Siri Peperangan Rasullullah SAW

Umum mengetahui, antara faktor kejayaan penguasaan Islam ke atas dunia pada suatu masa dahulu adalah menerusi peperangan / jihad fi sabilillah. Bermula dari episod penghijrahan Rasulullah dan para sahabat ke kota Madinah, tempoh 10 tahun sebelum kewafatan baginda banyak dipenuhkan dengan siri-siri peperangan yang pelbagai.

Di sisi ulama’ Sirah, ilmu peperangan Rasulullah ‘Alaihi Salam dikenali sebagai ‘ilmu al-Maghazi’. Ilmu ini dihafal dan dipelihara dengan bersungguh-sungguh oleh para sahabat, kemudian diajarkan kepada generasi Salafus Soleh yang hidup selepas mereka. Ilmu ini tidak boleh dilupakan oleh umat Islam pada mana-mana generasi pun, kerana musuh Islam sentiasa mengintai peluang-peluang untuk melancarkan perang ke atas Islam, baik pelancaran perang bersenjata atau serangan pemikiran (Ghazwatul Fikr).

Telah berkata salah seorang daripada Salafus Soleh yang terkenal – Zainal Abidin Ali bin Hussein (cucu kepada sahabat – Saidina Ali) ; “Kami di ajar berkenaan Maghazi (kisah-kisah peperangan) Rasulullah sepertimana kami diajar surah-surah dari Al-quran”.

Sepanjang hayat baginda, Rasulullah ‘Alaihi Salam telah memimpin sebanyak 28 Ghazwah*. 9 daripadanya berlaku pertembungan dengan pihak musuh, iaitu perang Badar, Uhud, al-Muraisi’, Ahzab, Quraizah, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain dan Thoif. Manakala 19 lagi tidak berlaku pertembungan disebabkan musuh melarikan diri.

Namun begitu, siri peperangan di dalam sejarah Islam tidak terhad kepada itu sahaja. Rasulullah telah mengutuskan labih daripada 50 Sariyah*. Menurut Ibnul Qayyim al-Jauzi, bilangan Sariyah jika dicampurkan dengan Bi’sah* hampir menjangkau 60 semuanya.

*Ghazwah : peperangan yang dihadiri oleh Rasulullah, dan baginda bertindak sebagai Amir (panglima).

*Sariyah : peperangan yang tidak dihadiri oleh Rasulullah, tetapi baginda melantik Amir untuk mengetuainya.

*Bi’sah : delegasi atau utusan yang dihantar oleh Rasulullah kerana sesuatu urusan.

Jika dihitung, jumlah peperangan yang diharungi oleh Rasulullah dan para sahabat (merangkumi Ghuzwah, Sariyah, dan Bi’sah) mencapai kiraan 80 kali. Dan purata tahunan generasi wahyu Ilahi tersebut berperang adalah sebanyak tujuh atau lapan kali setahun. MasyaAllah.

Jika diintai kalimah ‘jihad’ dari sudut bahasa, maknanya kuasa, upaya, sukar dan payah. Namun dari sudut isltilah, secara umumnya jihad memberi makna; “Segala daya usaha, segenap kekuatan yang dicurahkan untuk menegakkan hukum atau perintah Allah di atas muka bumi ini dan membersihkan segala Thagut yang menjadi penghalang kepada jalan dakwah”.

Jihad Umum ini mengandungi semua jenis jihad termasuklah jihad mali (harta), jihad tablighi (menyampaikan dakwah), jihad ta’limi (pembelajaran), jihad siyasi (politik) dan jihad qital (peperangan).

Tidak dinafikan terdapat pelbagai bentuk takrifan jihad di sisi ulama’. Adapun jihad dengan pengertiannya yang khusus diertikan sebagai qital fi sabilillah (berperang di jalan Allah) semata-mata mengharapkan keredhaan Allah tanpa ada sedikitpun tujuan duniawi.

Untuk itu, tiada alasan lagi untuk kita lari daripada Jihad. Rasulullah ‘Alaihi Salam telah menyatakan sabdanya menerusi riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah;

مَن ماتَ ولمْ يغزُ، ولم يُحَدِّثْ به نفسَهُ، ماتَ على شُعبةٍ من نِفاقٍ

Maksudnya : “Sesiapa yang mati dalam keadaan tidak berperang dan tidak pernah berkata pada dirinya untuk berperang (yakni berniat untuk berperang memepertahankan Islam), maka matinya itu satu cabang dari mati Munafiq”. Na’uzubillahi min zalik.

Kesan jihad Rasulullah ‘Alaihi Salam, seluruh tanah Arab telah berjaya disatukan di bawah panji-panji Islam. Pejuang Islam tika itu sangat digeruni bukan sahaja di sekitar Tanah Arab, malah mencakupi dua kuasa besar dunia pada masa itu iaitu Empayar Rom dan Parsi.

Perginya kekasih Allah menyambut seruan Ilahi. Namun roh, semangat dan perjuangan baginda ‘Alaihi Salam diteruskan oleh generasi mendatang sehingga Islam pernah menakluk 2 per 3 dunia. Penguasaan Islam melebar dari Timur ke Barat (China ke Perancis) dan dari Utara ke Selatan (Siberia ke Lautan Hindi). Semua ini disebabkan izzahnya (mulia) individu muslim dengan keagungan Islam.


Perang Badar

Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Rasulullah SAW berangkat bersama tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170 kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi.

