Solat Sunat yang Dituntut

Sebagai seorang Muslim, sememangnya dituntut untuk melakukan banyak amalan-amalan sunat sebagaibonus tambahan kepada amalan-amalan wajib. Untuk fakta, terdapat beberapa solat sunat yang sangat dituntut untuk dilakukan (muakad). Kejayaan menunaikannya dengan konsisten, ikhlas, khusyuk dan tawadho’ dijanjikan dengan pahala dan fadhilat yang besar di sisi Allah. Antara solat-solat sunat muakad, yang sangat dituntut untuk dilakukan setiap hari adalah:

1. Solat Sunat Rawatib (10 Rakaat)

Dari Ibnu Umar r.a. berkata, “Aku menjaga 10 rakaat dari Nabi s.a.w.; 2 rakaat sebelum solat Zuhur, 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat sesudah solat Maghrib, 2 rakaat sesudah solat Isyak dan 2 rakaat sebelum solat Subuh (solat sunat Fajar).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

‘Aisyah r.a. dalam sebuah hadis menyatakan, “Tidak ada nafilah (solat sunat) yang sangat dijaga pelaksanaannya oleh Nabi s.a.w. melebihi dua rakaat solat sebelum Fajar.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ada ulama’ yang mengatakan bahawa solat sunat Fajar dan solat sunat Qabliyyah Subuh adalah solat yang sama, ada juga yang berpendapat mereka adalah dua solat yang berbeza. Wallahu’alam.


2. Solat Sunat Dhuha (2 Rakaat)

Daripada Abu Hurairah r.a., sabda Nabi s.a.w., “Telah berpesan kepadaku temanku (Rasulullah s.a.w.) tiga macam pesanan; puasa 3 hari setiap bulan, sembahyang Dhuha 2 rakaat dan sembahyang witir sebelum tidur.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Waktu mengerjakannya adalah ketika matahari sedang naik (selepas matahari terbit hingga sebelum matahari tegak di atas kepala).

3. Solat Sunat Witir (1 Rakaat)

Sebuah hadis berbunyi, “Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), dan Dia menyukai witir. Maka lazimkanlah solat witir, wahai ahli Al-Quran.” (Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Ditunaikan sekurang-kurangnya satu rakaat sebelum tidur.

 

4. Solat Sunat Tahajjud (2 Rakaat)

“Dan bangunlah pada sebahagian malam serta kerjakanlah tahajjud di waktu itu sebagai solat tambahan, semoga Tuhanmu membangkit dan menempatkanmu pada hari akhirat di tempat terpuji.”(Surah al-Isra’: 79)

 


5. Solat Sunat Taubat (2 Rakaat)

Dari Ali k.w.j., bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tidaklah seseorang melakukan perbuatan dosa lalu dia bangun dan bersuci, kemudian mengerjakan solat, dan setelah itu memohon keampunan kepada Allah melainkan Allah akan memberikan keampunan kepadanya.” (Riwayat at-Tirmidzi)

Manusia tidak pernah daripada melakukan dosa dalam sehari. Seelok-eloknya ditunaikan sebelum tidur.


Jika dihitung, jumlah rakaat solat-solat sunat adalah 17 rakaat, bersamaan dengan jumlah rakaat solat-solat wajib. Tujuan ditunaikan solat-solat sunat adalah untuk ‘menampal’ mana-mana kecacatan yang terjadi dalam solat-solat wajib yang kita kerjakan. Umpama kain yang koyak ditampal dengan cebisan kain yang sama, begitulah juga solat yang ‘cacat’ akibat kelemahan dan kelalaian kita ‘ditampal’ dengan solat-solat sunat.

Waktu-waktu Yang Dilarang Solat

1. Habis waktu solat Subuh hingga matahari terbit.
2. Ketika matahari sedang terbit.
3. Ketika matahari tegak di atas kepala.
4. Habis waktu Asar hingga matahari terbenam.
5. Ketika matahari terbenam.

Sama-samalah kita berusaha mencari keredhaan-Nya.

Islam itu indah, indahkan hidupmu dengannya.

 

(Rujukan: http://izzuddinmohd.blogspot.com/)

Keutamaan Istighfar (memohon ampunan Allah SWT)

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat”. (Hud: 3)

Tercatat ada empat ayat di dalam surat Hud yang menyebut perintah beristighfar, yaitu pertama ayat 3 di atas, ayat 52, 61, dan 90. Bahkan yang menarik, bahwa secara korelatif, perintah beristighfar pada ayat-ayat tersebut diawali dengan perintah menyembah dan mengabdi semata-mata kepada Allah, seperti dalam surat Hud: 2 misalnya,

Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira kepadamu daripada-Nya” (Hud: 2).

Betapa tinggi nilai perintah beristighfar sehingga selalu berdampingan dengan perintah beribadah kepadaNya. Sehingga merupakan satu kewajiban sekaligus kebutuhan seorang hamba kepada Allah swt karena secara fithrah memang manusia tidak akan bisa mengelak dari melakukan dosa dan kesalahan sepanjang hidupnya. Peluang ampunan ini merupakan anugerah rahmat yang terbesar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

BswbgrCnwP_CfU-5Kdiw2E_EUYXstBNZJ7rYcA0JRC-uR5omb9OztA==

Terkait dengan hal ini, kebiasaan beristighfar mereflesikan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya dan pengakuan akan Ke-Maha Pengampunan Allah swt. Istighfar juga merupakan cermin dari sebuah akidah yang mantap akan kesediaan Allah membuka pintu ampunannya sepanjang siang dan malam. Rasulullah bersabda,

 “Sesungguhnya Allah senantiasa membuka tanganNya di siang hari untuk memberi ampunan kepada hambaNya yang melakukan dosa di malam hari, begitu pula Allah swt senatiasa membuka tangan-Nya di malam hari untuk memberi ampunan bagi hamba-Nya yang melakukan dosa di siang hari”.

Catatan lain yang bisa dikaji adalah bahwa perintah beristighfar di dalam Al-Qur’an juga selalu beriringan dengan perintah bertaubat,” Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatkepada-Nya.

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir mengemukakan rahasia penggabungan perintah beristighfar dan bertaubat pada kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an bahwa tidak ada jalan untuk meraih ampunan Allah swt melainkan dengan menunjukkan perilaku dan sikap “taubat” yang diimplementasikan dengan penyesalan akan kesalahan masa lalu, melepas ikatan-ikatan (jaringan) kemaksiatan dalam segala bentuk dan sarananya serta tekad yang tulus dan jujur untuk tidak mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dosa di masa yang akan datang. Dalam kaitan ini, taubat merupakan penyempurna dari istighfar seseorang agar diterima oleh Allah swt.

Secara aplikatif, kebiasaan beristighfar sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Tercatat dalam sebuat riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah (memberi pelajaran kepada umatnya) senantiasa beristighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali. Bahkan di riwayat Imam Bukhari beliau beristighfar setiap hari lebih dari 100 kali (Bukhari Muslim). Pelajaran yang diambil dari prilaku Rasulullah ini adalah bahwa beristighfar tidak harus menunggu setelah melakukan kesalahan, tetapi bagaimana hendaknya aktifitas ini berlangsung senantiasa menghiasi kehidupan sehari-hari kita tanpa terkecuali.

Para malaikat yang jelas tidak pernah melanggar perintah Allah justru senantiasa beristighfar memohon ampunan untuk orang-orang yang beriman sebagai sebuah pelajaran yang berharga bagi setiap hamba Allah yang beriman,

 “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mu’min: 7)

Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang istighfar, paling tidak terdapat empat keutamaan dan nilai dari amaliah istighfar dalam kehidupan seorang muslim:

  1. Istighfar merupakan cermin akan kesadaran diri orang-orang yang bertakwa. “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Ali Imran: 135)
  2. Istighfar merupakan sumber kekuatan umat. Kaum nabi Hud yang dikenal dengan kekuatan mereka yang luar biasa, masih diperintahkan oleh nabi mereka agar senantiasa beristighfar untuk menambah kekuatan mereka. “Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”. (Hud: 52). Bahkan Rasulullah dalam salah satu haditsnya menegaskan bahwa eksistensi sebuah umat ditentukan diantaranya dengan kesadaran mereka untuk selalu beristighfar, sehingga bukan merupakan aib dan tidak merugi orang-orang yang bersalah lantas ia menyadari kesalahannya dengan beristighfar memohon ampunan kepada Allah swt.
  3. Istighfar dapat menolak bencana dan menjadi salah satu sarana turunnya keberkahan dan rahmat Allah swt. Ibnu Katsir ketika menafasirkan surat Al-Anfal: 33 “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” menukil riwayat dari Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelemat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar”. Bahkan Ibnu Abbas menuturkan bahwa ungkapan istighfar meskipun keluar dari pelaku maksiat dapat mencegah dari beberapa kejahatan dan bahaya.
  4. Istighfar akan memudahkan urusan seseorang, memudahkan jalan mencari rizki dan memelihara seseorang. Dalam konteks ini, Ibnu katsir menafsirkan suarat Hud : 52 dengan menukil hadits Rasulullah saw yang bersabda, “Barangsiapa yang mampu mulazamah atau kontinyu dalam beristighfar, maka Allah akan menganugerahkan kebahagiaan dari setiap duka dan kesedihan yang menimpanya, memberi jalan keluar dari setiap kesempitan dan memberi rizki dengan cara yang tidak disangka-sangka”. (Ibnu Majah)

Demikianlah, pesan yang disampaikan oleh para nabiyullah kepada kaumnya sebagai salah satu solusi dari permasalahan mereka. Tentu istighfar yang dimaksud tidak hanya sekedar ucapan dengan lisan “astaghfirullah”, tetapi secara aplikatif sikap waspada, mawas diri dan berhati-hati dan bersikap dan berperilaku agar terhindar dari kesalahan. Dan jika terjermus ke dalam kemaksiatan segera sadar dan mampu bangkit dari kesalahan dengan bersungguh-sungguh bertaubat dalam arti menyuguhkan pengabdian dan karya yang lebih bermanfaat untuk umat. Wallahu’alam.

(Rujukan: http://bacaan-islami.blogspot.com/)

Kelebihan membaca Wirdul Lathiif dan Ratib al-Haddad

Tersebut di dalam al-Maslakul Qariib li Kulli Saalikin Muniib karya al-’Arifbillah al-Habib Thohir bin Husain bin Thohir رحمه الله تعالى

(Faedah) Jalan-jalan yang menyampaikan kepada Allah Ta`ala adalah sebanyak bilangan nafas segala makhluk. Semuanya dibina atas dasar al-istiqamah dan menuruti Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, mendidik jiwa dengan mensucikan dan membersihkannya daripada segala akhlak yang keji serta menghiasinya dengan akhlak – akhlak mulia, sehingga terpancar kepadanya segala anwar dan tersingkap segala asrar, sehingga mencapai setinggi-tinggi martabat ketaqwaan kepada Allah.

Di antara sebaik-baik jalan yang berterusan diamalkan sejak berzaman oleh para pengamal dengan istiqamah adalah thoriqah para Saadah ‘Alawiyyin (jalan para pemuka Bani ‘Alawi iaitu anak cucu Imam ‘Alawi bin ‘Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajirرحمهم الله تعالى) yang diasaskan atas dasar ilmu dan amal menurut apa yang diterangkan oleh al-Imam Hujjatul Islam al-Ghazali رحمه الله تعالى dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, khasnya pada pertengahan yang kedua daripada kitab tersebut, kerana beliau telah menerangkan padanya perkara-perkara yang memusnahkan (al-muhlikaat) dan yang menyelamatkan (al-munjiyyat). Dengan mengetahui perkara tersebut, dapatlah disucikan diri daripada sifat-sifat yang keji dan dihiaskannya dengan sifat-sifat yang mulia.

Di antara zikir-zikir yang paling elok bagi ahli thoriqah ini (yakni Thoriqah Saadah ‘Alawiyyin/Thoriqah Saadah Baa ‘Alawi) adalah segala zikir yang telah dikumpul oleh Quthubul Haqiqah wal Irsyad al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad رحمه الله تعالى. Antaranya apa yang beliau himpunkan dalam kitab Miftaahus Sa`aadah, di dalamnya beliau telah menghimpun kebanyakan zikir-zikir yang sahih yang warid daripada Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, di antaranya al-Wirdul Lathiif yang dibaca pagi dan petang, jika tidak berkelapangan maka memadai diamalkan pada waktu pagi sahaja. Faedah-faedah al-Wirdul Lathiif ini sangat banyak dan tidak terhingga, sesiapa yang membaca syarahnya dia akan melihat kelebihan faedah-faedahnya dan akan melaziminya dengan bersungguh-sungguh.

Dan di antaranya juga adalah ratibnya yang masyhur dengan nama Ratibul Haddad yang dibaca orang selepas sholat ‘Isya’. Ianya ringkas sahaja dengan bacaan-bacaan yang pendek tetapi mempunyai manfaat besar dan tidak terkira kelebihan dan keajaibannya. Dengan sebab keberkatannya, pengamal-pengamalnya akan menerima berbagai bantuan (madad) dan anugerah daripada Allah Ta’ala yang tidak putus-putus. Ratib ini bermanfaat bagi orang dewasa, kanak-kanak, golongan atasan, golongan bawahan, peringkat muntahi (peringkat kesudahan), peringkat mutawassith (peringkat pertengahan) dan juga peringkat mubtadi (peringkat permulaan). Sesiapa yang istiqamah mengamalkan ratib ini akan dikayakan Allah (yakni segala keperluannya akan dipenuhi Allah Ta’ala). Demikianlah penjelasan al-’Arifbillah al-Mannan, asy-Syaikh ‘Abdullah BaSaudan رحمه الله تعالى, yang mensyarahkan ratib tersebut.

Dan daripada zikir-zikir yang terbaik juga untuk diamalkan waktu petang dan pagi, yang mengandungi zikir-zikir yang warid daripada Junjungan Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, adalah apa yang terkandung dalam kitab al-Maslakul Qariib li kulli Saalikin Muniib susunan al-’Arifbillah al-Habib Thohir bin Husain bin Thohir Baa ‘Alawi . Kitab al-Maslak ini mempunyai banyak manfaat dan faedah-faedah yang masyhur. Sesiapa yang berterusan mengamalkannya, dia akan terpelihara daripada gangguan jin dan manusia dan daripada segala yang di langit dan di bumi. Pendeknya segala-galanya itu terletak atas dasar keikhlasan dan niat yang baik, maka apabila baik niat akan terhasillah natijahnya.

612bfb5e16cd

Sejarah Ratib Al-Haddad:

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.

Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah danMadinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.

Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W.  Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.

Demikianlah kelebihan ratib ini. Ratib yang dimaksudkan adalah seperti di bawah:

الراتب الشهير

للحبيب عبد الله بن علوي الحداد

Ratib Al Haddad

Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]

يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم – الفاتحة-

Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w

 

1.               بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ

1.                  Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.

 

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.:  “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.

Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”

2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ  وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.

2.                  Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.

(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)

 

Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.

 

3.      آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.

 

3.         Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain”.  Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”

(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)

Diriwayatkan daripada Abu Mas’ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.

 

4.      لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ  قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ  تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

4.     Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”

(Surah 2: al-Baqarah  Ayat 286)

 

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya. 

 

5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.  (3X)

5.                  Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu  (3X)

 

Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”

 

6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (3X)

6.                  Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)

 

Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.

7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ.   (3X)

7.                  Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung. (3X)

 

Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda:  Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: ‘SubhanAllah al-Azim dan ‘SubhanAllah wa bihamdihi.’” 

 

8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (3X)

8.                  Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)

 

Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. 

Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90

9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)

9.                  Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan-Mu.    (3X)

 

Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.

10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (3X)

10.              Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)

 

Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda:  “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”

 

11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ.(3X)

11.              Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)

 

Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”

 

12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (3X)

12.              Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami.            (3X)

 

Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”

 

13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (3X)

13.              Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah.             (3X)

 

Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar.  Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.

 

14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (3X)

14.              Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir. (3X)

 

Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.

Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”

 

15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (3X)

15.              Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami.      (3X)

 

Dari Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan 

Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

 

16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (7X)

16.              Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam . (7X)

 

Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.

Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.

 

17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ  إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)

17.              Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim. (3X)

 

Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.

 

18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)

18.              Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka menggangu.   (3X)

 

Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.

 

19. يـَا عَلِيُّ   يـَا كَبِيْرُ      يـَا  عَلِيْمُ  يـَا قَدِيْرُ

يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ     يـَا لَطِيْفُ  يـَا خَبِيْرُ.    (3X)

19.              Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui            (3X)

 

Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu.

 

20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (3X)

20.              Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya.      (3X)

 

Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.

 

21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)

21.              Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan.     (4X)

 

Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah keampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”

 

22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X)

22.              Tiada Tuhan Melainkan Allah  (50X)

 

Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”

 

23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

23.              Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta’ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.

 

24.                   بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ.  (3X)

24.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya.  Surah Al-Ikhlas (3X)

 

Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

Dari Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).

 

25.                            بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

25.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.

Surah Al-Falaq

 

Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.

 

26.                            بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ،  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

26.              Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”.     Surah An-Nas

 

Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.

 

27.                                          اَلْفَاتِحَةَ

 إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

27.              Bacalah Al-fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali Ba’alawi, dan kepada asal-usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga-moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.

28.                                          اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ – أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

28.              Bacalah al-fatihah kepada roh-roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.

 

29.                                          اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

29.              Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad, Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal-usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.

 

30.                                          اَلْفَاتِحَة

إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ

30.              Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampuni mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.

 oCKCBdA1jQ1FNphoGczntUJ4RyZdmy5VbkhhCgtiAXg=

31. (ويدعو القارئ):

31.              Berdoalah disini apa yang di hajati. :

اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi-Nya atas penambahan nikmat-Nya kepada kami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kami dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang  Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.

 

 

32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ.    (3X)

32.              Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keredhaan dan syurga-Mu; dan kami memohon perlindungan-Mu dari kemarahan-Mu dan api neraka.  (3X)

 

Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”

 

انتهى الراتب الشهير

Tamat Ratib Al-Haddad

(Rujukan: http://www.alhawi.net/ dan http://pondokhabib.wordpress.com/)

Makna di sebalik kita – Bab 1

Hidup ini penuh dengan duri ranjau tidak bertepi. Entah bilakah berakhirnya segala bebanan dan kesulitan. Bila diingatkan balik, alangkah eloknya jika ketika kita berada di usia muda, kita tidak melakukan kesilapan dan kesalahan. Kadang-kadang hukum karma, baik dibalas baik, jahat dibalas jahat, itu tidak boleh dipakai. Persoalannya sekarang, adakah jika berbuat baik pada seseorang yang sudah kita anggap adik beradik, maka dia juga akan berbuat baik kepada kita? Dan adakah kita berbuat jahat pada seseorang, makanya dia pun akan berbuat jahat pada kita?

Persetankan itu semua. Zaman sekarang lebih banyak syaitan bertopengkan manusia, dan sebaliknya, manusia bertopengkan syaitan. Kita mahu yang mana? Kehidupan yang senang dan serba mewah memanglah menjadi idaman dan cita-cita setiap insan. Namun, pernahkah kita terfikir, adakah bila kita senang dan kaya raya, kehidupan kita akan senang zahir dan batin? Mengapa agaknya Nabi SAW menolak untuk dijadikan raja yang kaya raya ketika pada mula-mula baginda diangkat menjadi Nabi dan Rasul? Begitu banyak pertanyaan dan persoalan yang difikirkan. Begitu banyak kesulitan dan kekusutan yang perlu diuraikan. Namun semakin ingin diuraikan kekusutan itu, maka ia menjadi semakin berbelit. Semakin rumit.

Kita mula menjadi sedar. Kita mula teringat kembali firman dari Yang Maha Esa, Allah tidak akan menguji sesuatu kaum itu dengan perkara yang dia tidak sanggup hadapinya. Ya, itu kata-kata Allah Azzawajalla. Maka kita semakin yakin, kita mampu menyelesaikan segala kerumitan dan permasalahan yang diuji. Allah SWT tidak zalim pada hambanya. Kita mampu tempuh, kerana itu kita diuji. Orang lain waimah ayahanda kita pun tidak diuji seperti kita diuji. Kita cukup bertawakkal disusuli dengan usaha yang tidak henti-henti. Mudah-mudahan ada sinar harapan untuk menjumpai jalan penyelesaian kesulitan ini.

Kita tidak seperti org lain. Org lain normal kehidupannya. Kita tidak normal walaupun zahir kita normal. Kita selalu membayangkan tejumpanya ‘anugerah’ dari Yang Maha Esa. Anugerah untuk mendapatkan rahmat dan hidayahnya menjumpai ‘kunci’ perbendaharaan bumi dan langit. Bilakah agaknya kita akan terjumpa? Dalam mimpi sudah ada alamat. Dalam berhidup sudah ada tanda. Namun, peliknya buah tidak jatuh-jatuh. Entahkan masak entahkan tidak buahnya. Adakah semua ini hasil dari sumpahan guru? Bagaimana guru begitu jugalah anak muridnya. Tidak banyak sedikit akan terkena calitnya. Kerana itu org tua pernah berpesan. Mencari guru jgn dicari yang susah melarat, kerana guru yang demikian akan mewujudkan anak murid yang begitu juga. Maka berguru jaga-jaga. Jangan sampai tersalah guru.

Penceritaan ini tidak akan habis. Peluahan ini tidak akan ada hujung tepinya. Mungkin ini suatu cara untuk mendapat ‘anugerah’ yang dinanti. Mudah mudahan tercapai jualah angan-angan Mat Jenin. Ya Allah, sesungguhnya kepada-Mu jualah aku berserah dan kepada-Mu jualah aku menyembah. Kita yakin dengan ketentuan Allah, dan kita terima dengan apa jua impaknya. Harapnya impak yang baik dan suci, hilang segala warna hitam diganti dengan jernihnya intan berlian. – bersambung

Tentang diri dan ‘Diri’ – Bab 3

Perbincangan tajuk ini adalah meliputi Ilmu Tahqiq yang menjadi puncak atau pati kepada Ilmu Usuluddin (Sifat 20, Ilmu Kalam, Ilmu Tauhid dsb). Kepada anda yang menghadapi masalah untuk memahaminya; sebaiknya mengadaplah guru-guru yang Alim dalam bidang ilmu ini(Usuluddin) . Anda mesti mengenali dan menguasai Ilmu Usuluddin terlebih dahalu sebelum boleh berkenalan dengan Ilmu Takqiq ini. Jika tidak, anda akan bermasalah, dan menemui masalah. Perbincangan tajuk ini dipaparkan hanya untuk ahli-ahlinya yang telah ‘clear’ ilmunya dengan:
• Sifat-sifat yang Wajib, yang Mustahil, Yang Harus bagi Allah
• Sifat Sifat Ketuhanan dan makna Ketuhanan
• Perbezaan makna Allah dan makna Ketuhanan
• Hakikat Ketuhanan
• Kenal Sifat Istigna’ dan Iftikor Allah dan perkara-perkara yang melazimi kedua-duanya.
• Boleh membezakan Itiqad Jabariah, Muktazilah, Qadairiah dan Ahli Sunnah Wal-Jammah (Imam Abu Hassan Ass’ari dan Imam Maturidhi)
• Boleh memahami pembahagian sifat-sifat Allah kepada Nafsiah, Salbiah, Maani dan Maknuwiyah.
• Menguasai Sifat-sifat Allah yang berada dalam Martabat Zat, Martabat Sifat, dan Martabat Asma.
• Tahu apa yang dinafikan dan diisbatkan dalam kalimah Syahadah.
• Faham dan jelas mengenai takluk-takluk semua sifat Maani.
• Perbezaam makna dan maksud antara ‘Itiqad dan Syuhud.
• Dan yang lain-lainnya berkaitan dengan pengajian Ilmu Usuluddin.

Jika tidak, abaikan dulu Martabat Tujuh ini dan alihkan usaha anda untuk menguasai Ilmu Usuluddin dahulu. Jika semua sudah ‘clear’ bagi anda silalah ikuti perbincangan di bawah.

Setengah daripada jalan mengenal Allah Taala itu ialah dengan mengetahui perjalanan Martabat Tujuh kerana adalah ia setengah daripada kaedah yang boleh menyampaikan kepada makrifat Allah Taala. Dengan ianya juga dapat mengetahui asal usul kejadian diri kita dan mengetahui Martabat Musyahadah yang dinamakan Syuhuudul Kashrah Fil Wahdah.

Martabat Pertama Ahdiah

Martabat Ahdiah yang dinamakan Martabat La Ta’Yun (martabat yang tiada nyata Hakikat Muhammadiah) dan dinamakn juga Zat Al-Mutlak atau Zat Al-Bakhat iaitu memandang dengan hati akan semata-mata Wujud Zat Allah Taala dengan tiada iktibar SifatNya dan AsmaNya dan AfaalNya dengan sekira-kira ghaib segala Alam dan dirinya(hamba) dengan memandang Allah Taala; tiada ingat dalam hatinya’ hanya Allah Taala jua. Dan martabat ini adalah Martabat Sifat Nafsiah(istilah Ilmu Usuluddin) kerana martabat Zat pada ulama Tahqiq daripada Ahli Tasauf. Dan tiada sampai kepada darjah martabat ini melainkan sentiasa berbimbang dengan zikir Allah kerana martabat ini Martabat Wahdatul-Wujud (Wujud yang Esa). Kata Sidi Mustaffa Al-Bakri Rahimallahi Taala;

“Ketahuilah olehmu bahawasanya jalan yang terlebih hampir makrifat kepada Allah Taala itu ialah Zikrullah; bahawasanya ahli zikir itu Ahli Allah dan dialah orang yang tertentu hampir dan kedudukan yang hampir dan martabat mereka itu ialah mertabat yang dipercayai Allah Taala rahsiaNya dan mencapai mereka itu dengan sebab yang demikian itu akan martabat orang-orang dahulu iaitu mereka yang dapat petunjuk dan jauh daripada jalan murka dan sesat”.

Martabat Kedua Wahdah

Martabat Wahdah yang dinamakan dia martabat Ta’Yun Awal (Nyata Yang Pertama) dan dinamakan juga Syu’un Zaatiah ertinya pekerjaan Zat dan dinamakan juga Hakikat Muhammadiah dan Syuhuudul Wahdah Fil Kasrah. Dan martabat ini adalah keadaan Sifat Maani yang tujuh kerana Sifat Maani itu martabat sifat. Martbat ini adalah ibarat daripada Ilmu Allah Taala dengan ZatNya dan segala SifatNya dan segala yang maujud atas jalan Ijmal iaitu tiada boleh dibezakan setengah dengan setengahnya dan takluk dalam martabat ini takluk Suluhi(Istilah Ilmu Usuluddin).

Martabat Ketiga Wahdiah

Martabat Wahdiah yang dinamakan dia Martabat Ta’yun Saani ertinya nyata yang kedua dan dinamakan juga A’Yan Sabitah dan Hakikat Insaaniah. Dan dalam ini takluk Ilmu dan Iradat adalah Takluk Tanjizi Qadim dan Taklum Iradat adalah Taklum Suluhi Qadim. Adapun martabat ini keadaan Sifat Maknuwiyah kerana Sifat Maknuwiyah adalah martabat Asma dan adalah martabat ini ibarat daripada ilmu Allah Taala dengan ZatNya dan sifatnya dan segala makhluk atas jalan perceraian dan perbezaan setengah dengan setengahnya. Maka tiga martabat {Ahdiah, Wahdah dan Wahdiah}ini Qadim lagi Azali kerana ia martabat yang dibangsakan kepada Ketuhanan. Adapun sekelian makhluk wujud di dalam Ilmu Allah jua belum zhohir kepada Wujud Khoriji.

Martabat Keempat Alam Arwah

Martabat Alam Arwah yang dinamakan dia Nur Muhammad SAW iaitu ibarat daripada keadaan suatu yang seni yang semata-mata belum menerima susunan dan belum boleh dibezakan.

Martabat Kelima Alam Mishal

Martabat Alam Mishal ini ibarat daripada suatu daripada suatu yang seni yang tiada menerima susunan dan tak boleh menceraikan setengah dengan setengahnya dan tiada menerima belah bahagi.

Martabat Keenam Alam Ijsam
Martabat Alam Ijsam ibarat daripada suatu yang bersusun daripada api, angin, air, tanah dan menerima bercerai setengah dengan setengahnya seperti segala jisim-jisim.

Martabat Ketujuh Alam Jamik
Martabat Al-Jamik dan dinamakan dia Martabat Insan.

Galaksi Andromeda

 

Peringatan

Adapun martabat yang pertama yakni Martabat Ahdiah ialah Martabat Al-Zhuhur iaitu martabat semata-mata wujud Zat Allah Taala; belum zhohir kenyataan Zat Allah Taala kepada yang lain, hanya semata-mata Wujud Zat Allah Taala jua dan dinamakan dia juga Martabat Qhaibil Mutlak kerana wujud Allah Taala pada martabat ini qhaib daripada akal dan pancaindera. Dan enam martabat lagi dinamakannya Martbat Al-Zhohir seperti Martabat Wahdah, dhohir Hakikat Muhammad yang dinamakannya Ta’yun Awal dan Martabat Wahdiah zhohir Hakikat Insaniah yang dinamakannya Ta’yun Awal. Dan tiga martabat ini adalah ialah martabat yang Wajib lagi Qadim.
Empat martabat yang kemudian iaitu Martabat Alam Arwah dan Martabat Alam Mithal dan Martabat Alam Ijsam dan Martabat Alam Insan maka sekeliannya itu Martabat Mumkin yang Hadis atau Makhluk (sesuatu yang baru yang menerima ada atau tiada). Mumkin yang Hadis(baru/suatu lain daripada Allah) ini wujud dalam tiga tempat iaitu;

1.Wujud dalam Martabat Ta’Yun Awal yakni Martabat Wahdah iaitu sabit dalam Ilmu Allah Taala atas jalan Ijamal yang dinamakan Wujud dalam martabat ini Wujud Suluhi dan Wujud Taqdiiri atau Syu’un Zaatiah seperti firman Allah dalam Surah Al-Rahman;29 yang bermaksud;

“Bermula Allah Taala pada tiap-tiap waktu Ia dalam memperbuat perbuatan”
iaitu Wujud Alam dalam martabat ini Wujud Taqdir dalam Ilmu Allah belum wujud pada Khoriji.

2. Wujud dalam Martbat Ta’Yun Thani yakni Martabat Wahdiah iaitu Wujud Taqdiiri yang sabit dalam Ilmu Allah Taala yang Tafsiili yang dinamakan wujud alam ini Wujud Suluhi atau A’Yan Sabitah iaitu sabit Taqdir segala Alam di dalam ilmu Allah Taala dengan perceraian dan perbezaan setengah akan setengahnya tetapi belum zohir wujudnya pada Khoriji.

3. Wujud pada Khorij yakni pada dhohir dinamakan dia Wujud Tanjizi dan A’Yan Khorijah dan Mumkin atau makhluk atau Alam Hadis seperti firman Allah dalam Hadis Qudsi yang bermaksud;

“Adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi; maka Aku suka bahawa Aku dikenali oleh hambaKu; maka Aku jadikan makhluk maka mengenal ia akan Aku.”
Adapun Alam yang Maujud pada Khorij itu empat alam iaitu;

1. Alam Arwah dinamakan dia Nur Muhammad SAW. seperti sabda Nabi SAW. yang bermaksud”Permulaan yang dijadikan oleh Allah Taala Nurku daripada NurNya(Allah)”. Inilah asal kejadian ruh makhluk.
2. Alam Mithal iaitu ibarat daripada perceraian ruh yang tersebut itu kerana asal Ruh itu satu jua. Maka apabila berbilang beberapa rupa yang berbeza dinamakan dia Alam Mithal. Ahli Tasauf buat contoh Alam Arwah seperti laut dan Alam Mithal itu seperti ombak yang di dalam laut itu. Maka ombak itu berbeza-beza pada rupanya dan pada asal dan hakikatnya satu jua iaitu laut. Demikianlah segala hakikat Ruh tiada berbilang-bilang ia, hanya berbilang-bilang rupa Alam Mithal jua.
Adapun Alam Arwah dan Alam Mithal tidak didapatkan dia dengan pancaindera yang lima yang zhohir ini melainkan didapatkannya dengan Nur Iman yang dipertaruhkan dalam hati hamba yang dikasihi kerana Alam Arwah dan Alam Mithal itu Nur. Maka tiada didapatkan Nur melainkan dengan Nur. Dinamakan Alam Arwah dan alam Mithal ini Alam Malakut dan Alam Qhaib. Dan dengan martabat ini dapat mengenal martabat yang tiga terdahulu yang Qadim itu. Apabila dapat mengenal tiga martabat yang Qadim ini, nescaya dapat mengenal Allat Taala dengan sebenar-benar pengenalan.
3. Alam Ijsam dinamakan dia Alam Mulki dan Alam Syahadah dan iaitu yang didapat dengan pancaindera lima yang zhohir.
4. Alam Insan iaitu manusia yang elok kejadiannya seperti firman Allah yang bermaksud; “Sesungguhnya Kami jadikan akan manusia itu seelok-elok kejadian” dan juga manusia adalah semulia-mulia makhluk Tuhan seperti firmanNya yang bermaksud, “Demi sesungguhnya Kami mempermuliakan anak cucu Adam.” Maka inilah dinamakan Insanul Kamil yang setengahnya sampai kepada Maqam Ambiya’ dan setengahnya kepada Maqam Aulia’ dan lain-lain lagi.

 

Bersambung di dalam bab yang lain.

(Rujukan Perjalanan Suluk)

Tentang diri dan ‘Diri’ – bab 2

Kejadian tubuh jasmani manusia itu mempunyai beberapa hikmah dan rahsia yang menyamai rahsia kejadian langit dan bumi. maka eloklah penulis cuba memberi gambaran perumpamaan dengan serba ringkas dalam Ilmu Tasrikh iaitu ilmu kejadian manusia.

  1. Bahawa manusia mempunyai 360 tulang yang menyamai dengan 360 darjah pada bulatan bumi.
  2. Manusia juga mempunyai 17 sendi yang besar-besar kerana lazim manusia jaga pada tiapa-tiap sehari semalam tujuh belas jam iaitu 3 jam pada awal malam dan 2 jam pada awal siang dan 12 jam pada masa siang. Maka dalam 17 jam inilah gerak-geri anggota yang 17 sendi itu melakukan kebajikan atau kejahatan; maka diwajibkan dan difardukan ke atas manusia mengerjakan sembahyang lima waktu dalam sehari semalam sebanyak 17 rekaat.
  3. Urat-urat besar dalam badan manusia berjumlah 12 urat iaitu jadi ibarat 12 bulan setahun dan 12 jam pada siang dan 12 jam pada malam.
  4. Dikatakan juga bilangan rambut manusia ada sebanyak 124 000 iaitu supaya mengingatkan bagi kita bilangan Nabi-nabi yang diikhtilafkan ulama sebanyak 124 000 orang dan banyak lagi rahsia-rahsia kejadian tubuh menasia yang sengaja ditinggalkan.

Pendek cakapnya tidak ada satu kejadian yang boleh menyamai dengan kejadian manusia pada nisbah elok dan baik perdiriannya dan mulia keadaannya dan tinggi darjatnya jika hendak dibandingkan dengan kejadian-kejadian yang lain seperti firman Allah dalam Surat Al-Tin;4 yang bermaksud:
“Demi sesungguhnya Kami jadikan manusia itu seelok-elok kejadian”
dan tidak ada satu kejadian yang diperintah oleh Allah Taala kepada malaikat supaya memberi hormat dan tahiyat melainkan manusia (Adam) dan juga menyebabkan syaitan dimurkai oleh Allah dan dikutuk akan dia kerana ingkar pada perintah Allah yang diperintahkan kepadanya supaya memberi hormat dan tahiyat kepada manusia (Adam). Dijadikan sekalian perkara ini untuk manusia dan dilengkapi pada manusia sifat Ma’ani yang tujuh kerana tempat menerima Asar (bekas) Sifat Ma’ani Qadim yang dinamakan Naskhah Al-Haq.

Apabila dimusyahadahkan akan kejadian diri samada diri yang zhohir atau diri yang batin, maka tak sampai akal manusia untuk memikirkannya seperti Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu. Maka sukar hendak memberi gambaran atau takrif yang mensifatkan daripada jenis apakah ianya.

Al-Quran memberi pengajaran sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Israk;85 yang bermaksud;

"Akan ditanya akan engkau hai Muhammad tentang ruh; Kata olehmu Ruh itu adalah daripada urusan Tuhanku".

Oleh kerana sukar hendak membuat takrif, maka digelar oleh orang-orang ‘Ariffin dengan nama Lathifatul Rabaaniyah.

Walau bagaimanapun, Imam Ghazali telah berjaya menghampirkan faham kepada makna dan rahsia ruh ini mengikut tingkat tertinggi kemampuan manusia dalam sebuah Kitabnya yang bernama “Risalatul li-Duniyyah”. Ikutilah kajian dan huraian yang dibuat secara ilmiah pada tajuk ini iaitu “Keistimewaan Ruh Insani” atau ikuti keseluruhan perbincangan tentang Ilmu Laduni yang diperolehi melalui ruh ini.

Ruh, Akal, Nafsu dan Qalbu pada hakikatnya adalah satu makna bahkan bersalahan pada mafhum maknanya jua. Maka Rasulullah membuat bandingan akan Qalbu sebagai raja yang memerintah yang ditaati oleh anggota-anggota lahir seperti sabdanya:

"Sesunguhnya dalam tubuh anak Adam itu ada seketul daging bila baik ia nescaya baiklah seluruh anggotanya dan bila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah itu adalah Qalbu [Riwayat Bukhari Muslim]"

Qalbu dibaratkan pemerintah atau raja yang ditaati oleh segala rakyat. Jika pemerintah atau raja itu baik, maka baiklah sekalian rakyatnya. Yakni hati apabila disucikan atau dibersihkan daripada karat-karat dosa dan maksiat dengan diasuh dan dididik mengikut jalan thorikat Sufiah dengan sentiasa bermujahadah, maka akan timbul pada hati itu sinaran cahaya Nur yang dipertaruhkan oleh Allah kepadanya. Inilah maksud Imam Ghazali dengan katanya;

"Adalah hati itu makbul disisi Allah Taala;jika sejahtera ia daripada barang yang lain daripada Allah".

Ini adalah diisyaratkan kepada hati yang bersih yang mempunyai pancaran Nur. Maka hasil atas segala anggota yang zhohir daripada ibadat atau lain daripada segala sifat-sifat Mahmudah. Sebaliknya jika hati itu dibiar yakni mengikut hawa nafsu dan sentiasa membuat derhaka dan maksiat, maka hati itu terhijab daripada Nur dan terdinding dengan sebab karat dosa. Inilah maksud kata Imam Ghazali dengan katanya;

"Dan adalah hati itu terdinding daripada Allah Taala jadilah ia karam dengan lain daripada Allah Taala, maka kejahatan dan celaka itu pun dhohir atas segala anggota sebab mesra daripada karat hati yang Zulumah."

Maka dengan sebab itulah bersungguh-sungguh guru-guru Ahli Tasauf melalui Thorikat yang dinamakan Ilmu Suluk kerana;

Tidak hasil kejernihan dan kesucian hati dengan tidak melalui Thorikat(Pengambilan Ilmu atau Amalan daripada guru)yang diterima daripada guru yang mursyid.

Dan tiada mengetahui kebaikan hati dan kejahatannya selagi tidak merasai "Zauk" kemanisan ibadat yang warid(dikurniakan oleh Allah) daripada hasil zikir dan;

Tiada boleh membeza antara yang hak dengan yang batil(makna sebenar hakikat makrifat disisi Ahli Muhaqqiqin) selagi belum dapat Ilham hasil daripadaNya dan;

Jauh sekali dari mengenal Tuhannya sebelum dapat Tajali dan Kashaf yang hasil daripadaNya.

Inti berinti

Dan tak dapat tidak, awal-awal mereka yang hendak mengenal Tuhannya dengan jalan Zauk dan Wujdan perlu mengenali dirinya dahulu.Seperti bahawa;

  • apabila mengenal dirinya bersifat dengan lemah nescaya mengenal Tuhannya bersifat dengan kuasa dan;
  • apabila mengenal dirinya bersifat dengan Papa nescaya mengenal TuhanNya bersifat dengan Kaya dan;
  • apabila mengenal dirinya bersifat dengan sifat Fana nescaya mengenal TuhanNya bersifat dengan Baqa dan;
  • apabila mengenal dirinya bersifat dengan baru nescaya mengenal TuhanNya bersifat dengan Qadim.

Adapun asal kejadian segala Ashyaa'(sesuatu yang dijadikan Allah) ini mengikut pendapat Sufiah dijadikan dia daripada Nur Muhammad manakala Nur Muhammad itu dijadikan daripada Nurul Zat iaitu mereka berpegang kepada hadis Jabir yang tersebut di dalam kitab Ad-Durul-Nafs yang bermaksud;

Awal-awal barang yang telah dijadikan oleh Allah Taala itu Nur Nabi engkau hai Jabir. Maka menjadi Ia Allah daripadanya(Nur Muhammad) akan beberapa Asyaa' dan kamu daripada demikian itu Asyaa'.

Hai Jabir!!!..bahawasanya Allah Taala menjadi Ia sebelum Asyaa' akan Nur Nabi engkau daripadaNya (Nurul Zat)

Bahawasanya Allah Taala menjadi Ia akan Ruh Nabi SAW. daripada ZatNya dan menjadi Ia akan alam sekelian daripada Nur Muhammad SAW.

Tiga hadis ini Ihtimal (berpegang) penulis belum berjumpa Rawi atau Sanad siapakah yang mengeluarkan ini hadis. Tetapi ditanggung atas pendapat orang Sufi bahawasanya hadis ini diriwayatkan daripada Jabir; maka kita tidak berani hendak menolak pendapat sufi itu kerana sedikit ilmunya dan kurang pengetahuan.

Dan orang-orang Sufi mentafsir hadis ini mengikut kaedah yang terang dan jelas di sisi mereka kerana setengah golongan mentafsirkan hadis ini menyeleweng daripda hakikat dan tujuan asal iaitu bagi Sufi hadis ini ada sedikit takwil iaitu dari segi Nur.

Mengikut pendapat orang-orang Sufi maksud Nur Nabi SAW itu bukan Nur dengan makna cahaya cerah seperti cahaya matahari atau bulan atau lain-lainnya. bahkan adalah ia (Nur) dengan makna Ruh kerana faham daripada hadis yang ketiga dan juga kerana Ruh Nabi SAW. itu dijadikan akan segala Asyaa’. Inilah maksud hadis Rasulullah SAW. yang bermaksud;

"Adam bapa segala tubuh dan aku bapa segala Ruh".

Maka adalah Ruh Nabi SAW. itu asal segala Ruh maka dinamakan dia;

  • Mazharul Atam
  • Khataman Nabiyin Wasayyidin Mursalin Warahmatan Li'aalamin [Kesudahan Nabi dan Penghulu Rasul-Rasul dan Rahmat untuk sekelian alam].

Adapun maksud dengan Nurul Zat Allah Taala itu bukan Nurul Zat dengan makna cahaya Zat kerana Nur dengan dengan makna cahaya itu makhluk(suatu yang lain daripada Allah). Barangsiapa mensifat Allah Taala dengan makhluk maka jadi KAFIR ia Wal’iyazubilLah bahkan adalah Ia nama bagi Sifat Kamalat Tuhan yang tak terhingga banyaknya dan pada istilah orang Sufi memadailah membilang empat Sifat jua iaitu;

  • Qudrat
  • Iradat
  • Ilmu
  • Kalam

dan termasuk A'yan Saabitah. Inilah yang dinamakan Nurul Zat Allah Taala. Bersambung lagi dalam menghuraikan Sifat 20.

(Rujukan: Perjalanan Suluk)

Tentang Hakikat Nabi Muhammad SAW

Ibn Arabi, menjelaskan bahwa semua Nabi as., semenjak Nabi Adam as., sampai Nabi Isa ibn Maryam as., semuanya mengambil al-Nubuwwah (ke-Nabian) dari tempat cahaya Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sekalipun wujud jasmaninya di akhir. Sebab pada Hakekatnya Khatm al-Nabiyyin telah wujud. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. :
كُنْتُ نَبِيًا وَآدَمَ بَيْنَ المَاءِ وَالطِِّيْنِ.
“Aku telah menjadi Nabi Ketika Adam as., masih berada antara air dan tanah”.

Dalam memahami sabda Nabi saw., ini, Ibn Arabi menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw., telah diangkat jadi Nabi sebelum lahirnya jasad Beliau di dunia ini, dan Beliau mengetahui ke-Nabiannya, dengan demikian secara Hakekat bahwa Nabi Muhammad saw., sejak di Alam arwah telah berfungsi sebagai Rasul kepada ummat manusia sejak awal manusia melalui para nabi dan Rasul-rasul Allah.
Tentang Maqam Nabi Muhammad tersebut, dalam Surat Saba ayat 84 Allah Berfirman :
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَّلكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ.
Artinya : “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pembawa peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

Dengan demikian boleh dikatakan bahwa kenabian para nabi dan kerasulan para rasul merupakan pelaku yang dipilih Allah untuk menjalankan roda kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Sebab secara fisik Nabi Muhammad Saw., lahir diakhir. Oleh karena itu, secara syari’at, Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi ketika turunnya Lima Ayat dari surat al-‘Alaq di Gua Hira yakni pada hari Senin 17 Ramadhan atau tanggal 6 Agustus tahun 600 M., ketika itu Beliau berumur 40 tahun Komariyah 6 Bulan 8 Hari. Kemudian 3 tahun kemudian diangkat menjadi Rasul terakhir melalui turunnya Surat al-Mudatstsir sedangkan selain Khatm al-Nabiyyin, mereka tidak diangkat menjadi Nabi, dan tidak tahu pada ke-Nabiannya kecuali pada waktu ia diutus setelah Wujud dengan unsur Badaniyahnya dan sesudah sempurna syarat-syarat ke-Nabiannya.

embun2
Menurut Syekh Ahmad al-Tijani pada dasarnya ruh Sayyidina Muhammad adalah awal segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan melalui perantara ruh inilah terjadi seluruh Alam. Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa Nur Nabi Muhammad saw., telah wujud sebelum makhluk lain ada, bahkan Nur ini merupakan sumber semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Selanjutnya dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Nur Nabi Muhammad saw., menurut Syekh Ahmad al-Tijani adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyah.
Selanjutnya dikatakan, bahwa pada dasarnya tidak seorangpun dalam martabat al-Haqiqat al-Muhammadiyah bisa mengetahuinya secara utuh. Pengetahuan orang shalih (Wali, Sufi) terhadap al-Haqiqat al-Muhammadiyah ini berbeza-beza sesuai dengan maqamnya masing-masing. Dalam hal ini Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :
…طائفة غاية ادراكهم نفسه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية ادراكهم قلبه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية اداكهم عقله صلى الله عليه وسلم وطائفة وهم الاعلون بلغوا الغاية القصوى فى الادراك فادركوا مقام روحه صلى الله عليه وسلم.
“Diantara wali Allah ada yang hanya mengetahui jiwanya (al-Nafs) saja, ada juga yang sampai pada tingkat hatinya (al-Qalb), ada juga yang sampai pada tingkat akalnya (al-Aql), dan maqam yang tertinggi adalah wali yang bisa sampai mengetahui tingkat ruhnya; tingkat ini merupakan tingkat penghabisan (al-Ghayat al-Quswa).”
Rumusan mengenai Nur Muhammad {haqiqat al-Muhammadiyyah} ditegaskan melalui dua shalawat yang dikembangkan dalam wirid thariqat tijaniyah yakni shalawat fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal :
a. Tentang Shalawat Fatih
Diantara rukun wirid wadzifah adalah membaca shalawat fatih sebanyak 50 kali. Berikut teks bacaan shalawat fatih :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Artinya : “Yaa Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad saw., dia yang telah membukakan sesuatu yang terkunci (tertutup), dia yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, dia yang membela agama Allah sesuai dengan petunjuk-Nya dan dia yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Mu. Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad saw”.

Syarah kandungan shalawat Fatih…, walaupun shalawatnya diakui dari Nabi Muhammad saw; mencerminkan pemikiran faham tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani serta pengaruh tasawuf Filsafat terhadap pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani.
Makna al-Fatih li ma Ughliq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud di alam.
2) Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah bagi para makhluk di alam.
3) Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.

Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.
2) Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.
3) tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih li ma Ughliq dan al-Khatim li ma Sabaq. Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud yang ada di alam. Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujbaniyat al-Buthun).

Wujud Muhammad menjadi “sebab” atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Muhammad, Alah tidak akan mencipta segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Syekh Ahmad al-Tijani juga mengatakan bahwa awal segala yang maujud (awal maujud) yang diciptakan oleh Allah dari eksistensi al-Ghaib adalah Ruh Muhammad {nur Muhammad}. Nur Muhammad telah diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw., ketika tiu Jabir bin Abdullah bertanya kepada Nabi Muhammad saw., tentang apkah yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt., Nabi menjawab :
ياجابر ان الله اتعالى خلق قبل الاشياء نور نبيك
“Wahai Jabir, sesungguhnya Allah swt., sebelum menciptakan sesuatu terlebih dahulu menciptakan nabimu {nur Muhammad}.”

Selain istilah nur Muhammad digunakan juga istilah lain sebagai penegas keberadaannya, yaitu ruh Muhhamad, nur, al-‘Aqju awwal dan al-Haba. Dari ruh Muhammad ini kemudian Allah mengalirkan ruh kepada ruh-ruh alam. ruh alam berasal dari ruh Muhammad, ruh berarti kaifiyah. Melalui kaifiyah ini terwujudlah materi kehidupan. al-Haqiqat al-Muhammadiyyah adalah awal dari segala yang maujud yang diciptakan Allah dari ¬hadarah al-Ghaib (eksistensi keGhaiban). Di sisi Allah, tidak ada sesuatu yang maujud yang diciptakan dari makhluk Allah sebelum al-Haqiqat al-Muhammadiyyah ini tidak diketahui oleh siapapun dan apa pun. Di samping sebagai pembuka, Nabi Muhammad juga sekaligus sebagai penutup kenabian dan risalah. Oleh karena itu, tidak ada lagi risalah bagi orang sesudah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga sebagai penutup bentuk-bentuk panampakan sifat-sifat Ilahiyyah (al-Tajaliyyah al-Ilahiyyah), yang menampakan sifa-sifat Tuhan di alam nyata ini.

Kandungan shalawat fatih mengenai pemikiran Syekh Ahmad Al-Tijani tentang al-Haqiqat Muhammadiyyah lebih tampak lagi dalam shalawat jauharat al-kamal.
b. Tentang Shalawat Jauharat al-Kamal… Berikut teks Shalawat Jauharat al-Kamal :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِاالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ
Artinya : “Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakekat Muhammad, Nur Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalirnya rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya., seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakekat keadilan yang seperti ‘arsy (gudang) sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu agama Allah yang adil, sempurna dan istiqamah. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli (penampakan lahir)-Mu, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat (Hakekat) sesungguhnya Nabi Muhammad”.
Bacaan Shalawat Jauharat al-Kamal ini, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat fatih yakni kalimat اَلْفَاتِحِ لِمَاأُغْلِقَ””. Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw., sebagai Hakekat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat Tuhan, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai wujud yang paling sempurna.

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syekh Ahmad Al-Tijani merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagai mana telah dikemukakan sufi-sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakekat) Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.
Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syekh Ahmad al-Tijani menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya : nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syekh Ahmad al-Tijani adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh ‘Abd al-Karim al-Jili dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Ibn Arabi dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah..

Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Sekali lagi, hemat penulis, pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijri sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad Saw., karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin.
Disinilah keunggulan Syekh Ahmad Al-Tijani, dan hal ini, lebih mengukuhkan keabsahan dirinya tentang kepemilikannya terhadap maqam wali khatm sebagai mana pembahasan berikut ini:

Disunting daripada: http://alfaidhu-attijany.blogspot.com

 

Tentang diri dan ‘Diri’

Hendaklah dimusyahadahkan akan kejadian diri kita kepada dua pandangan iaitu;

a. Pandangan yang pertama kepada diri zhohir yang dijadikan akan dia daripada emapat anasir iaitu;

  • Api
  • Angin
  • Air dan
  • Tanah.

yang bermula daripada kejadian lembaga Nabi Adam ‘Alaihi-Salam. Setelah sempurna lembaga Adam maka dimasukkan ruh ke dalamnya lalu hidup ia bernyawa, bergerak, melihat, mendengar, dan sebagainya seperti firman Allah dalam Surah Al-Shod; 71-72 yang bermaksud;

"Ingat olehmu hai Muhammad ketika firman oleh Tuhan kamu bagi malaikatNya bahawa Aku jadikan manusia daripada pati tanah maka apabila aku sempurnakan dia dan aku masukkan ke dalamnya ruhKu, maka sekelian malaikat duduk dan sujud baginya".

Demikian juga dijadikan seorang perempuan yang bernama Hawa iaitu daripada jenis Adam juga seperti firmanNya dalam Surah An-Nisaak:1 yang bermaksud;

"Hai sekelian manusia, takutlah kepada Tuhanmu yang menjadikan kamu dari diri yang satu dan menjadikan isteri daripadaNya. dan daripada keduanya berkembang biak laki-laki dan perempuan yang banyak."

Ini bermakna, daripada Adam dan Hawa dijadikan akan segala keturunan melalui setitik air mani(Nutfah) yang dikandungkan di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian dijadikan seketul daging (Mudghoh) kemudian pecah berupa berbagai; suatu bentuk lembaga manusia seperti firman Allah dalam Surah Al-Mukminun;14 yang bermaksud;

"Sesungguhnya telah Kami jadikan manusia daripada pati berasal daripada tanah kemudian Kami jadikan akan pati tanah itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh(rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah; maka segumpal darah itu kami jadikan tulang; maka Kami bungkuskan tulang itu dengan daging kemudian jadikan itu makhluk yang berbentuk lain; maka Mahasuci Allah ialah Pencipta yang paling baik".

Kemudian apabila sempurna kandungan yang ghalib sembilan bulan lalu keluar dari perut ibunya berupa manusia yang lemah(bayi) kemudian beransur-ansur sedikit demi sedikit bertambah subur dan kuat yang lengkap dengan pancaindera yang lima iaitu;

  • Penjamah,
  • Perasa,
  • Pendengar,
  • Pelihat,
  • Pencium.

Akhirnya menjadi seorang manusia yang gagah kuat yang mempunyai pancaindera batin yang lima iaitu;

  • Khowatir,
  • Cita,
  • Niat,
  • 'Alim,
  • Fikir;

dan sempurnalah sepuluh pancaindera yang dinamakan INSAN.

b. Pandangan yang kedua kepada diri yang batin yang digelarkan nyawa atau Ruh yang telah diberikan nama oleh Arif bil-Lah dengan bermacam-macam nama. Setengah daripadanya menamakannya;

  • Syaiun Zat-tiah pada tatkala memandang pada Martabat Wahdah dimusyahadahkan pertama-tama nyata dalam Ilmu Allah itu Ruh Nabi Muhammad SAW. Daripada pancar benderang Israk Nur Muhammad itu zhohirlah sekelian alam dan segala yang benyawa. Setengah daripada Arif bil-Lah menamakan dia sebagai;
  • Alam Ma'ani iaitu tanda yang tersembunyi sungguh kuat nyata dalm Ilmu Allah tetapi tiada ia maujud. Ia tersembunyi dalam Wahdatul Wujud melainkan ibarat jua yang maujud pada keesaan diri Hak Allah Taala. Setengah Arif bil-Lah menamakanya sebagai;
  • Alam Laahut ertinya tanda kenyataan Zat dan setengah Arif bil-Lah menamakannya sebagai;
  • Alam Jabarut tatkala nyata ia pada martabat Wahdiah ertinya tanda kebesaran Zat dan sifatNya dan Af’alNya dan setengah daripada mereka menamakan sebagai;
  • A'yan Saabitah ertinya kenyataan yang amat teguh dan setengahnya menamakannya sebagai;
  • Alam Asror ertinya tanda menerima Asror(rahsia) Allah kerana ia tempat nyata Hak Taala.
  • Maka tatkala sudah menjadikan Allah Taala nyawa ; maka menjadi Ia akan Alam Arwah dan maujud ia dengan Qudrat Allah dan Iradatnya. Maka dinamakan dia Alam Malakut ertinya tanda milik yakni tiada sekali terlepas daripada Ampunya Milik. Ini dinamakan juga A'yan Khorijah kerana sudah zohir wujudnya menerima asar(bekas/sesuatu yang dijadikan) dan hukum Zat Lawazim yang nyata ibaratnya dan syaratnya kepada Martabat Wahdah dan Wahdiah kerana A'yang Khorijah itu A'yan Saabitah dan A'yan Saabitah itu yang menerima zhohir Sifat Allah dan Asma Allah dan A’yan Khorijah dan Alam Malakut ialah sekelian alam sama ada Alam Kabir(Besar) atau Alam Shoghir(Kecil).Dan setengahnya menamakannya;
  • Ruh Idhofi kerana lengkap pada tubuh yang menggerak dan mendiam dan sebagainya. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
  • Ruh Al-Qudus kerana ia suci daripada merasai mati dan daripada segala kecelaan dan sebagainya dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
  • Ruh Al-Amri kerana ia menerima perintah Allah memerintah tubuh. Setengah daripada mereka menamakannya pula sebagai;
  • Ruh Al-Amin kerana ia menerima firman Allah yang datang pada hati hamba yang yakin akan Hak Taala. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
  • Khotir ertinya gerak hati. Dan khotir itu ada empat macam iaitu;
      • Khotir Rahmaani iaitu apabila ia sentiasa berhadap dan musyahadah kehadirat Allah Taala; tidak memikirkan akan MaasyiwaLah(sesuatu yang lain daripada Allah).
      • Khotir Malaki iaitu apabila bertukar arah dan bergilir ganti. Kadang-kadang berhadap dan bermusyahadah ke Hadirat Allah Taala dan kadang-kadang sesuatu yang lain daripada Allah.
      • Khotir Nafsaani iaitu sentiasa berhadap kepada kegemaran dan kelazatan dunia dan kemegahan dan kemulian yang bergelumbang dengan Ajib, Riya’, Takbur, Suma’ah dan lain-lain lagi daripada segala sifat-sifat mazmumah.
      • Khotir Syathooni iaitu sentiasa gemar kepada pekerjaan yang derhaka dan jauh daripada berbakti dan beribadat.

Maka adalah sekelian itu daripada kelakuan Ruh pada badan yang datang sekelian itu daripada Feil (Kelakuan) yang Hakiki. Setengah daripada mereka menamakannya sebagai;

  • Akal kerana mengeluarkan fikiran dan kira bicara dan setengah daripada mereka menamakannya sebagai;
  • Nafsu kerana angkuh dan dholim dan setengah menamakannya sebagai;
  • Qalbu kerana bertukar berbolak-balik sekali berhadap kepada Allah; sekali berhadap kepada dunia.

Adalah diri yang dhohir dan yang batin terdiri padanya tiga perkara iaitu;

      • Jisim iaitu susunan kulit, daging, tulang. urat, darah, lendir dan sebagainya.
      • Jauhar iaitu Ruh atau nyawa
      • 'Aradh iaitu kelakuan dan rupa pandangan seperti panjang, pendek, tinggi, rendah, putih, hitam, bertemu, bercerai, baik, jahat dan sebagainya.

(Rujukan: perjalanan suluk)

Kasih ku pinjam wajah-Mu

Ke mana jua aku mengarah, pandanganku menggambarkan wajah-Mu,

Oh kasihku di langit tinggi, di lautan yang sedang menari,

Biarpun aku memejam mata, pandangan masih menggambarkan wajah-Mu,

Berseri di cermin hati, di taman impian yang ku impikan,

Kasih wajah Kau ku jadikan azimat penguat semangat, bisaku gagahi cabaran yang datang,

Kasih ku harap Kau sudi maafkan aku yang meminjam, wajah-Mu mengisi kekosongan hati,

Diriku yang semakin tenggelam, ke dasar sepi yang tak bertepi,

Diriku yang semakin tenggelam, ke dasar cinta yang tak bertepi,

Biarpun aku memejam mata, pandanganku masih menggambarkan wajah-Mu,

Berseri di cermin hati, di taman impian ku impikan,

Kasih wajah Kau ku jadikan penyuluh, pabila malam gelap menyelimuti,

Kembaraku menjejak bahgia, dengan bayang malam ditindih malam,

Memerah ke  titis akhir ketulusanku,

Diriku yang semakin tenggelam, ke dasar sepi yang tak bertepi,

Diriku yang semakin tenggelam, ke dasar cinta yang tak bertepi.

Kasih ku pinjam wajah-Mu…

(Disunting daripada lirik lagu “Kasih ku pinjam wajah-Mu nyanyian Teacher’s Pet)

Martabat Nafsu – satu kajian yang panjang…

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih. 

Firman Allah: 
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya” 

Hadis Qudsi,firmanNya: 
“Sesungguhnya manusia itu rahsiaKu dan Akulah yang menjadi rahsianya.Dan rahsia itu sifatKu dan sifatKu tiada lain, Aku lah jua” 

Mengenai soal makrifat pula Allah berfirman dalam hadis Qudsi: 
“Akulah perbendaharaan yang tersembunyi.Aku ingin supaya dikenali(dimakrifati), maka Aku jadikan alam ini,maka mereka makrifat kepadaKu” 

FirmanNya lagi: 
“Sesungguhnya Allah memrintahkan kamu (manusia) memulangkan amanah kepada yang berhak (Allah)” 

Jadi taraf kemuliaan sesorang hamba Allah itu adalah bergantung sejauh mana taraf makrifatnya kepada Allah. Sekiranya kita berjaya mencapai tahap sebenar-benar makrifat jadilah kita sebaik-baik makhluk sebagaimana firmanNya: 
“Sesungguhnya yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik baik makhluk” 

Tapi sebaliknya sekiranya kita gagal untuk mengembalikan amanah untuk makrifat maka jadilah kita sebagai mana yang di firmankan olehNya: 
“Kemudian Kami kembalikan dia di tempat yang serendah-rendahnya” 

Dan firmanNya lagi: 
“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” 

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

1. AMARAH

Amarah adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah. Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/keburukan). Pada tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya kerana hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Kerana itulah hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit. 

Firman Allah: 

  • “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” 
  • “Sesungguhnya nafsu amarah itu sentiasa menyuruh manusia berbuat keji(mungkar)” 
  • “Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus)” 

Dalam kehidupan seharian segala hukum hakam, halal-haram, perintah dan larangan tidak pernah di ambil peduli. Malah buat kejahatan itu sudah sebati. Tidak ada penyesalan, malah kadang-kadang bangga buat jahat. Contohnya dia berbangga dapat merosakkan anak dara orang, bangga dengan kehidupan songsang, minum, berjudi, pergaulan bebas malah jadi barat lebih dari orang barat. Bagi mereka pada peringkat nafsu ini, konsep hidupnya adalah sekali, jadi masa mudalah untuk seronok sepuas-puasnya tanpa mengenal batas-batas. Baik jahat adalah sama sahaja di sisinya tanpa ada perasaan untuk menyesal. Malah kadang-kadang bila boleh buat jahat seolah-olah terdapat perasaan lega dan puas. Itulah sebabnya kadang-kadang ada yang dapat nak mengawalnya dari melakukan sesuatu yang jahat. Dah jadi hobi. Hatinya telah dikunci oleh Allah sebagaimana firmanNya: 
“Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsunya (amarah) menjadi Tuhan dan dia disesatkan oleh Allah kerana Allah mengetahui (kejahatan hatinya) lalu Allah mengunci mati pendengarannya (telinga batin) dan hatinya dan penglihatannya (mata hatinya) diletak penutup.” 

Manusia pada peringakat nafsu amarah ini bergembira bila menerima nikmat tetapi berdukacita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan. 
Firman Allah: 
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia,nescaya mereka gembira dengan rahmat itu.Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah akibat kesalahan tangan mereka sendiri, lantas mereka berputus asa.” 

Jelasnya pada peringkat ini segala tindak tanduknya adalah menuju dan mengikut apa kehendak syaitan yang mana telah dikuasai sepenuhnya olehnya(Syaitan). Rupa sahaja manusia, tapi hati dikuasai syaitan. 

Pada peringkat ini, manusia itu tak makan nasihat. Tegurlah macam manapun. Dia tetap tak akan berubah kecuali diberi hidayah olehNya. 

Mereka tidak pernah takut pada Allah dan hari pembalasan. Malah meremehkan lagi ada. Mengejek dan mencemuh. Mereka tidak pernah peduli dengan ancaman Allah seperti: 
“Akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati tidak memrhati,mempunyai mata tidak melihat,mempunyai telinga tidak mendengar.Mereka itu adalah binatang malah lebih hina dari binatang kerana mereak termasuk di dalam golongan yang lalai”. 

Mereka suka mencela orang lain, memperbodohkan kelemahan orang lain dan melihat dirinya sendiri serba sempurna. Mereka tidak pernah menyandarkan hasil usahanya kepada Allah. Mereka fikir apa sahaja kejayaan mereka adalah hasil titik peluh diri sendiri. 

Jiwa mereka pada tahap ini adalah kosong dan hubungan dirinya dengan Allah boleh dikatakan tidak wujud. 

Dalam konteks penerimaan ilmu, orang yang bernafsu amarah hanya berupaya menerima ilmu diperingkat ilmu Qalam. Terutamanya yang mementingkan soal-soal lahiriah dunia sahaja. Tak ada minat kepada pelajaran agama dan hari akhirat. Pada peringkat tidak ada peluang sama sekali untuk menerima ghaib dan ilmu syahadah selagi hatinya kotor dan tidak disucikan dengan pembersihan zikrillah yang mempunyai wasilah bai’ah dengan Rasulullah s.a.w. Untuk membebaskan diri dari cengkaman nafsu ini hendaklah menemukan jalan wasilah ilmu Rasulullah s.a.w dengan menerima tunjuk ajar dari ahli zakir iaitu guru mursyid yang dapat memberikan petua-petua penyucian diri dan penyucian jiwa yang mempunyai mata rantai dengan Rasulullah s.a.w. 

Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Tiap sesuatu ada alat penyucinya dan yang menyuci hati ialah zikir kepada Allah “

Pada tahap amarah ini kalau berzikirpun hanya dibibir sahaja tanpa meresap ke dalam jiwa. Amarah tidak mengenal sesiapa, malah ahli kitab sekalipun walaupun ada kelulusan Azhar, walupun berserban dan berjubah. Amarah tidak pernah takut dengan itu semua malah lagi senang ia menyerang. Yang ia takut hanyalah zikrillah. 

Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sesungguhnya syaitan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia, maka apabila manusia itu berzikir kepada Allah , maka mundurlah syaitan dan apabila ia lupa, maka syaitan itu menelan hatinya” 

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

2. NAFSU LAWWAMAH

Nafsu lawwamah ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila berlaku suatu kejahatan dosa atas dirinya. Ianya lebih baik sedikit dari nafsu amarah. Kerana ia tidak puas atas dirinya yang melakukan kejahatan lalu mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila buat silap dia lebih cepat sedar dan terus kritik dirinya sendiri. Perasaan ini sebenarnya timbul dari sudut hatinya sendiri bila buat dosa, secara automatik terbitlah semacam bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang di katakan lawwamah. Bisikan hati seseorang akan melarang dirinya melakukan sesuatu yang keji timbul secara spontan bila terqosad sahaja dihatinya. Cepat rasa bersalah pada Allah Rasulullah atas keterlanjurannya. Ianya ibarat taufik dan hidayah Allah untuk memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Rasulullah s.a.w bersabda: 

  • “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya sendiri” 
  • “Barangsiapa yang hatinya menjadi penasihat baginya, maka Allah akan menjadi pelinding ke atasnya.” 

Tapi bila seseorang itu meningkat ke martabat nafsu lawwamah tapi tidak mematuhi isyarat lawwamah yang memancar di hatinya, maka lama-kelamaan isyarat ini akan padam dan malap. Hingga jatuhlah kembali pada tahap nafsu amarah kembali. Sebab itu kadang-kadang kita tengok sekejap orang tu baik, sekejap berubah jahat kembali. Kemudian berubah balik. Inilah bolakan hati yang di sebabkan oleh keadaan nafsunya yang berubah-ubah. 

Firman Allah: 

  • “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti (suruhan jahat) mereka setelah datang ilmu (isyarat lawwa-mah) kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim” 
  • “Sesungguhnya petunjuk Allah ialah petunjuk yang sebenarnya.Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan (jahat dan keji) mereka , setelah ilmu diperolehi (datang kepadamu) maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. 

Pada tahap lawwamah ini masih lagi bergelumang dengan sifat-sifat mazmumah tapi jumlahnya mulai berkurang sedikit. Keinsafan memancar. Sekiranya dia terus mematuhi isyarat lawwamah yang ada, sedikit demi sedikit sifat-sifat keji dapat dihapuskan. Pada peringkat ini dia banyak meneliti diri sendiri dan merenung segala kesilapan yang lampau. Bila perasaan menyesal datang, orang-orang pada peringkat sangat mudah mengeluarkan air mata penyesalan. Kerap menangis dalam solat, atau bila sendirian, sewaktu berzikir, bersolawat. Air matanya bukanlah disengajakan tetapi berlaku secara spontan. Inilah dikatakan sebagai tangisan diri. Pada peringkat ini mula banyak mengkaji dan meneliti alam dan kejadian. Malah sentiasa membandingkan sesuatu dengan dirinya. Mereka juga menjadi gila untuk beribadat dan cenderung kepada perbincangan berkaitan soal mengenal diri dan mula jemu dengan persoalan yang tidak berkaitan dengan agama. Perubahan ini boleh jadi mendadak sekiranya kita terjun ke alam tasauf. 

Rasulullah s.a.w bersabda: 

  • “Bahawasanya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada solat, puasa dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan minuman seperti halnya binatang” 
  • “Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berfikir dan berfikir perkara duniawi itu mendaruratkan dan sebaliknya berfikir perkara agama pasti mendatangkan kegembiraan” 

Pada tahap ini sudah mementingkan akhirat dari dunia. 

Namun begitu walau nak dibandingkan dengan amarah ia lebih tinggi sedikit, namun sekali-sekala ia tidak terlepas juga dari jatuh kedalam jurang dosa dan kejahatan.Imannya masih belum kuat.Namun ia cepat sedar dan cepat beristigfar minta ampun kepada Allah. 

Firman Allah: 
“Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah” 

Sebagai contoh kalau tertinggal sembahyang terdapat perasaan kecut hati dan cepat menyesal sehingga terus pergi kadha. 

Antara sifat nafsu lawwamah adalah: 
1. Mencela diri sendiri 
2. Bertafakur dan berfikir 
3. Membuat kebajikan kerana ria 
4. Kagim pada diri sendiri yakni ‘ujub 
5. Membuat sesuatu dengan sum’ah -agar dipuji 
6. Takjub pada diri sendiri 

Sesiapa yang merasa berdegup di hati sifat seperti di atas masih lagi berada pada tahap nafsu lawwamah. Ianya adalah terdapat pada kebanyakan orang awam . 

Harus kuat berzikir lagi untuk menembus dan menyucikan sisa-sisa karat hati. Zikir pada peringakat nafsu ini masih lagi dibibir tetapi kadang-kadang sudah mulai meresap masuk ke lubuk hati tapi dalam keadaan yang tidak istiqamah. Pada peringkat ini memang sudah timbul gila beribadat sehingga kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang macam hilang dirinya. Rasa semacam semut berderau diseluruh tubuhnya terutama pada bahagian tulang belakang dan tangannya. Keadaan beginilah menimbulkan keasyikan yang menyeronokkan dengan amalan zikir dan ibadat lain. 

Pada pringkat ini sudah boleh menerima sedikit ilham hasil dari zauk dan kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru. Bila berterusan dengan petua dan amalan yang diberi oleh guru InsyaAllah nafsunya lawwa-mah ini akan meningkat kepada tahap seterusnya. 

~~~~~ o O o ~~~~~

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

3. MULHAMAH 

Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwa-mah.Nafsu mulhamah ini ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/ tariqat/ amalan guru lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah s.a.w.Kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau khuatir-khuatir syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari malaikat atau Allah. 

Firman Allah: 
“Demi nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah) lalu diilhamkan Allah kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya(nafsu) 

Makam nafsu ini juga dikenali dengan nafsu samiah. Pada pringkat ini amalan baiknya sudah mengatasi amalan kejahatannya. Sifat mazmumah telah diganti dengan mahmudah. Sikap beibadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi. 
Pada penyesalan pada peringakat lawwamah tadi terus bersebati di dalam jiwa. Isyarat lawwamah sentiasa subur. Sesungguhnya taubat orang peringkat mulhamah ini adalah “taubatan nasuha”. Bukan shaj di mulut tetapi hakiki. 

Dalam kehidupan sudah terbina satu skap yang baik,tabah menghadapi dugaan, bila terlintas sesuatu yang ke arah maksiat cuba-cuba memohon kepada perlindungan dari Allah. 

Firman Allah: 
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa , bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketiak itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan.”

Sabda Rasulullah S.a.w: 
“Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dilakukan, maka itu orang-orang mukmin”

Zikir pada tahap ini telah menyerap kedalam lubuk hatinya bukan sekadar berlewa-lewa dibir sahaja lagi. Malah sudah menerima hakikat nikmat zikir dan zauk. Bila disebur nama Allah rindunya sangat besar, berderau darahnya dan gementar tubuhnya tanpa disengajakan. 

Firman Allah: 
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka apabila sahaja disebut nama Allah, nescaya gementarlah seluruh hati mereka” 

Perasaan ini terus menjalar sehingga bertemu kekasihnya. 

Antara sifat-sifat yang bernafsu mulhamah: 
1. Sifat-sifat ketenangan,lapang dada dan tidak putus asa. 
2. Tak sayangkan harta 
3. Qanaah. 
4. Berilmu laduni 
5. Merendah diri/ tawwadu’ 
6. Taubat hakiki 
7. Sabar hakiki 
8. Tahan ujian dan menanggung kesusahan 

Mereka pada tahap ini mulai masuk ke sempadan maqam wali yakni kerapkali mulai mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali kepada sifat yang tidak baik masih ada. Kebanyakan orang cepat terhijab pada masa ini kerana terlalu asyik dengan anugerah Allah padahal itu hanyalah ujian semata-mata. 

Dalam konteks ilmu pula mereka bukan sahaja menguasai ilmu qalam malah sudah dapat menguasai ilmu ghaib menerusi tiga cara laduni iaitu nur, cara tajalli dan cara laduni di peringakat sir. Yang dimaksudkan dengan laduni peringkat sir ialah menerusi telinga batin yang terletak ditengah-tengah kepala yang biasanya dipanggil bahagian tanaffas. Suara yang diterima amat jelas sekali. Tak ubah seperti mendengar suara telefon. Pada masa yang sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu walaupun masa menerima laduni sir itu ada kawan berbual. Biasanya suara ghaib itu adalah waliyulah atau ambia yang merupaka guru-guru ghaib yang bertugas mengajar ilmu ghaib pada mereka yang diperingkat mulhamah. Tapi perlu ingat guru murysid zahir kita tetap guru. Malah Guru mursyid kita sebenarnya telah berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru-guru ghaib ini. Sebab tu kalau tak ada murysid kita akan terpedaya dengan syaitan dan jin yang menyamar. Pembukaan telinga batin ini pada awalnya berlaku seakan suatu bisikan suara yang dapat dibahagian dalam anak telinga, dimana pada permulaannya merasa berdesing. Kemudian barulah dapat dengar jelas. 

Zikir tetap meningkat. Pada peringkat inilah Allah berfirman: 
“Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah.Ingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah sahajalah hati menjadi tenteram”.

~~~~~ o O o ~~~~~

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

4. NAFSU MUTMAINAH 

Inilah peringkat/ martabat nafsu yang pertama yang benar-benar direhai Allah seperti yang saudara kita nyatakan di atas. Yang layak masuk syurga Allah. Maknanya siapa sampai pada maqam ini bererti syurga tetap terjamin, InsyaAllah. Hakikat inilah yang difirmankan Allah: 
“Wahai orang yang berjiwa / bernafsu mutmainnah,pulanglah kepangkuan Tuhanmu dalam keadaan redhai meredhai olehNya dan masuklah ke dalam golongan HAMBAKU dan masuklah ke dalam syurgaKU”.

Pada peringkat ini jiwa mutmainnah merasakan ketenagan hidup yang hakiki yang bukan dibuat-buat. Tidak ada lagi perasaan gelisah. Semuanya lahir dari tauhidnya yang tinggi dan mendalam. Tauhid yang sejati dan hakiki. Tidak ada lagi perbezaan senang dengan susah baginya sama sahaja. Pada maqam inilah permulaan mendapat darjat wali kecil. 

Antara sifat-sifat maqam ini adalah: 
1. Taqwa yang benar. 
2. Arif 
3. Syukur yang benar 
4. Tawakkal yang hakiki 
5. Kuat beribadat 
6. Redha dengan ketentuan Allah 
7. Murah hati dan seronok bersedekah. 
8. Dan lain-lain sifat mulia yang tidak dibuat-buat. 

Pada maqam ini biasanya(walaupun tidak semestinya), akan adanya keramat-keramat yang luar biasa serta mendapat ilmu dengan tak payah belajar sebab sudah dapat mengesan rahsia-rahsia dari LohMahfuz. Adanya sifat lidah masin. Apa yang keluar dari mulut bukan sembarangan lagi bahkan menerusi yang dipanggil sebagai ‘inkisaf’. Mereka sudah menguasai ilmu peringkat nur, tajalli, sir dan juga sirussir, iaitu lebih tinggi dari maqam mulhamah. Yang dikatakan menerusi sirussir ialah cara penerimaan dengan telinga dan mata batin. Kalau mulhammah tadi baru terbuka dengan telinga batin tanpa mata batin. Dengan mata batin inilah dia berupaya melihat sesuatu yang ghaib yang tak mampu dilihat oleh mata biasa kita. Malah dapat melihat sesuatu yang akan berlaku pada masa akan datang. Betul-betul macam melihat TV. Malah siap boleh rewind lagi. Kalau guru kita nak lihat sejarah hidup kita yang lalu biasanya dia akan memrhati rakaman hidup kita dan mengesan dimana kesilapan kita dan memberi petua untuk membetulkannya. Kalau mencuri disuruhnya kita memulangkan kembali serta minta halal dan maaf, dan sebagainya lagi. Namun begitu dia tetap akan menjaga aib muridnya kepada orang lain. Perlu dingat pada peringkat ini dia tidak terganggu penglihatan dan pendengaran zahirnya pada masa sama melihat dan mendengar yang batin walaupun duduk di kedai kopi bersama-sama orang lain. Melalui penerimaan sirussir ini dia berupaya melihat alam barzakh, menjelajahi alam alam malakut. Keyakinan mereka sudah pada tahap ainul yakin dan haqqul yakin. 
Fana juga boleh berlaku yang dikenali sebagai “fana qalbi” iaitu merupakan penafian diri ataupun menafikan maujud dirinya dan diisbatkan kepada wujudnya Allah semata-mata.Inilah peringkat yang kita bincangkan dulu mengenai LAA MAUJUD ILLALLAH. Keadaan inilah yang digambarkan Allah: 
“Semua yang ada adalah fana (tiada wujud hakikinya).Dan yang kekal(baqa) itu adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” 

Namun fana qalbi ini tidaklah kekal.

~~~~~ o O o ~~~~~

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

5. NAFSU RADHIAH

Maqam ini dinamakan radhiah kerana perasaan keredhaan pada segala ketentuan dan hukuman Allah. Pada maqam ini sudah tidak ada rasa takut dengan pada bala Allah dan tak tahu gembira dengan nikmatNya. Sama sahaja. Apa yang penting Allah redha padaNya. Itu kalau sakitpun dah tak perlu kepada ubat, sebab bagi dia sakit itulah nikmat kerana dia merasa makin dekat dengan tuhannya. Wang ringgit sudah sama dengan daun kayu. Emas sama dengan tanah. Dunia sudah dipandang kecil , malah sudah tidak dipandang lagi sebaliknya dunia yang datang kepadanya. 

Firman Allah: 
“Sesungguhnya wali-wali Allah itu tak rasa ketakutan dan tak pernah rasa kerungsingan di atas mereka”. 

Ini kerana nur syhuhud sudah sebati dalam jiwa mereka. Alam sekeliling seperti cermin yang boleh mereka melihat Allah setiap ketika. Ini adalah maqam musyahadah tahap ihsan seperti hadis Rasulullah s.a.w: 
“Hendaklah kamu menyembah Allah sebagaimana kamu melihatNya…” 

INi adalah maqam wali dalam martabat khawas. 

Pada masa inilah apa yang diisyaratkan oleh rasulullah s.a.w:
“Takutilah akan firasat orang mukmin, bahawasanya orang-orang mukmin itu melihat dengan Nur Allah”. 
Pada tahap radhiah ini ,ia melihat melalui basyirahnya, merenung dengan kasyafnya , bertindak melalui perintah ilmu laduninya.Mulutnya dan doanya sangat mustajab.’Barang dipinta barang jadi” 

Orang dimaqam ini kadang-kadang perbuatannya menyalahi syariat.Percakapan kadang-kadang menyinggung orang biasa yang tak faham tapi dikeluarkan tanpa sengaja.Masih lagi mengalami fana qalbi.tapi tidak menentu.Hidupnya ibarat dilambung gelora cinta seolah terapung bersama-sama Allah.Hanya memandang dan menyaksikan sesuatu bahawa tiada suatu yang wujud di dunia ini melainkan wajah Allah semata-mata: 

Firman Allah: 
“Di mana saja kamu menghadap, maka disitulah wajah Allah

Itu yang terjadi pada Al Junaid:Tiada apa dalam jubahku, melainkan Allah.

Mereka sudah memandang yang banyak kepada satu.Keadaan inilah boleh menimbulkan fitnah, malah kadang-kadang orang akan anggap gila. Inilah maqam Ana’al Haq-Mansur Al-Hallaj. 

Zikir pada peringkat ini adalah secara ‘khafi’ yang telah meliputi seluruh anggota zahir dan batinnya. Pada peringkat inilah kulit berzikir, daging berzikir, tulang berzikir, malah semuanya berzikir. Tu yang jadi darah Al-Hallaj membentuk tulisan Allah lalu keluar zikir, malah kematian wali-wali seperti Tok Ku Paloh, masih lagi terdengar zikir di dadannya. Kadang-kadang mereka dijemput menjelajah alam ghaib kubra yang diluar akal manusia. Malah mereka di ajar ilmu tinggi yang lebih canggih dari manusia biasa yang boleh dicapai oleh zaman moden ini. Mereka boleh buat perhubungan secara langsung dengan para rasul, nabi, ambia dan waliyullah yang lain. Mereka menuntut ilmu dengan aulia macam berbincang dengan kawan melalui handphone, malah boleh berinteraksi beramai-ramai walaupun masing-masing berada di berbeza tempat. 

Sifat-sifatnya: 
1. Ikhlas 
2. Warak 
3. Zahid 
4. Dan lain-lain lagi yang baik yang ada pada maqam sebelum ini. 

~~~~~ o O o ~~~~~

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

6. NAFSU MARDIAH 

Pada peringkat ini segala yang keluar darinya semuanya telah diredhai Allah. Perilakunya, kata-katanya, diamnya semuanya dengan keredaan dan keizinan Allah belaka. Akan keluar keramat yang luar biasa. Mereka sudah menanam ingatan pada Allah diteras lubuk hati mereka menerusi cara “khafi-filkhafi”, maknanya secara penyaksiaan ‘basitiah’ iaitu penyaksian sifat ma’ani Allah yang nyata dan dizahirkan oleh diriNya sendiri. Af’al diri mereka sudah dinafi dan diisbahkan secara langsung kepada af’al Allah semata-mata.Jiwa mereka betul-betul sebati, ingatan mereka terhadap Allah tidak sesaatpun berpisah darinya. Penyaksiaan terhadap hak sifat Allah jelas baginya sehingga hilang dirinya nya sendiri. Inilah dinyatakan sebagai Abu Yazib Bistami: “Subha Inni..”

“Pandanglah yang satu pada yang banyak”

Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. Pada peringkat inilah suka mengasingkan diri,tidak suka bergaul lagi dengan makhluk. 

Namun begitu ia mmepunyai kesedaran dua alam sekaligus. Zahir dan batin. Dan ia akam kemabli normal seperti biasa. Kalau peringkat sebelum ini mungkin sampai tak terurus. 

Konsep perjalanannya lebih kurang dengan radhiah.mereka berpegang kepada konsep: 
Firman Allah: 
“Apa yang di sisi kamu itu pasti lenyap dan apa yang ada di sisi Allah tetap kekal”. 

Perkataan syatahah sudah hilang.Mereka suka hidup nafsu nafsi. 
Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang , maka dekatilah ia.Sesungguhnya dia akan mengajar kamu hikmah” 

Menyentuh tentang zikirnya, zikirnya adalah zikir rahsia, tidak lagi ada lafaz dengan lidah mahupun hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahsia yang didengar oleh telinga batin di maqam tanaffas. Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap atau buat apa sahajapun. 

Firman Allah: 
“Orang-orang berzikir kepada Allah sambil berdiri, sambil duduk dan dalam keadaan berbaring…” 

Bagi mereka di maqam ini setiap perbuatan, perkataan, penglihatan dan apa sahaja adalah zikir. 

Pada tahap ini mempunyai kekeramatan yang amat luar biasan. Namun biasanya jarang sekali menzahirkannya kelebihannya itu. Dari segi ilmu, mereka sudah memperolehi ilmu semua peringkat sebelum ini iaitu nur, tajalli, sir, sirussir malah ditambah lagi dengan cara tawasul/yaitu secara jaga dengan ambia dan waliyullah. Kehadiran wali-wali kepada orang maqam mardiah ini lebih merupakan penghormatan dan ziarah sahaja. sambil berbincang-bincang. Mereka berpeluang menjelajah seluruh alam alam maya dan alam ghaib termasuk syurga, neraka dan sebagainya. Mereka berupaya melawat bermacam-macam tempat samada dengan pecahan diri batinnya atau dengan jasad sekali. Malah dalam satu masa boleh menjelma di pelbagai tempat. Ini dipanggil “Khawa Fulkhawaf”. Ianya berlaku tanpa sengaja dan tanpa dapat dikawal 

Sifat-sifatnya: 
1. Redha dan rela dengan apa-apa pemberian Allah 
2. Lemah lembut pergaulannya 
3. Elok dan tingginya budi 
4. Lain-lain sifat terpuji maqam sebelum ini.

~~~~~ o O o ~~~~~

Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya. 

Nafsu mempunyai dua pengertian:

1.
Suatu pengertian yang meliputi segala tabiat-tabiat: spt. marah, nafsu berahi dan syahwat serta semua yang keji seperti hasad dengki, riak, dendam, sum’ah dan sebagainya. Nafsu ini ada juga pada binatang. Tapi tiada sama sekali pada malaikat. Sabda Rasulullah s.a.w: 
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
2.
Makna yang kedua adalah berkaitan kejadian “latifah rabbaniyyah’ iaitu sesuatu yang batin yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar sebaliknya ia adalah melibatkan soal-soal kerohanian. 

Jenis-jenis nafsu yang saya huraikan adalah: 
1. Amarah 
2. Lawammah 
3. Mulhammah 
4. Mutmainah 
5. Radhiah 
6. Mardhiah 
7. Kamaliah 

~~~~~ o O o ~~~~~

7. KAMALIAH 

Maqam ini adalah tertinggi. Maqam ini digelar sebagai “baqa billah”, Kamil Mukamil”, Al Insan kamil kerana ia dapat menghimpunkan antara zahir dan batin, yakni ruh dan hatinya kekal kepada Allah tetapi zahir tubuh kasarnya tetap dengan manusia. Hati mereka kekal dengan Allah tak kira masa dan tempat, tidur atau jaga sentiasa mereka bermusyahadah kepada Allah. Ini adalah maqam khawas al khawas. Semua gerak geri mereka sudah jadi ibadat. Hatta berak kencing mereka, tidur mereka dan sebagainya. 

Ilmu mereka adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ghazali, ilham dan ilmu mukasyafah yang diterima nya tidak bukan adalah sama dengan istilah wahyu semuanya datang terus dari Allah. Cuma kalau Rasul dan Nabi di panggil Wahyu dan manusia biasa yang kamil di panggil Ilham. 

Saya rasa sekadar ini lah yang termampu oleh saya. Mungkin ada kelemahan dan ketinggalan dalam istilah atau pengertian. Wahai Tuan -tuan sila perbetulkan dan tambah lagi mana-mana yang kurang.Mengenai kaedah zikir pada maqam-maqam saya rasa ada saudara yang akan menghuraikanya berpandukan kaedah tariqat masing-masing.InsyaAllah. 

Semoga Allah mengampun saya atas segala kesilapan.Dan harap memberi manafaat pada semua. 

Sumber rujukan: 

Al-Hikam 
Ihya Ulumudin 
Rahsia Mengenal Diri 
Mengenal Diri Dan Wali Allah 
Awarif al Ma’arif 
Mengenal Ilmu Tasauf 
Siapa Wali 
Risalatul Qusyairiah 
Sirrul Asrar 
Perkembangan Tasauf dari Abab ke Abab 
Al-Quran dan Al Hadis 
Dan lain-lain 
Serta pengalaman bersama dan tunjuk ajar Yang Amat Mulia Mursyid Tercinta 

~~~~~ o O o ~~~~~

(Rujukan: http://www.bicarasufi.com/)