulullah ﷺ berkata pada pokok tamar itu: “Jika engkau mahu, aku akan jadikan engkau dinding masjid ini, akarmu tumbuh lagi, tubuhmu hidup lagi dan engkau berbuah lagi. Atau jika engkau mahu, aku akan berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى agar engkau akan menjadi pokok di syurga, supaya para wali Allah dapat memakan buah-buahmu.”

Batang tamar itu menjawab: “Saya memilih untuk ditanam ke dalam tanah dan akan tumbuh di syurga supaya wali-wali Allah dapat memakan buahku dan saya berada di tempat dimana di dalamnya saya kekal.”

Lalu goncangan tanah dan suara rintihan pun berhenti. Rasulullah ﷺ kemudian kembali pada mimbar dan menyampaikan kejadian tersebut kepada para sahabatnya. Rasulullah ﷺ berkata: “Ia (pokok kurma) memilih negeri yang kekal berbanding negeri yang fana ini!”

Rasulullah ﷺ kemudian menyuruh supaya ditanamkan batang pokok tamar itu berhampiran mimbar dan mengatakan bahawa ia akan dibangkitkan di dalam syurga.

Jabir RA berkata, “Pokok kurma itu juga menangis apabila ia mendengar orang berzikir atau mendengar bacaan al-Quran dekatnya.” (Hadis Riwayat Bukhari).

 

Begitulah kisah batang kering dari pokok tamar yang menangis kerana rindu kepada Rasulullah ﷺ. Sayang, kasih dan rindunya sebatang pokok tamar kepada Rasulullah ﷺ sehingga menangis kerana Rasulullah ﷺ beralih mimbar untuk berkhutbah. Betapa mulianya pokok tamar yang tidak akan terkena seksa api neraka seperti pada zaman Rasulullah ﷺ.

Hasan al-Basri apabila meriwayatkan kisah ini, beliau pun menangis dan berkata; “Wahai hamba Allah! Batang tamar pun rindu kepada Rasulullah , maka kamu semua lebih utama untuk merasa rindu bertemu dengan Rasulullah .”

Bayangkan! Sebatang pokok tamar tidak mahu jauh dari Nabi Muhammad ﷺ, padahal cuma berjarak beberapa meter. Bagaimana pula cinta kasih kita kepada Rasulullah ﷺ, nabi kesayangan kita? Kita yang mengaku sebagai umatnya, pernahkah kita menangis teresak-esak kerana Rasulullah ﷺ?

Bukan sekadar pengakuan lidah, apa bukti kecintaan dan kerinduan kita kepada Rasulullah ﷺ? Sejauh mana kita merasakan rindu untuk bertemu dan berada dekat dengan Al-Mushthafa Muhammad ﷺ. Maafkan kami ya Rasulullah ﷺ.

Alangkah malunya kita yang mengaku sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ tetapi tidak pernah berasa rindu kepada Baginda ﷺ. Apatah lagi jarang-jarang berselawat kepada junjungan Nabi Muhammad ﷺ. Malah ada di kalangan kita nak jawab selawat pun susah, begitu bakhilnya diri kita nak melontarkan sebaris kalimah selawat.

Salawat orang Mukmin ialah memohon rahmat daripada Allah سبحانه وتعالى ke atas Nabi Muhammad ﷺ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) ke atas Nabi (Muhammad ). Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan.” (Al-Ahzab: Ayat 56)

Mendekati Rasulullah ﷺ banyak caranya, misalnya dengan membaca selawat, zikir, mendatangi majlis-majlis ilmu, berkawan dengan orang soleh dan sebagainya. Sebarkan sirah, cara kehidupan, sejarah Nabi ﷺ kepada ahli keluarga dan terhadap orang-orang sekelilingmu….

Marilah kita perbanyakkan selawat kepada Nabi ﷺ di samping berdoa semoga suatu hari nanti kita akan bertemu dengan Rasulullah ﷺ dan memperolehi syafaat Baginda ﷺ.

Salam rindu hanya buatmu Ya Rasulullah ﷺ….

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ النَّبِيِّ الأُمِّيّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kehebatan Pengamal Surah Al-Ikhlas

Ada suatu kisah yang jarang ditulis diketahui, yaitu kisahnya 70 ribu Malaikat menutupi sinar matahari. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh hamba Allah tersebut hingga sebanyak itu malaikat turun ke langit saf pertama dan menutupi matahari?

Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra.


Pada suatu pagi, Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik ra melihat suatu keanehan di pagi itu. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.Tak lama kemudian, Rasulullah SAW dihampiri oleh malaikat Jibril.

Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat Jibril,

“Wahai Jibril, kenapa matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”

“Ya Rasulullah, matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya,” jawab Jibril.

Rasulullah SAW bertanya,

“Wahai Jibril, berapa jumlah malaikat yang menghalangi matahari saat ini?”

“Ya Rasulullah, 70 ribu malaikat,” jawab Jibril.Rasulullah SAW bertanya,

“Apa gerangan yang menjadikan malaikat menutupi matahari?”

Kemudian Malaikat Jibril menjawab,

“Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.”

“Siapakah dia, wahai Jibril?” tanya Rasul SAW.

“Dialah Muawiyah.”Rasulullah SAW bertanya,

“Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?”

Malaikat Jibril menjawab,

“Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al Ikhlas.”Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya,

“Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut.”

Mari sahabat, perbanyaklah membaca Surat Al Ikhlas, agar kelak malaikat membacakan shalawat pula untuk kita.

(Rujukan: http://kisahislamiah.blogspot.my/)

Pengakuan Iblis Laknatullah kepada Nabi Isa AS

Iblis secara terang-terangan mengaku kepada Nabi Isa a.s bahwa dirinya akan menyesatkan manusia dengan kesenangan dunia dan mengelabui manusia agar menajadikan Nabi Isa a.s sebagai Tuhan.

Kisahnya.

Semua pasti mengetahui bahwa Nabi Isa a.s adalah seorang Rasul yang lahir dari seorang ibu bernama Maryam dan tanpa ayah, akan tetapi bukan karena zina. Ketika usia kandungan Maryam semakin dekat pada hari kelahiran, ia keluar dari daerah pengasingannya untuk menyelamatkan diri. Karena merasa sakit, Maryam membaringkan diri, dan pada saat itulah lahir seorang bayi, dialah Isa binti Maryam.

Beberapa hari setelah kelahirannya, Nabi Isa a.s dibawa pulang ke kampung ibunya. Orang kampung saling berdatangan untuk melihat putra Maryam. Mereka mencemuh Maryam karena membawa bayi tanpa ayah. Mereka menuduhnya berbuat zina, padahal ia berasal dari keluarga baik-baik. Maryam tidak menanggapi tuduhan itu, akan tetapi memberi isyarat kepada bayinya.

Pertemuan Nabi Isa a.s dan Iblis.

Pada saat usia 30 tahun, Nabi Isa a.s sering pergi ke luar rumah untuk mengasingkan diri dari keramaian, membersihkan nurani dan mencari pencerahan jiwa. Ketika menuju ke Bukit Zaitun, Nabi Isa a.s. jatuh terduduk dekat sebuah batu besar dan merasa lapar. Tiba-tiba saja ada yang datang menghampirinya, lalu memintanya menjadikan batu besar itu roti.

“Aku mampu menjadikan batu besar itu menjadi roti, niscaya kamu tidak akan kelaparan,” kata orang yang datang itu yang tak lain adalah iblis.

“Aku tidak akan meminta pertolongan kepadamu. Kebesaran Tuhan hanya ada pada Allah,” kata Nabi Isa a.s.

Iblis lalu pergi setelah tidak berhasil membujuk Nabi Isa a.s. Setelah kepergian iblis itu, Nabi Isa mengucapkan syukur kepada Allah karena telah ditetapkan imannya sehingga tidak terperdaya oleh bujuk rayu iblis.

Ketika berada di bukit Zaitun, Nabi Isa bersujud dan bersyukur karena selamat dari godaan iblis. Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril mendatanginya lalu menyampaikan tugas kenabian dan kerasulannya.

Iblis tidak hanya berhenti di situ saja, suatu saat iblis ini membawa Nabi Isa ke atas Baitullah di Yerusalem.

“Wahai kekasih Allah, jika engkau ingin dakwahmu mudah dan diterima orang-orang, maka mintalah engkau kepada Tuhanmu untuk dijatuhkan dari tempat tinggi, maka Allah akan mengutus malaikat untuk melindungimu dari cedera,” kata Iblis. Nabi Isa a.s yang mengerti maksud jahat dari Iblis itu, maka ia tidak menuruti permintaannya.

Tipu Daya Iblis.

“Wahai laknatullah, akau tahu jika engkau sedang membujukku. Bnayak orang yang hanya senang melihat mukjizatku tapi sedikit yang akan beriman kepada Allah,” jelas Nabi Isa a.s.

Riwayat lain dari Ibnu Abbas menjelaskan bahwa iblis pernah bertemu dengan Nabi Isa di pintu Baitul Maqdis di Palestina.

“Wahai makhluk terlaknat, ceritakan kepadaku apa yang kamu perbuat terhadap umat Musa,” tanya Nabi Isa.

“Wanita Yahudi aku jadikan menguasai mereka,” jawab Iblis.

“Kemudian apa yang akan kamu perbuat terhadap umatku?” tanya Nabi Isa.

“Mereka saya perintah agar menjadikan kamu sebagai Tuhan,” jawab Iblis.

“Lantas apa yang kamu lakukan terhadap umat Muhammad SAW?” tanya Nabi Isa lagi.

Saya tidak mampu menggoda mereka, akan tetapi mereka saya rayu senang terhadap wang, dinar, dan dirham, sehingga mereka lebih menyenangi hal itu daripada lafadz Laa Ilaaha Illallah,” jelas iblis.

Pada akhir dialog, Nabi Isa a.s melihat punggung iblis tercabik-cabik dan terputus-putus.
Nabi Isa a.s bertanya:

“Lalu kenapa punggungumu mengalami hal seperti itu?”.

“Adapun sesuatu yang dapat membuat punggungku terputus adalah seorang hamba yang shalat sunnah di rumahnya baik sendiri atau dengan jamaah dan yang membuat badanku hancur adalah suara kuda perang di jalan Allah,” jawab iblis.

Mengetahui helah iblis dalam menggoda umatnya, Nabi Isa AS dengan tegas menyatakan bahwa dirinya BUKANLAH Tuhan yang disembah. Beliau hanya seorang nabi dan rasul yang juga menyembah Allah SWT, Tuhan Sekalian Alam.

(Ibu Maryam tidak pernah berzina.
Nabi Isa a.s bukanlah Tuhan.
Nabi Isa a.s seorang Nabi dan Rasul dan pastinya diberi wahyu akan keberadaan seorang Nabi akhir zaman setelah sepeninggal Nabi Isa a.s.
Iblis selalu menggoda manusia sampai hari kiamat.)

(Rujukan: http://kisahislamiah.blogspot.my/)

Riwayat Nabi Idris AS

Kesalehan Nabi Idris as ternyata mampu mengalahkan kemampuan Iblis. Bahkan, hanya dengan sepucuk jarum jahit yang biasa digunakan untuk bekerja, dia mampu membuat mata Iblis menjadi buta.

Kisahnya

Nabi Idris as merupakan sosok nabi dan rasul yang terkenal kesalehannya. Beliau merupakan keturunan keenam dari Nabi Adam as. Beliau lahir 1.000 tahun setelah wafatnya Nabi Adam as. Nama aslinya adalah Ukhunuh. Namun karena tekun mempelajari ilmu agama dan kitab-kitab Allah, maka beliau dikenal dengan nama Idris.

Menurut riwayat, Nabi Idris as adaalah seorang nabi pertama yang paling pandai menulis dengan bahasa dan dapat membaca. Karena kemampuannya membaca itu, Allah SWT telah menurunkan 30 syahifah yang berupa petunjuk untuk disampaikan kepada umatnya yang terdiri dari keturunan Qabil yang merupakan putra Nabi Adam as yang durhaka kepada Allah SWT.

Pandai Menjahit

Selain terkenal karena kemampuannya dalam menulis dan membaca, beliau juga dikenal sebagai orang pertama yang mampu menunggang kuda, mengetahui ilmu bintang, pandai mengira serta memerangi orang yang durhaka kepada Allah SWT. Beliau juga adalah orang pertama yang pandai menggunting dan menjahit pakaian yang dibuat dari kulit binatang.

Kehidupan sehari-harinya selalu diisi dengan kegiatan beribadah kepada Allah SWT serta menolong orang miskin. Pada saat waktu luang beliau gunakan untuk menjahit pakaian. Biasanya apabila pakaian itu siap, dia akan memberikannya kepada orang yang miskin. Di samping itu, setiap hari dia tidak pernah lepas dari berpuasa.

Nabi Idris as tidak pernah lupa untuk berbakti dan beribadah kepada Allah SWT meskipun dia sibuk menhadapi tugas-tugas harian. Nabi Idris as juga seorang yang gagah, beliau memiliki kekuatan luar biasa. Karena itulah beliau dikenali sebagai “Asadul Usud” atau singa dari segala singa.

Dengan dikaruniai Allah SWT sifat gagah itu, Nabi Idris as mampu memerangi orang yang durhaka kepada Allah SWT. Karena itulah beliau dimuliakan Allah SWT seperti penjelasan dalam Surat Maryam ayat 56-57.

Allah SWT berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٥٦)
وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (٥٧)

56. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.
57. dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.

Hal ini juga dikuatkan dalam surat Al Anbiya ayat 85-86. Allah SWT berfirman,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ (٨٥)
وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُمْ مِنَ الصَّالِحِينَ (٨٦)

85. dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka Termasuk orang-orang yang sabar.
86. Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat kami. Sesungguhnya mereka Termasuk orang-orang yang saleh.

Menikam Mata Iblis

Selama masa hidupnya, Nabi Idris as sangat takwa dan saleh, ini yang membuat iblis dan setan iri hati. Pada suatu hari ketika Nabi Idris as sedang duduk menjahit baju, tiba-tiba dan entah darimana datangnya, muncullah seorang laki-laki di depan pintu rumahnya sambil memegang sebutir telur di tangannya.

Iblis yang menyamar sebagai lelaki itu berkata,
“Ya Nabiyullah, bisakah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?
Sekilas Nabi Idris as melihat lelaki itu dan dia sudah mengetahui bahwa orang yang berada di hadapannya itu adalah iblis laknatullah yang sedang menyamar.

Nabi Idris as berkata,
“Kemarilah, mendekatlah kepadaku dan tanyalah yang engkau mau.”
Iblis menyangka dirinya pandai menyamar dan mendekat Nabi Idris as. Dia terlihat senang karena merasa penyamarannya tidak diketahui oleh Nabi Idris as.
Iblis berkata,
“Bisakah Tuhanmu memasukkan dunia ke dalam telur ini?”
“Jangankan memasukkan dunia ini ke dalam telur sebesar ini, bahkan ke dalam lubang jarumku ini pun Tuhanku berkuasa melakukannya,” jawab Nabi Idris as.


Lalu dengan secepat kilat Nabi Idris as menusuk mata iblis dengan jarumnya. Secepat kilat jarum itu mengenai matanya, dan iblis pun menjerit kesakitan. Dia terkejut dan tidak menyangka kalau Nabi Idris as akan mengetahui tipu dayanya.

Karena mata iblis tertusuk jarum Nabi Idris, maka matanya telah menjadi buta. Tanpa membuang waktu, iblis pun lari tunggang langgang hingga hilang dari pandangan Nabi Idris as.

(Rujukan: http://kisahislamiah.blogspot.my)

Kisah Gambar-Gambar Nabi dan Rasul

Sahabat melihat gambar-gambar Rasul a.s dari simpanan Heraklius
Imam al-Hakim (penulis kitab al-Mustadrak) mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Ishaq al-Baghawi, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Aisam al-Baladi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Muslim ibnu Idris, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Idris, dari Syurahbil ibnu Muslim, dari Abu Umamah al-Bahili, dari Hisyam ibnul ‘As al-Umawi r.a yang menceritakan bahawa dia dan seorang lelaki lain diutus untuk menemui Heraklius (Hercules, Raja Romawi) untuk mengajaknya masuk Islam.
“Kami berangkat, dan ketika kami sampai di al-Ghautah (bahagian dari kota Dimasyq / Damsyiq) kami turun istirehat di perkampungan Al-Jabalah ibnul Aiham Al-Ghassani. Lalu kami masuk menemuinya, tiba-tiba kami jumpai dia berada di atas singgahsananya. Dia mengirimkan utusannya kepada kami agar kami berbicara dengannya, tetapi kami mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan berbicara kepada utusan. Sesungguhnya kami diutus hanya untuk menemui raja (kalian). Jika kami diberi izin untuk masuk, maka kami akan berbicara langsung dengannya; dan jika tidak, kami tidak akan berbicara kepada utusan.”
Kemudian utusan Jabalah ibnul Aiham kembali kepadanya dan menceritakan segala sesuatunya kepadanya. Akhirnya kami diberi izin untuk menemuinya, lalu Jabalah berkata, “Berbicaralah kalian.” Maka Hisyam ibnul ‘As berbicara dengannya dan menyerunya untuk memeluk agama Islam.
Ternyata Jabalah memakai pakatan hitam, maka Hisyam bertanya kepadanya, “Pakaian apakah yang engkau kenakan itu?” Jabalah menjawab, “Saya memakainya dan saya telah bersumpah bahawa saya tidak akan menanggalkannya sebelum mengusir kalian dari negeri Syam.”
Kami berkata, “Majlismu ini, demi Allah, akan benar-benar kami rebut dari tangan kekuasaanmu, dan sesungguhnya kami akan merebut kerajaan rajamu yang paling besar, Insya Allah. Perkara ini telah diberitakan kepada kami oleh Nabi kami, iaitu Nabi Muhammad S.a.w.”
Jabalah mengatakan, “Kalian bukanlah mereka, bahkan mereka adalah suatu kaum yang puasa siang harinya dan shalat pada malam harinya, maka bagaimanakah cara puasa kalian?”
Maka kami menceritakan cara puasa kami. Wajah Jabalah menjadi hitam (marah) dan berkata, “Berangkatlah kalian,” dan dia menyertakan seorang utusan bersama kami untuk menghadap kepada Kaisar  (raja) Romawi.
Kalifah & Unta

Kami berangkat, dan ketika kami sudah dekat dengan ibu kota, berkatalah orang yang bersama kami, “Sesungguhnya haiwan kenderaan kalian ini dilarang memasuki ibu kota kerajaan. Jika kalian suka, maka kami akan membawa kalian dengan kenderaan kuda dan baghal.” Kami menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan masuk melainkan dengan memakai kenderaan ini.”

Kemudian orang yang bersama kami itu mengirimkan utusan-nya kepada kaisar untuk menyampaikan bahawa para utusan kaum Muslim menolak peraturan tersebut. Akhirnya Raja Romawi memerintahkan kepada utusan itu untuk membawa kami masuk dengan kenderaan yang kami bawa.
Kami masuk ke dalam ibu kota dengan menyandang pedang-pedang kami, hingga sampailah kami pada salah satu bangunan milik Kaisar. Lalu kami istirehatkan unta kenderaan kami pada bahagian bawahnya, sedangkan Raja Romawi memandang kami.
Lalu kami ucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.” Allah-lah yang mengetahui, kerana sesungguhnya bangunan itu mendadak menjadi bergegar seperti pohon kurma yang tertiup angin besar. Lalu raja mengirimkan utusan-nya kepada kami untuk menyampaikan, “Kalian tidak usah menggembar-gemburkan agama kalian kepada kami.” Dan raja mengirimkan lagi utusan-nya untuk menyampaikan, “Silakan kalian masuk.”
Maka kami masuk menghadapnya, sedangkan dia berada di atas singgahsananya, di hadapan para paderi Romawi. Segala sesuatu yang ada di majlisnya berwarna merah, raja sendiri memakai baju merah, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya semuanya berwarna merah.
Lalu kami mendekat kepadanya. Dia tertawa, lalu berkata, “Bagaimanakah menurut kalian jika kalian datang menghadap kepadaku dengan mengucapkan kalimat salam penghormatan yang berlaku di antara sesama kalian? Tiba-tiba di sisinya terdapat seorang lelaki yang fasih berbicara Arab lagi banyak bicara.
Maka kami menjawab, “Sesungguhnya salam penghormatan kami di antara sesama kami tidak halal bagimu, dan salam penghormatan kamu yang biasa kamu pakai tidak halal pula bagi kami memakainya.” Raja menjawab, “Bagaimanakah ucapan salam penghormatan kalian di antara sesama kalian?” Kami menjawab, “Assalamu ‘alaika.” Raja bertanya,”Bagaimanakah caranya kalian mengucapkan salam penghormatan kepada raja kalian?” Kami menjawab, “Sama dengan kalimat itu.” Raja bertanya, “Bagaimanakah kalian mendapat jawabannya?” Kami menjawab, “kalimat yang sama.”
Raja bertanya, “Kalimat apakah yang paling besar dalam ucapan kalian?” Kami menjawab, “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar!” Ketika kami mengucapkan kalimah itu, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui,tiba-tiba bangunan istana itu bergegar sehingga si raja mengangkat kepalanya memandang ke atas bangunan itu.
Raja berkata, “Kalimat yang baru saja kalian ucapkan membuat bangunan ini bergegar. Apakah setiap kali kalian mengucapkannya di dalam rumah kalian, lalu bilik-bilik kalian bergegar kerananya?” Kami menjawab, “Tidak, kami belum pernah melihat peristiwa ini kecuali hanya di tempatmu sekarang ini?”
Raja berkata, “Sesungguhnya aku mengharapkan seandainya saja setiap kali kalian mengucapkan segala sesuatu bergegar atas kalian. Dan sesungguhnya aku rela mengeluarkan separuh dari kerajaanku?” Kami bertanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Kerana sesungguhnya perkara itu lebih mudah dan lebih layak untuk dikatakan bukan merupakan perkara kenabian, dan bahawa perkara tersebut hanyalah terjadi semata-mata kerana perbuatan manusia.”
Kemudian raja menanyai kami tentang tujuan kami, lalu kami menceritakan perkara itu kepadanya. Setelah itu raja bertanya, “Bagaimanakah shalat dan puasa kalian?” Kami menceritakan perkara itu kepadanya, lalu raja berkata. “Bangkitlah kalian.” Kemudian dia memerintahkan agar menyediakan rumah yang baik dan tempat peristirehatan yang cukup buat kami, dan kami tinggal di sana selama tiga hari.
Pada suatu malam raja mengirimkan utusannya kepada kami, lalu kami masuk menemui raja, dan dia meminta agar kami mengulangi ucapan kami, maka kami mengulanginya.Sesudah itu dia memerintahkan agar dibawakan sesuatu yang berbentuk seperti kota yang cukup besar, dibuat dari emas. Di dalamnya terdapat rumah-rumah kecil yang masing-masingnya berpintu.
Raja membuka sebuah rumah dan membuka kuncinya, lalu mengeluarkan (dari dalamnya) selembar kain sutera hitam. Ketika kami membuka kain sutera itu, tiba-tiba padanya terdapat gambar merah, dan pada gambar yang merah itu terdapat gambar seorang lelaki yang bermata besar, lagi bahagian bawahnya besar, saya belum pernah melihat leher sepanjang yang dimilikinya. Ternyata lelaki itu tidak berjanggut, dan ternyata pada rambutnya terdapat dua tocang rambut yang paling indah di antara semua makhluk Allah. Lalu raja berkata, “Tahukah kalian gambar siapakah ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Ini adalah gambar Adam a.s.” Ternyata Nabi Adam a.s. adalah orang yang sangat lebat rambutnya.
adam
Kemudian raja membuka rumah yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera berwarna hitam darinya. Tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar orang yang berkulit putih, memiliki rambut yang kerinting, kedua matanya merah, berkepala besar, dan sangat bagus janggutnya. Lalu raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Raja berkata, “Dia adalah Nuh a.s.”
Kemudian dia membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam lainnya, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang sangat putih, kedua matanya sangat indah, keningnya lebar, dan pipinya panjang (lonjong), sedangkan janggutnya berwarna putih, seakan-akan gambar lelaki itu tersenyum. Lalu raja bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Orang ini adalah Ibrahim a.s.”
Lalu raja membuka pintu yang lain (dan mengeluarkan kain sutera hitam) tiba-tiba padanya terdapat gambar orang yang putih, dan tiba-tiba – demi Allah – dia adalahRasulullah S.a.w sendiri. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Ya. Orang ini adalah Muhammad, utusan Allah S.w.t.” Kami menangis, dan raja bangkit berdiri sejenak, kemudian duduk lagi, lalu bertanya, “Demi Allah, benarkah gambar ini adalah dia (Nabi S.a.w)?” Kami menjawab, “Ya, sesungguhnya gambar ini adalah gambar dia, seakan-akan engkau sedang memandang kepadanya.”
Raja memegang kain sutera itu sebentar seraya memandangnya, lalu berkata, “Ingatlah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah yang terakhir, tetapi sengaja saya segerakan buat kalian untuk melihat apa yang ada pada kalian.”
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam darinya, tiba-tiba padanya terdapat gambar seseorang yang hitam manis, dia adalah seorang lelaki yang berambut kerinting dengan mata yang agak cekung, tetapi pandangannya tajam, wajahnya murung, giginya bertumpang tindih, bibirnya dicebikkan seakan-akan sedang dalam keadaan marah. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak tahu.” Raja berkata, “Dia adalah Musa a.s.” Sedangkan di sebelahnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengan-nya, hanya rambutnya berminyak, dahinya lebar, dan kedua matanya kelihatan agak juling. Raja itu bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak tahu.” Raja berkata, “Orang ini adalah Harun ibnu Imran a.s.”
Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih dari dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki hitam manis, tingginya pertengahan, dadanya bidang, dan seakan-akan sedang marah. Lalu si raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Dia menjawab bahawa orang tersebut adalah Lut a.s.
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera berwarna putih, tiba-tiba padanya terdapat gambar seorang lelaki yang kulitnya putih kemerah-merahan dengan pinggang yang kecil dan memiliki wajah yang tampan. Lalu si raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Raja berkata, “Dia adalah Ishaq a.s.”
perang badar
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih darinya, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengan Ishaq, hanya saja pada bibirnya terdapat tahi lalat. Raja bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak tahu.” Raja berkata, “Orang ini adalah Ya’qub a.s.”
Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera yang berwarna hitam, di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki berkulit putih, berwajah tampan, berhidung mancung dengan tinggi yang cukup baik, pada wajahnya terpancar nur (cahaya), dan terbaca dari wajahnya petanda khusyu’ dengan kulit yang putih kemerah-merahan. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak tahu.” Raja berkata.”Orang ini adalah moyang nabi kalian, iaitu Nabi Ismail a.s.”
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, dan ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang mirip dengan Nabi Adam, hanya wajahnya bercahaya seperti mentari. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak tahu.” Raja berkata, “Orang ini ialah Yusuf a.s.”
Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berkulit merah, kedua betisnya kecil, dan matanya rabun, sedangkan perutnya besar dan tingginya sedang, seraya menyandang pedang. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Raja berkata, “Orang ini adalah Daud a.s.”
Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang bahagian bawahnya besar, kedua kakinya agak panjang seraya mengendarai kuda. Lalu raja bertanya, “Tahukah kalian, siapakah orang ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Raja berkata, “Orang ini adalah Sulaiman ibnu Daud a.s.”
Kemudian raja membuka pintu yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera hitam darinya, pada kain sutera itu terdapat gambar orang yang berpakaian putih, dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang janggutnya berwarna hitam pekat, berambut lebat, kedua matanya indah, dan wajahnya tampan. Raja bertanya, “Tahukah kalian siapakah orang ini?” Kami menjawab. “Tidak.” Raja berkata, “Orang ini adalah Isa ibnu Maryam a.s.”
Nabi Musa as
Kami bertanya, “Dari manakah kamu mendapatkan gambar-gambar ini? Kerana kami mengetahui bahawa gambar-gambar tersebut sesuai dengan gambar nabi-nabi yang dimaksudkan, mengingat kami melihat gambar nabi kami sama seperti yang tertera padanya.”
Raja menjawab, “Sesungguhnya Adam a.s pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia memperlihatkan kepadanya para nabi dari keturunannya, maka Allah menurunkan kepadanya gambar-gambar mereka. Gambar-gambar tersebut berada di dalam perbendaharaan Nabi Adam a.s. yang terletak di tempat tenggelamnya matahari. Kemudian dikeluarkan oleh Zul-Qarnain dari tempat penyimpanannya di tempat tenggelamnya matahari, lalu Zul-Qarnain menyerahkannya kepada Nabi Danial a.s.”
Kemudian raja berkata, “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya peribadiku suka bila keluar dari kerajaanku, dan sesungguhnya aku nanti akan menjadi orang yang memiliki kerajaan yang paling kecil di antara kalian hingga aku mati.”
Lalu raja memberikan kami hadiah dan ternyata hadiah yang diberikan-nya sangat baik, lalu dia melepas kami pulang. Ketika kami sampai pada Khalifah Abu Bakar As-Siddiq r.a, kami ceritakan kepadanya semua yang telah kami lihat, demikian pula perkataan raja serta hadiah yang diberikannya kepada kami. Maka Abu Bakar menangis dan berkata, “Kasihan dia. Seandainya Allah menghendaki kebaikan baginya, nescaya dia melakukannya (masuk Islam).”
Kemudian Abu Bakar As-Siddiq berkata, “Telah menceritakan kepada kami Rasulullah S.a.w, bahawa mereka (orang-orang Nasrani) dan orang-orang Yahudi menjumpai sifat Nabi Muhammad S.a.w pada kitab yang ada pada mereka.”
Perkara yang sama telah diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalaailun Nubuwwah, dari Al-Hakim secara ijazah, lalu dia menuturkan kisah tersebut, sanad dari kisah ini tidak ada celanya.
Sahabat melihat gambar Nabi Muhammad S.a.w bersama Abu Bakr r.a
Al-Hafiz Abul Qasim at-Thabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Idris ibnu Warraq ibnul Humaidi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Ibrahim (salah seorang anak lelaki Jubair ibnu Mut’im) yang mengatakan bahawa telah menceritakan kepadaku Ummu Usman, anak perempuan Sa’id (iaitu nenekku). Dari ayahnya (Sa’id ibnu Muhammad ibnu Jubair), dari ayahnya (Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut’im) yang menceritakan, “Pada suatu hari dia berangkat menuju negeri Syam untuk berniaga. Ketika sampai di dataran rendah negeri Syam,saya ditemui oleh seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab. Lelaki Ahli Kitab itu berkata, “Apakah di kalangan kalian terdapat seorang lelaki yang menjadi nabi?” Saya menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah engkau mengenalnya jika aku perlihatkan gambarnya kepadamu?” Saya menjawab, “Ya. Lalu dia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya banyak terdapat gambar, tetapi saya tidak melihat gambar Nabi S.a.w.
th
Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba masuklah seorang lelaki, lalu bertanya, “Sedang buat apakah kalian?” Maka kami ceritakan kepadanya perihal urusan kami. Lalu lelaki yang baru datang ini mengajak kami ke rumahnya. Ketika saya memasuki rumahnya, saya melihat gambar Nabi S.a.w, dan ternyata dalam gambar itu terdapat gambar seorang lelaki yang sedang memegang tumit Nabi S.a.w. Saya bertanya, “Siapakah lelaki yang sedang memegang tumitnya?” Dia menjawab, “Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun melainkan sesudahnya ada nabi yang lain. Kecuali nabi ini, kerana sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahnya, dan lelaki yang memegang tumitnya ini adalah khalifah sesudahnya.” Dan ternyata gambar lelaki itu sama dengan Abu Bakar r.a.”
[Imam Ibnu Katsir – Tafsir Ibnu Katsir , Surah al-A’raaf : ayat 157]
Wallahu a’lam.
(Rujukan: http://unikversiti.blogspot.com/)

Siri Peperangan Rasullullah SAW

Umum mengetahui, antara faktor kejayaan penguasaan Islam ke atas dunia pada suatu masa dahulu adalah menerusi peperangan / jihad fi sabilillah. Bermula dari episod penghijrahan Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah, tempoh 10 tahun sebelum kewafatan baginda banyak dipenuhkan dengan siri-siri peperangan yang pelbagai.

Di sisi ulama’ Sirah, ilmu peperangan Rasulullah ‘Alaihi Salam dikenali sebagai ‘ilmu al-Maghazi’. Ilmu ini dihafal dan dipelihara dengan bersungguh-sungguh oleh para sahabat, kemudian diajarkan kepada generasi Salafus Soleh yang hidup selepas mereka. Ilmu ini tidak boleh dilupakan oleh umat Islam pada mana-mana generasi pun, kerana musuh Islam sentiasa mengintai peluang-peluang untuk melancarkan perang ke atas Islam, baik pelancaran perang bersenjata atau serangan pemikiran (Ghazwatul Fikr).

Telah berkata salah seorang daripada Salafus Soleh yang terkenal – Zainal Abidin Ali bin Hussein (cucu kepada sahabat – Saidina Ali) ; “Kami di ajar berkenaan Maghazi (kisah-kisah peperangan) Rasulullah sepertimana kami diajar surah-surah dari Al-quran”.

Sepanjang hayat baginda, Rasulullah ‘Alaihi Salam telah memimpin sebanyak 28 Ghazwah*. 9 daripadanya berlaku pertembungan dengan pihak musuh, iaitu perang Badar, Uhud, al-Muraisi’, Ahzab, Quraizah, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain dan Thoif. Manakala 19 lagi tidak berlaku pertembungan disebabkan musuh melarikan diri.

Namun begitu, siri peperangan di dalam sejarah Islam tidak terhad kepada itu sahaja. Rasulullah telah mengutuskan labih daripada 50 Sariyah*. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauzi, bilangan Sariyah jika dicampurkan dengan Bi’sah* hampir menjangkau 60 semuanya.

*Ghazwah : peperangan yang dihadiri oleh Rasulullah, dan baginda bertindak sebagai Amir (panglima).

*Sariyah : peperangan yang tidak dihadiri oleh Rasulullah, tetapi baginda melantik Amir untuk mengetuainya.

*Bi’sah : delegasi atau utusan yang dihantar oleh Rasulullah kerana sesuatu urusan.

Jika dihitung, jumlah peperangan yang diharungi oleh Rasulullah dan para sahabat (merangkumi Ghuzwah, Sariyah, dan Bi’sah) mencapai kiraan 80 kali. Dan purata tahunan generasi wahyu Ilahi tersebut berperang adalah sebanyak tujuh atau lapan kali setahun. MasyaAllah.

Jika diintai kalimah ‘jihad’ dari sudut bahasa, maknanya kuasa, upaya, sukar dan payah. Namun dari sudut isltilah, secara umumnya jihad memberi makna; “Segala daya usaha, segenap kekuatan yang dicurahkan untuk menegakkan hukum atau perintah Allah di atas muka bumi ini dan membersihkan segala Thagut yang menjadi penghalang kepada jalan dakwah”.

Jihad Umum ini mengandungi semua jenis jihad termasuklah jihad mali (harta), jihad tablighi (menyampaikan dakwah), jihad ta’limi (pembelajaran), jihad siyasi (politik) dan jihad qital (peperangan).

Tidak dinafikan terdapat pelbagai bentuk takrifan jihad di sisi ulama’. Adapun jihad dengan pengertiannya yang khusus diertikan sebagai qital fi sabilillah (berperang di jalan Allah) semata-mata mengharapkan keredhaan Allah tanpa ada sedikitpun tujuan duniawi.

Untuk itu, tiada alasan lagi untuk kita lari daripada Jihad. Rasulullah ‘Alaihi Salam telah menyatakan sabdanya menerusi riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah;

مَن ماتَ ولمْ يغزُ، ولم يُحَدِّثْ به نفسَهُ، ماتَ على شُعبةٍ من نِفاقٍ

Maksudnya : “Sesiapa yang mati dalam keadaan tidak berperang dan tidak pernah berkata pada dirinya untuk berperang (yakni berniat untuk berperang memepertahankan Islam), maka matinya itu satu cabang dari mati Munafiq”. Na’uzubillahi min zalik.

Kesan jihad Rasulullah ‘Alaihi Salam, seluruh tanah Arab telah berjaya disatukan di bawah panji-panji Islam. Pejuang Islam tika itu sangat digeruni bukan sahaja di sekitar Tanah Arab, malah mencakupi dua kuasa besar dunia pada masa itu iaitu Empayar Rom dan Parsi.

Perginya kekasih Allah menyambut seruan Ilahi. Namun roh, semangat dan perjuangan baginda ‘Alaihi Salam diteruskan oleh generasi mendatang sehingga Islam pernah menakluk 2 per 3 dunia. Penguasaan Islam melebar dari Timur ke Barat (China ke Perancis) dan dari Utara ke Selatan (Siberia ke Lautan Hindi). Semua ini disebabkan izzahnya (mulia) individu muslim dengan keagungan Islam.


Perang Badar

Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Rasulullah SAW berangkat bersama tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170 kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi.

Sementara jumlah pasukan kafir Quraisy sepuluh kali lipat. Tak kurang seribu tiga ratusan prajurit. Dengan seratus kuda dan enam ratus perisai, serta onta yang jumlahnya tak diketahui secara pasti, dan dipimpin langsung oleh Abu Jahal bin Hisyam. Sedangkan pendanaan perang ditanggung langsung oleh sembilan pemimpin Quraisy. Setiap hari, mereka menyembelih sekitar sembilan atau sepuluh ekor unta.

Perang Uhud


Kekalahan di Badar menanamkan dendam mendalam di hati kaum kafir Quraisy. Mereka pun keluar ke bukit Uhud hendak menyerbu kaum Muslimin. Pasukan Islam berangkat dengan kekuatan sekitar seribu orang prajurit, seratus diantaranya menggunakan baju besi, dan lima puluh lainnya menunggang kuda.

Di sebuah tempat bernama asy-Syauth, kaum muslimin melakukan shalat subuh. Tempat ini sangat dekat dengan musuh sehingga mereka bisa dengan mudah saling melihat. Ternyata pasukan musuh berjumlah sangat banyak. Mereka berkekuatan tiga ribu tentara, terdiri dari orang-orang Quraisy dan sekutunya. Mereka juga memiliki tiga ribu onta, dua ratus ekor kuda dan tujuh ratus buah baju besi.

Pada kondisi sulit itu, Abdullah bin Ubay, sang munafiq, berkhianat dengan membujuk kaum muslimin untuk kembali ke Madinah. Sepertiga pasukan, atau sekitar tiga ratus prajurit akhirnya mundur. Abdullah bin Ubay mengatakan, “Kami tidak tahu, mengapa kami membunuh diri kami sendiri?”

Setelah kemunduran tiga ratus prajurit tersebut, Rasulullah melakukan konsolidasi dengan sisa pasukan yang jumlahnya sekitar tujuh ratus prrajurit untuk melanjutkan perang. Allah memberi mereka kemenangan, meski awalnya sempat kocar-kacir.

Perang Mu’tah

Perang Mu’tah merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Pemicu perang Mu’tah adalah pembunuhan utusan Rasulullah bernama al-Harits bin Umair yang diperintahkan menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam, ditangkap dan dipenggal lehemya. Untuk perang ini, Rasulullah mempersiapkan pasukan berkekuatan tiga ribu prajurit. Inilah pasukan Islam terbesar pada waktu itu.

Mereka bergerak ke arah utara dan beristirahat di Mu’an. Saat itulah mereka memperoleh informasi bahwa Heraklius telah berada di salah satu bagian wilayah Balqa dengan kekuatan sekitar seratus ribu prajurit Romawi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari pasukan Lakhm, Judzam, Balqin dan Bahra kurang lebih seratus ribu prajurit. Jadi total kekuatan mereka adalah dua ratus ribu prajurit.

Perang Ahzab

Dua puluh pimpinan Yahudi bani Nadhir datang ke Makkah untuk melakukan provokasi agar kaum kafir mau bersatu untuk menumpas kaum muslimin. Pimpinan Yahudi bani Nadhir juga mendatangi Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk melakukan apa yang mereka serukan pada orang Quraisy. Selanjutnya mereka mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah untuk melakukan hal yang sama. Semua kelompok itu akhirnya sepakat untuk bergabung dan menghabisi kaum muslimin di Madinah sampai ke akar-akarnya. Jumlah keseluruhan pasukan Ahzab (sekutu) adalah sekitar sepuluh ribu prajurit. Jumlah itu disebutkan dalam kitab sirah adalah lebih banyak ketimbang jumlah orang-orang yang tinggal di Madinah secara keseluruhan, termasuk wanita, anak-anak, pemuda dan orang tua. Menghadapi kekuatan yang sangat besar ini, atas ide Salman al-Farisi, kaum muslimin menggunakan strategi penggalian parit untuk menghalangi sampainya pasukan musuh ke wilayah Madinah.

Perang Tabuk

Romawi memiliki kekuatan militer paling besar pada saat itu. Perang Tabuk merupakan kelanjutan dari perang Mu’tah. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dan raja Ghassan. Informasi tentang jumlah pasukan yang dihimpun adalah sekitar empat puluh ribu personil. Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.

Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah saw. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Abbas datang menyerahkan harta yang cukup banyak. Thalhah, Sa’d bin Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah, semuanya datang memberikan sedekahnya. Ashim bin Adi datang dengan menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma dan diikuti oleh para sahabat yang lain.

Jumlah pasukan Islam yang terkumpul sebenarnya cukup besar, tiga puluh ribu personil. Tapi mereka minim perlengkapan perang. Bekal makanan dan kendaraan yang ada masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah pasukan. Setiap delapan belas orang mendapat jatah satu onta yang mereka kendarai secara bergantian. Berulangkali mereka memakan dedaunan sehingga bibir mereka rusak. Mereka terpaksa menyembelih unta, meski jumlahnya sedikit, agar dapat meminum air yang terdapat dalam kantong air onta tersebut. Oleh karena itu, pasukan ini dinamakan jaisyul usrrah, atau pasukan yang berada dalam kesulitan.

Kisah-kisah di atas, adalah kisah tentang kiprah kader-kader inti perjuangan Islam. Bersama (pertolongan) Allah mereka mengukir prestasi gemilang yang selalu dikenang sepanjang masa.

Allahuakbar!!!

(Rujukan: http://mukhlisahfillah.blogspot.com dan http://muchammadelri.wordpress.com)

 

Kisah Wali Allah dituduh Pencuri

Kisah ini di ceritakan oleh  Zin-Nun rahimahlah di mana pada suatu hari beliau bercadang untuk pergi ke seberang laut untuk mencari barang yang di hajatinya.  Setelah persiapan diatur, beliau telah membeli tiket untuk menaiki kapal untuk menuju ke tempat yang dihajatinya.  Kapal yang di naiki oleh Zin-Nun penuh sesak dengan orang ramai. Di antara penumpang-penumpang yang menaiki kapal tersebut, ada seorang pemuda yang sangat kacak paras rupanya, wajahnya bersinar cahaya.  Pemuda itu duduk di tempat duduk dengan tenang sekali, tidak seperti penumpang lain yang kebanyakkannya mudar-mandir di atas kapal itu.

Keadaan di dalam kapal tersebut agak panas kerana suasana di dalam kapal tersebut penuh sesak dengan orang ramai.  Pada peringkat permulaan pelayaran, keadaannya berjalan dengan lancar sekali kerana keadaan laut tidak bergelombang dan angain bertiup tidak terlalu kencang.  Suasana di dalam kapal ketika itu sangat tenang, kerana penumpang dengan hal masing-masing, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan pengumuman yang di buat oleh kapten kapal tersebut bahawa dia telah kehilangan satu barang yang sangat berharga.  Satu pemeriksaan akan dijalankan sedikit masa lagi.  Semua penumpang di ingatkan supaya duduk di tempat masing-masing.

Keadaan di dalam kapal tersebut telah menjadi hingar-bingar kerana penumpang sibuk bercakap dan berpandangan di antara satu sama lain. Masing-masing membuat andaian tersendiri mengenai kehilangan barang tersebut.  Tidak berapa lama kemudian, pemeriksaan di lakukan seorang demi seorang, semua beg,  barang-barang digelidah tetapi tidak  menjumpai barang yang di cari.  Akhirnya sampai kepada pemuda yang disebutkan oleh Zin- Nun.  Oleh kerana pemuda itu orang terakhir yang di periksa, pada anggapan orang ramai dan pegawai pemeriksa sudah tentu pemuda ini yang mencuri barang tersebut. Maka pemuda itu di perlakukan dengan kasar sekali di dalam pemeriksaan tersebut, pemuda itu memprotes di atas tindakan kasar yang di lakukan oleh pegawai pemeriksa sambil berkata, bahawa dia bukannya seorang pencuri,  Dengan protes tersebut, ia menambahkan lagi syak wasangka pegawai dan kapten tersebut.

niagara-falls

Oleh kerana tidak tahan dengan kekasaran yang di lakukan oleh pemeriksa tersebut, maka pemuda itu terjun ke laut, yang menghairankan orang ramai yang memerhatikan tingkah laku pemuda itu ialah pemuda itu tidak tenggelam di dalam laut, mala ia duduk di atas permukaan air.  Pemuda itu berdoa kepada Allah dengan suara yang keras sekali “Ya Allah, mereka sekalian menuduhku pencuri, demi ZatMu, wahai tuhan yang membela orang teraniaya, perintahkan ikan-ikan di laut supaya timbul dan membawa permata-mata berharga di mulutnya”.

Tidak lama kemudian, dengan kuasa Allah beribu-ribu ikan timbul dan kelihatan di mulutnya batu-batu permata yang berkilauan cahayanya.  Semua orang yang berada di atas kapal bersorak dan menepuk tangan kepada pemuda itu.  kapten kapal dan pegawainya sungguh terperanjat dan bingung seolah-oleh tidak percaya apa yang telah mereka telah lihat.

Pemuda itu berkata “Apakah kamu sekalian masih menuduhku sebagai pencuri pada hal perbendaharaan Allah ada di tanganku dan jika mahu aku boleh mengambilnya”.  Kemudian pemuda itu menyuruh ikan-ikan tersebut kembali ke tempat asal mereka dan pemuda itu berdiri dan berlari di atas air dengan cepat sekali sambil menyebut ayat ke- 4 surah Al Fatihah yang bermaksud ‘Hanya kepada Mulah aku menyembah dan hanya kepada Mu pula aku meminta bantuan’.

 

(Rujukan: http://members.tripod.com/isma_il/mencuri.htm)

Kisah Sultan Mesir jadi orang buangan

Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran. Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan, pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya, dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali, mengalami pelbagai kejadian lain–dan dikembalikan ke kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya tidak masuk akal. Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak memuaskan raja.

Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,”Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian. Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal, yang dangkal dan terbatas.”

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.

“Lupakan saja, tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.

Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak ada seorang perajurit pun yang tampak. Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.

“Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa,” kata Syeh itu. Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api sama sekali.

Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu tak ada. Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja. Segera setelah Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin membalas dendam.

Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada seorang tukang besi yang melihatnya gelandangan, dan bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya, “Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini. Ayo, ikut aku.”

Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.

Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila berada di jalan.

Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun diperdengarkan. Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu: sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya. Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.

Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia disarankan pergi ke pasar menjadi kuli. Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawainya.

“Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat” teriak Sultan. “Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa, hingga berani melakukan hal itu terhadapku?”

“Tetapi kejadian itu hanya sesaat,” kata guru Sufi tersebut, “yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu.” Para pegawai membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak mempercayai sepatah katapun. Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu. Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi, Syeh pun
menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat). Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:

“Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum
habis isinya?

Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu. Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali. Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna.”

Catatan

Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh arti, masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau pendengarnya. Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di kalangan Sufi, menekankan nasehat Muhammad, “Berbicaralah kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya.” Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: “Tunjukkan hal yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang ‘diketahui’ khalayak.”

Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama “Buku Hu” dalam kumpulan Nawab Sardhana, tahun 1596.

Kisah Nabi Daud AS dan Ulat Merah

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghozali menceritakan pada suatu hari ketika Nabi Daud AS sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia melihat seekor ulat merah pada debu. Lalu Nabi Daud AS. berkata pada dirinya, “Apa yang dikehendaki Alloh terhadap ulat ini?”

Sesaat saja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Alloh pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mulai berkata-kata kepada Nabi Daud AS, “Wahai Nabi Alloh! Alloh SWT telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallohu walhamdulillahi walaa ilaaha illallohu wallohu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Alloh mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allohummaa solli alaa Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.”

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud AS “Apakah yang dapat engkau katakan kepadaku agar aku dapat manfaat darimu?”

Akhirnya Nabi Daud menyadari akan kekhilafannya karena memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Alloh SWT maka Nabi Daud AS pun bertaubat dan menyerah diri kepada Alloh SWT. Begitulah sikap para Nabi AS apabila mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Alloh SWT.

Kisah-kisah yang berlaku pada zaman para nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk ciptaan Alloh yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.