Sementara jumlah pasukan kafir Quraisy sepuluh kali lipat. Tak kurang seribu tiga ratusan prajurit. Dengan seratus kuda dan enam ratus perisai, serta onta yang jumlahnya tak diketahui secara pasti, dan dipimpin langsung oleh Abu Jahal bin Hisyam. Sedangkan pendanaan perang ditanggung langsung oleh sembilan pemimpin Quraisy. Setiap hari, mereka menyembelih sekitar sembilan atau sepuluh ekor unta.

Perang Uhud


Kekalahan di Badar menanamkan dendam mendalam di hati kaum kafir Quraisy. Mereka pun keluar ke bukit Uhud hendak menyerbu kaum Muslimin. Pasukan Islam berangkat dengan kekuatan sekitar seribu orang prajurit, seratus diantaranya menggunakan baju besi, dan lima puluh lainnya menunggang kuda.

Di sebuah tempat bernama asy-Syauth, kaum muslimin melakukan shalat subuh. Tempat ini sangat dekat dengan musuh sehingga mereka bisa dengan mudah saling melihat. Ternyata pasukan musuh berjumlah sangat banyak. Mereka berkekuatan tiga ribu tentara, terdiri dari orang-orang Quraisy dan sekutunya. Mereka juga memiliki tiga ribu onta, dua ratus ekor kuda dan tujuh ratus buah baju besi.

Pada kondisi sulit itu, Abdullah bin Ubay, sang munafiq, berkhianat dengan membujuk kaum muslimin untuk kembali ke Madinah. Sepertiga pasukan, atau sekitar tiga ratus prajurit akhirnya mundur. Abdullah bin Ubay mengatakan, “Kami tidak tahu, mengapa kami membunuh diri kami sendiri?”

Setelah kemunduran tiga ratus prajurit tersebut, Rasulullah melakukan konsolidasi dengan sisa pasukan yang jumlahnya sekitar tujuh ratus prrajurit untuk melanjutkan perang. Allah memberi mereka kemenangan, meski awalnya sempat kocar-kacir.

Perang Mu’tah

Perang Mu’tah merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Pemicu perang Mu’tah adalah pembunuhan utusan Rasulullah bernama al-Harits bin Umair yang diperintahkan menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam, ditangkap dan dipenggal lehemya. Untuk perang ini, Rasulullah mempersiapkan pasukan berkekuatan tiga ribu prajurit. Inilah pasukan Islam terbesar pada waktu itu.

Mereka bergerak ke arah utara dan beristirahat di Mu’an. Saat itulah mereka memperoleh informasi bahwa Heraklius telah berada di salah satu bagian wilayah Balqa dengan kekuatan sekitar seratus ribu prajurit Romawi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari pasukan Lakhm, Judzam, Balqin dan Bahra kurang lebih seratus ribu prajurit. Jadi total kekuatan mereka adalah dua ratus ribu prajurit.

Perang Ahzab

Dua puluh pimpinan Yahudi bani Nadhir datang ke Makkah untuk melakukan provokasi agar kaum kafir mau bersatu untuk menumpas kaum muslimin. Pimpinan Yahudi bani Nadhir juga mendatangi Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk melakukan apa yang mereka serukan pada orang Quraisy. Selanjutnya mereka mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah untuk melakukan hal yang sama. Semua kelompok itu akhirnya sepakat untuk bergabung dan menghabisi kaum muslimin di Madinah sampai ke akar-akarnya. Jumlah keseluruhan pasukan Ahzab (sekutu) adalah sekitar sepuluh ribu prajurit. Jumlah itu disebutkan dalam kitab sirah adalah lebih banyak ketimbang jumlah orang-orang yang tinggal di Madinah secara keseluruhan, termasuk wanita, anak-anak, pemuda dan orang tua. Menghadapi kekuatan yang sangat besar ini, atas ide Salman al-Farisi, kaum muslimin menggunakan strategi penggalian parit untuk menghalangi sampainya pasukan musuh ke wilayah Madinah.

Perang Tabuk

Romawi memiliki kekuatan militer paling besar pada saat itu. Perang Tabuk merupakan kelanjutan dari perang Mu’tah. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dan raja Ghassan. Informasi tentang jumlah pasukan yang dihimpun adalah sekitar empat puluh ribu personil. Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.

Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah saw. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Abbas datang menyerahkan harta yang cukup banyak. Thalhah, Sa’d bin Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah, semuanya datang memberikan sedekahnya. Ashim bin Adi datang dengan menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma dan diikuti oleh para sahabat yang lain.

Jumlah pasukan Islam yang terkumpul sebenarnya cukup besar, tiga puluh ribu personil. Tapi mereka minim perlengkapan perang. Bekal makanan dan kendaraan yang ada masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah pasukan. Setiap delapan belas orang mendapat jatah satu onta yang mereka kendarai secara bergantian. Berulangkali mereka memakan dedaunan sehingga bibir mereka rusak. Mereka terpaksa menyembelih unta, meski jumlahnya sedikit, agar dapat meminum air yang terdapat dalam kantong air onta tersebut. Oleh karena itu, pasukan ini dinamakan jaisyul usrrah, atau pasukan yang berada dalam kesulitan.

Kisah-kisah di atas, adalah kisah tentang kiprah kader-kader inti perjuangan Islam. Bersama (pertolongan) Allah mereka mengukir prestasi gemilang yang selalu dikenang sepanjang masa.

Allahuakbar!!!

(Rujukan: http://mukhlisahfillah.blogspot.com dan http://muchammadelri.wordpress.com)

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: