Musnahnya Kaum Luth AS (Kaum Sodom dan Gomorah) – Pompeii

*Pompeii: Sejarah Kaum Sodom dan Gomorah (Kaum Nabi Luth AS)?

(Demikian juga) kaum Nabi Luth telah mendustakan Rasul-rasul (yang diutus kepada mereka). Ketika saudara mereka – Nabi Luth, berkata kepada mereka:

“Hendaknya kamu mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Sesungguhnya aku ini Rasul yang amanah, (yang diutus oleh Allah) kepada kamu. Oleh itu, takutilah kamu akan (kemurkaan) Allah, dan taatlah kepadaku. Dan aku tidak meminta kepada kamu sebarang upah mengenai apa yang aku sampaikan (dari Tuhanku); balasanku hanyalah terserah kepada Allah Tuhan sekalian alam.”

“Patutkah kamu melakukan hubungan jenis dengan lelaki dari kalangan manusia? Dan kamu tinggalkan apa yang diciptakan oleh Tuhan kamu untuk kamu (melakukan hubungan yang halal) dari badan isteri-isteri kamu? (Kamu orang-orang yang bersalah) bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas (keinginan kebanyakan haiwan)!”

Mereka menjawab: “Sesungguhnya jika engkau tidak berhenti wahai Luth (daripada mencaci dan menyalahkan kami), nescaya engkau akan diusir keluar!”

Nabi Luth berkata: “Sesungguhnya aku dari orang-orang yang bencikan perbuatan kamu yang keji itu”.

(Nabi Luth berdoa): “Wahai Tuhanku, selamatkanlah daku dan keluarga serta pengikut-pengikutku dari apa yang dilakukan oleh golongan (yang jahat) itu.”

Maka Kami selamatkan dia dan keluarganya serta pengikut-pengikutnya – semuanya. Kecuali seorang perempuan tua tertinggal dalam golongan yang kena azab itu. Kemudian Kami hancurkan yang lain (yang menentang Nabi Lut). Dan Kami hujani mereka dengan hujan (azab yang membinasakan); maka amatlah buruknya hujan azab yang menimpa kaum yang telah diberi amaran. Sesungguhnya peristiwa yang demikian, mengandungi satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah); dan dalam pada itu, kebanyakan mereka tidak juga mahu beriman.

(Surah Asy Syu’araa’ ayat 160 – 174).

Kemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang amat dasyat ini memberikan pengajaran yang cukup bermakna kepada manusia. Catatan sejarah menunjukkan bahawa kota tersebut merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh begitu banyaknya lokasi penzinaan atau pelacuran. Pusat pelacuran yang begitu banyak tidak terkira hingga organ-organ kemaluan lelaki dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi kaum ini, yang berdasarkan kepada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya dilakukan di tempat terbuka serta dipertontonkan dan tidak harus dilakukan secara bersembunyi. Na’uzubillahhiminzaliq!

Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam sekelip mata sahaja tanpa meninggalkan sedikit pun yang hidup. Penduduk di kota ini langsung tidak mengetahui akan bala bencana yang bakal melanda mereka secara tiba-tiba di mana terdapat ‘fosil’ penduduk kota ini yang wajahnya masih kelihatan berseri-seri serta terdapat juga jasad kaku sebuah keluarga yang sedang asyik menyantap makanan ketika bencana melanda. Selain daripada itu, terdapat juga jasad-jasad kaku penduduk kota ini yang sedang asyik melakukan persetubuhan.

Selain daripada itu, terdapat juga ‘fosil’ sejumlah pasangan yang sama jantina sedang melakukan hubungan sejenis (homoseks) selain daripada ‘fosil’ pasangan lelaki dan wanita yang sedang melakukan persetubuhan. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah ‘fosil’ mayat yang seolah-olah diawet dengan raut wajah yang masih tegar, di mana secara umumnya, raut wajah mereka menunjukkan kekejutan yang teramat sangat seolah-olah bencana yang melanda tidak langsung memberi kesempatan kepada mereka untuk bangun dari tempat duduk mereka. Subhanallah!

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Kota Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa azab yang diceritakan di dalam Alqur’an tentang penghancuran peradaban kaum Nabi Luth AS yaitu Kaum Sodom dan Gomorah. Masyarakat Sadum atau Sodom adalah masyarakat yang rendah akhlaknya, rosak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik orang lain merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat berkuasa, manakala yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas dan budaya hidup mereka adalah perbuatan homoseks di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya.

Seorang ‘pendatang’ yang masuk ke Sodom tidak akan selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga, barangnya akan dirampas. Jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya menjadi korban. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok, maka ia akan menjadi rebutan mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya. Sebaliknya bila si pendatang itu seorang perempuan muda maka dia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Sisa-sisa peninggalan kota Pompeii dan Herculaneum yang “diabadikan” lahar gunung Vesuvius menguburkannya selama 20 abad membuktikan bahawa kehidupan masyarakat Pompeii di tahun 79 M itu tidak ada bedanya dengan gaya hidup ketika ini yang penuh dengan tempat-tempat hiburan umum seperti kelab malam, rumah urut, disco, hiburan-hiburan malam, pusat judi dan berbagai-bagai pertunjukan pergaduhan dan perkelahian di Amphitheater (i.e. gladiator, rodeo binatang buas, wwe, wrestling dll).

Nama asal Colosseum adalah Amfiteatrum Flavium.  Colosseum ini dibina oleh kaisar Vespasiano dan diresmikan pada 80 M.  Pada masa itu Colosseum tersebut merupakan arena “Naumachie”  pertempuran militer, “Munera” – ‘sabung’ hamba belian dan “Venationes” adu/perburuan binatang buas liar. Colosseum ini mampu menampung hingga 87,000 orang.  Kemajuan teknologi, seni, budaya dan gaya hidup penduduk Pompeii dan Herculaneum masa itu hampir sama jika dibandingkan masyarakat sekarang.

Selain daripada itu, gaya hidup liberal yang berselindung disebalik slogan ‘hak azasi manusia’ yang diikuti dengan tertubuhnya undang-undang yang membenarkan industri pelacuran, heterosexual, homosexual dan sex bebas, telah terbukti dengan menggunakan hiasan organ kelamin lelaki dan mengabadikannya dalam bentuk monumen serta menjadikannya sebagai tanda petunjuk arah menggantikan tanda panah di seluruh pelosok kota.

Toilet sebuah brothel (rumah pelacuran) kelas atas di kota Pompeii

Tandas sebuah brothel (rumah pelacuran) kelas atas di kota Pompeii

Beberapa lukisan dinding yang banyak menghiasi rumah-rumah pelacuran dan kamar  peribadi kalangan atas Pompeii, menunjukkan betapa bebasnya kehidupan seksual masyarakat Pompeii. Hubungan seks bebas  sesama lelaki, sesama wanita, dan heteroseksual merupakan perbuatan lumrah yang dilindungi undang-undang yang menempatkan status sosial pekerja seks komersil lebih terhormat berbanding kerja makan gaji lebih-lebih lagi dibandingkan dengan hamba belian sebagai gladiator.

Mozaik adegan-adegan sexual

Lukisan yang menggambarkan “keperkasaan”  organ seksual lelaki yang diumpamakan dengan organ seksual kuda

Sebahagian masyarakat Malaysia ketika ini, disedari atau tidak, juga semakin terpengaruh pada gaya hidup kaum liberal. Kehidupan sebagian masyarakat Malaysia dari hari ke hari semakin liberal mengadaptasi gaya hidup masyarakat Barat yang berkiblat pada gaya hidup masyarakat Pompeii 2000 tahun yang lalu. Kepentingan individu dan kepentingan kelompok sering dijadikan justifikasi untuk menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Ramai juga tokoh masyarakat dari pelbagai keturunan dan agama dengan penajaan berbagai organisasi masyarakat, lantang menuntut kebebasan dalam berbagai aspek kehidupan dengan alasan menegakkan hak asasi manusia dan pluralisme. Sebagai contoh Puntianak Ambiga dan suku sakatnya yang menganjurkan pengiktirafan perkahwinan sejenis. Na’uzubillahhiminzaliq!

Seharusnya kita sebagai umat Islam di Malaysia haruslah melihat kepada sejarah bencana yang melanda Pompeii dan Herculaneum yang terbukti berakhir dengan amat tragis sebagaimana yang dialami oleh umat Nabi Luth AS dan dijadikan pengajaran agar kita tidak terjerumus sama menjadi manusia yang dibayar ‘cash’ oleh Allah di dunia.

Kemusnahan Pompeii, lahiriahnya memang terjadi akibat letusan gunung Vesuvius disertai dengan gempa bumi, tetapi pada hakikatnya, semua itu tak lepas dari kemurkaan Allah SWT atas perbuatan mahlukNya yang ingkar dan  kembali menjalani gaya hidup LIBERAL, tidak beriman pada-Nya bahkan dengan sombongnya mengatakan bahwa perintah dan aturan Tuhan adalah kekangan, tidak adil dan  melanggar hak asasi  manusia. Contohnya sepertimana pendapat Kassim Ahmad yang mempersoalkan pula suruhan dan tegahan Allah di Malaysia.

Berdasarkan beberapa kejadian bencana demi bencana yang sudah mula Allah kirimkan di Malaysia, kita sebagai umat Islam haruslah cepat sedar dan peka dengan peringatan ‘kecil-kecilan’ ini. Allah Azzawajalla mungkin sedang memberikan peringatan kepada rakyat Malaysia yang menjadikan Islam sebagai agama rasminya serta rakyat keseluruhannya dengan bencana air (banjir, kemarau) sebagaimana dialami umat nabi Nuh AS, bencana angin (ribut, jerebu), bencana api (suhu tinggi dan kelembapan tinggi spt yg kita alami sekarang), juga bencana penyakit dan perang saudara (denggi, taun, aids, flu burung, chikungunya, sengketa antara kaum dsb) sebagaimana dialami kaum Fir’aun, umat Nabi Daud AS dan kaum Luth AS.

Mudah-mudahan fakta-fakta di atas mampu memastikan hati rakyat Malaysia terutamanya yang beragama Islam untuk sentiasa konsisten dalam melaksanakan perintah Allah hingga mampu menyiahkan azab sepertimana yang melanda penduduk Pompeii dan Herculaneum. Ya, azab Allah kita tak dapat jangka kerana manusia itu lemah sifatnya. Namun, Allah yang Maha Pengasih, sentiasa memberikan tanda-tanda amaran dari langit agar manusia itu berfikir dan bergantung harap kepada-Nya agar azab-Nya tidak diturunkan kepada rakyat negara kita. Allah SWT yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun sentiasa menunggu doa kita ke hadrat-Nya setiap masa, kerana DIA adalah lebih dekat dari urat leher kita. Marilah kita sebagai rakyat Malaysia atau seluruh Nusantara ini berdoa ke hadrat Allah agar bala bencana akhir zaman ini tidak diturunkan kepada warga masyarakat kita sepertimana yang terjadi kepada Kota Pompeii. Aminn…

Nota : Kisah Nabi Luth dalam Al-Quran turut diabadikan di dalam 12 surah selain yang di atas di antaranya: Surah Al Anbiyaa’ ayat 74 dan 75, Surat Hud ayat 77 -83, Surat Al Qamar ayat 33 – 39 dan Surat At Tahrim ayat 10.

Diubahsuai daripada: http://betamedialink.blogspot.com/ dan http://kerajaanagama.wordpress.com/

3 Respons

  1. terimakasih tulisannya semoga bisa menjadi pelajaran bagi kaum yg berfikir

  2. Semoga jadi pengingat bagi perilaku homoseksual yang kembali marak saat ini

  3. homoseks
    pengajaran buat semua

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: