Tentang Nabi Ayub AS

Allah swt berfirman:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

”dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Qs. Shuad (38): 41).

Dalam Al Qur’an nama Ayub (أَيُّوبْ) terdapat 4 kali: QS. Al Baqarah (2):163; Al An’am (6):84; Al Anbiya’(21):83 dan Shad (38):41.

Akhbar menceritakan bahwa Nabi Ayyub عليه السلام berasal dari keturunan Romawi. Dia termasuk salah satu keturunan Al ‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim عليه السلام

Di antara keturunan Al ‘Aish yang menjadi Nabi hanyalah Ayyub عليه السلام. Ibunya adalah putri Nabi Luth عليه السلام. Istri beliau bernama Rahmah. Dia adalah putri dari Ifratsim bin Yusuf عليه السلام . Menurut versi Al ‘Azizi, Ayyub عليه السلام ini sudah menjadi seorang Nabi sejak zamannya Ya’qub. Dia diutus oleh Allah kepada penduduk Hauran daerah di sekitar Damaskus. As-Suddi meriwayatkan bahwa Ayyub عليه السلام adalah orang yang kaya raya. Dia selalu memuliakan para tamu yang berkunjung ke desanya, memberikan tempat penginapan bagi orang-orang asing dan senantiasa menyedekahkan barang dagangan dan tanaman pertaniannya. Di samping itu, dia juga dikaruniai banyak anak yang menjadikannya menjadi keluarga besar.

Silsilah Nasab Nabi Ayyub dan Dzulkifli عليهما السلام

Ibrahim عليه السلام

Ishaq عليه السلام

Ish

Rum

Tawikh

Amush

Ayyub عليه السلام + Rahmah

Dzulkifli عليه السلام

(yang berarti “yang mempunyai jaminan”)

Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa Nabi Ayyub عليه السلام ini memiliki kebiasaan beribadah melampaui orang-orang biasa. Hal inilah yang membuat Iblis menjadi tidak senang pada Ayyub عليه السلام. Pada saat itu, Iblis belum dilarang untuk naik ke langit. Di atas sana, Iblis berbincang-bincang dengan para malaikat yang selalu memuji Ayyub عليه السلام karena kepribadiannya yang suka beribadah, dermawan dan memuliakan tamu-tamu yang datang. Maka Iblis berkata sendiri, ‘”jika Ayyub عليه السلام ini jatuh miskin, maka dia tidak akan lagi menyembah Allah. Dan seandainya aku diberi wewenang oleh Allah untuk menguras hartanya, maka niscaya dia akan meninggalkan ibadahnya.” Kemudian Allah mewahyukan pada Iblis, Aku sudah memberikan wewenang padamu untuk merusak harta Ayyub عليه السلام.”

Iblis kemudian mengumpulkan prajurit-prajuritnya untuk pergi menuju ladang dan hewan ternak milik Ayyub عليه السلام. Ayyub sendiri baru menyadari adanya suatu kejanggalan setelah ada api yang berkobar dahsyat keluar dari dalam tanah untuk membakar habis tanaman-tanamannya. Kemudian api itu berhembus menerpa hewan-hewan ternaknya dan akhirnya luluh lantak habis tidak tersisa.

Setelah itu Iblis menemui Ayyub عليه السلام yang sedang berdiri shalat di mihrabnya. Dia berkata pada Ayyub عليه السلام, “Tuhan yang kau sembah itu telah membakar semua tanamanmu dan membinasakan semua hewan ternakmu.” Ayyub menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah. Dia-lah yang telah memberikanku karunia-Nya dan kemudian mengambiiya kembali dariku.” Lalu Iblis kembali naik ke langit dan bertemu dengan para malaikat, dia ditanya, “Bagaimana usahamu!” tanya malaikat. ‘Ayyub عليه السلام, sabar menerimanya:’ jawab Iblis. ‘Ayyub عليه السلام memang telah terpaut dengan janji Tuhamya. Seandainya Allah memberikan kewenangan bagku untuk mencelakakan anak-anaknya, maka tentu dia tidak akan tahan melihatnya,” gumam Iblis kemudian. Allah mengizinkan Iblis untuk melakukan rencana buruknya. Lalu Iblis mendatangi kediaman keluarga Ayyub عليه السلام dan menggoyahkannya dengan keras sampai roboh.

Maka semua isi rumah yang terdiri dari sanak famili Ayyub عليه السلام celaka dan binasa. Kemudian Iblis dengan wujud seorang pembantu keluarga menemui Ayyub عليه السلام yang sedang khusyu’ beribadah di ruangan mihrabnya. Iblis mendekati Ayyub sambil menangis terisak-isak. Ayyub عليه السلام berkata padanya, ‘Apa yang telah terjadi, Bi!” Pembantu itu menjawab, ‘Rumah tuan hancur dan menimpa semua sanak famili yang ada di dalamnya. Mereka semua menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. Kemudian Ayyub عليه السلام berujar, “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku dan kemudian mengambil kembali pemberian-Nya dariku.” Iblis datang kembali dengan wujud seorang pelayan keluarga, “Seandainya tuan menyaksikan musibah yang menimpa anak-anak tuan, niscaya tuan menyaksikan darah mereka mengalir, perut mereka pecah dan usus-ususnya keluar.” Iblis terus berkata demikian dengan nada memelas agar Ayyub عليه السلام merasa iba mendengarnya. Dan memang benar akhirnya hati Ayyub عليه السلام lemah lunglai kemudian menangis dan bekata, Ya Tuhan, seandainya aku tidak Engkau ciptakan.” Mendengar ucapan Ayyub عليه السلام tersebut, Iblis gembira. Akan tetapi tak lama kemudian Ayyub عليه السلام langsung memohon ampun atas keteledorannya, seterusnya beliau bersikap sabar dan ikhlas menerima ketentuan Tuhannya.

Melihat keteguhan Ayyub عليه السلام tersebut, Iblis berkata sendiri, “Seandahya Allah memberikan kewenangan bagiku untuk merusak anggota tubuhnya, maka dia tidak mungkin akan sabar menerimanya.” Dan Allah mengizinkan Iblis untuk melakukan hal itu. Maka Iblis langsung mendatangi mihrabnya Ayyub عليه السلام yang ditemukan sedang khusyu’ beribadah di dalamnya. Iblis kemudian mendekat pada Ayyub عليه السلام untuk meniup hidungnya. Secara spontan, tiba-tiba sekujur tubuh Ayyub عليه السلام mulai ujung kepala sampai telapak kaki terasa gatal-gatal. Ayyub lalu menggaruknya dengan batu sampai dagingnya melepuh, kuku-kukunya tercerabut dari akarya, kulitnya lepas sehingga tulang-belulangnya kelihatan.

Di samping itu, aroma tubuhnya mengeluarkan bau badan yang busuk dan hal ini membuat belatung-belatung kecil keluar dari sekujur tubuhnya. Penyakit itu dirasakan begitu pedih oleh Ayyub عليه السلام menjalar pada jasadnya. Ada yang mengatakan Ayyub عليه السلام mempunyai tiga orang istri. Setelah mereka melihat kondisi suaminya yang terkena penyakit kulit begitu menjijikkan, akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkannya. Dan satu-satunya istri yang masih setia pada Ayyub عليه السلام hanyalah Rahmah. Tidak berhenti sampai di situ, Iblis kemudian mendatangi penduduk kampung dan berseru, “Saudara-saudara semua harus mengusir Ayyub عليه السلام dari perkampungan ini. Sebab jika dia masih berdiam diri di sini, maka saudara-saudara nanti akan terkena penyakitnya!” Penduduk kampung pun ramai-ramai mendatangi Rahmah dan berkata padanya, “Hai Rahmah, bawalah suamimu pergi. Dan jika tidak, maka kami akan mernbunuhnya.”

 

puisi-sedih

Mendengar ancaman tersebut, Rahmah berkemas untuk memboyong Ayyub عليه السلام. Dia membawa suaminya dengan cara di gendong di kedua pundaknya. Mereka berdua menelusuri perjalanan sampai berhenti di suatu retuntuhan. Di tempat itulah, Rahmah merebahkan suaminya. Dan Ayyub عليه السلام pun tidur dengan tanah sebagai alasnya. Menurut penuturan Wahab bin Munabbih, Ayyub عليه السلام terlelap tidur di atas tanah dengan belatung yang terus menerus keluar dari sekujur tubuhnya.

Selain istrinya, tidak ada seorang pun yang mau mendekatinya. Hal itu dijalani mereka berdua selama tujuh tahun. Rahmah sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari- harinya sengaja pergi ke perkampungan. Dia bekerja pada mereka dan hasilnya untuk membeli roti dan makanan. Suatu saat Iblis menemui penduduk kampung untuk menghasut mereka. Dia berseru, “Saudara-saudara semua jangan membiarkan Rahmah masuk ke perhampungan ini. Sebab dia nanti akan menularkan penyakit yang diderita suamninya.” Maka ketika Rahmah datang untuk bekerja, mereka langsung menegurnya, “Hai Rahmah, jauhkan suamimu dari kami. Jia tidak, maka kami akan melemparinya dengan batu sampai dia mati!” kata mereka mmgancam. Rahmah akhirnya mengalah dlan membawa pergi suaminya dengan digendong di atas kedua pundaknya. Dia pergi bersama Ayyub عليه السلام menuju tempat yang jauh dari perkampungan. Setelah sampai pada tempat yang dituju, Rahmah meletakkan suaminya di atas hamparan kerikil dengan batu sebagai bantalnya. Kemudian dia berkata, “Suamiku, mohonlah kepada Allah agar penyakimu sembuh.” Tetapi Ayyub عليه السلام menjawabnya dengan penuh kepasrahan, “Rahmah! Allah sengaja tidak memberikan pada kita akan nikmat-nikmat-Nya. Hal itu dimaksudkan untuk mencoba kita, apakah kita sabar dalam menghadapi musibah-Nya atau tidak.”

Rahmah sendiri mencoba untuk pergi dan mengetuk pintu-pintu rumah penduduk untuk meminta belas kasih mereka. Tetapi mereka malah mengusirnya. Pergilah kau dari daerah kami! Jangan kau tularkan penyakit suamimu pada kami!” Maka tatkala ‘Rahmah sudah kehabisan cara untuk mendapatkan makanan, sedangkan Ayyub عليه السلام, suaminya, sudah merasa sangat lapar, maka dia memutuskan untuk memotong gelungan rambutnya. Kemudian gelungan itu dijualnya demi sepotong roti. Setelah itu, dia pulang menemui Ayyub عليه السلام dengan membawa roti. Ayyub bertanya padanya, “Dan mana engkau peroleh roti ini, istriku!” Dan Rahmah pun menceritakan usahanya untuk mendapatkan roti itu, yaitu dengan cara menukarnya dengan gelungan rambutnya. Begitu mendengar penuturan istrinya, Ayyub عليه السلام kontan saja menangis terisak-isak, kemudian ia bersabar dan pasrah.

Dalam sebuah hadits riwayat Mu’adz bin Jabal ra, dia mendengar Rasuiullah saw bersabda, ‘Jika ada nanah atau darah yang keluar dari salah seorang lelaki, kemudian istrinya mengusap dengan jilatan lidahnya dan dia tidak ridha pada isteriya itu, maka lelaki itu nanti pada hari kiamat akan ditempatkan di dalam peti yang terbuat dari api sampai turun ke dasar Jahanam.”

Selanjutnya Wahab bin Munabbih menuturkan, suatu saat Iblis menyamar sebagai seorang dokter bertemu pada Rahmah, istrinya Ayyub عليه السلام. Iblis berkata; ” Apakah Anda benar istrinya Ayyub ?” Benar ” kata Rahmah singkat, kemudian Iblis melanjutkan, aku akan mengobati penyakit suamimu dengan syarat dia harus memotong hewan tanpa menyebut nama Allah. Di samping itu dia juga harus meminum khamr.” Lalu Rahmah pulang dan menceritakan hal itu pada Ayyub عليه السلام. Mendengar penuturan istrinya itu, Ayyub عليه السلام marah dan berkata, “Celaka kamu, dia itu Iblis laknatullah.” Kemudian Ayyub عليه السلام bersumpah bahwa beliau akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali setelah dia sembuh dari penyakitnya. Penyebab kemarahan Ayyub عليه السلام dikarenakan Rahmah menerima begitu saja persyaratan dari Iblis tanpa mengatakan bahwa Allah sendiri nanti yang akan menyembuhkannya.

Selanjutnya Ayyub عليه السلام menangis dan bermunajat,

‘Ya Tuhanku, aku tidak mungkin bisa menentukan dua pilihan kecuali di sana ada ridha-Mu. Aku tidak peduli dengan keinginanku tanpa disertai ridha-Mu. Aku sama sekali tidak merasa kenyang ketika makan karena takut aku lupa pada orang yang lapar. Maka dosa apa yang aku lakukan sehingga Engkau menyiksaku seperti ini.” Kemudian Allah mewahyukan pada Ayyub, ‘Wahai Ayyub! Apakah kesabaranmu atas cobaan ini berkat pertolongan-Ku atau keinginanmu,” lalu turun lagi wahyu padanya, ‘Wahai Ayyub! Seandainya aku jadikan setiap helai rambut yang ada di tubuhmu itu kesabaran, maka kamu tidak akan kuat merasakan sebagian kepedihan yang menggejala di jasadmu.”

Menurut Al Kisa’i, ketika belatung itu terus keluar dan menjalar di sekujur tubuh Ayyub عليه السلام, sampai ada yang mau menyentuh lidahnya, maka Ayyub عليه السلام merasa khawatir hal itu mengganggu kesibukannya berdzikir kepada Allah. Beliau berdoa,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ , فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

83. dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”.

84. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (QS Al Anbiya’ (21);83-84

وأخرج أبو نعيم وابن عساكر عن الحسن قال : إن كانت الدودة لتقع من جسد أيوب فيأخذها إلى مكانها ويقول : كلي من رزق الله) الدر المنثور – السيوطي(

Dan dari Abu Nu’aim dan Ibn Asakir dari Hasan berkata, “Jika belatung itu terlepas atau terjatuh dari tubuh beliau (Ayyub) maka dikembalikan lagi ke tempatnya dan beliau berkata : “ makanlah dari rizki (yang diberikan) Allah.” (dalam Kitab Dur Al Mantsur – As Suyuthi)

As-Suddi menuturkan, setelah Ayyub عليه السلام mengucapkan doa di atas, maka Allah mengetahui bahwa Ayyub memang benar-benar telah kaget menerima penyakit itu (belatung yang mau merusak lisannya) sebab kesibukannya berdzikir pada-Nya. Maka datanglah malaikat Jibril menjenguk Ayyub عليه السلام dengad membawa; buah delima (ada yang mengatakan buah kelapa) dari surga. Lalu Ayyub عليه السلام bertanya padanya, “Siapakah Anda, wahai orang baik yang telah membuat aku gembira tatkala para shahabat dan orang-orang yang aku cintai meninggalkanku sendiri.”

Kemudian Jibril mendekatkan buah delima itu pada Ayyub عليه السلام agar dimakannya. Begitu Ayyub عليه السلام memakannya, maka semua rasa sakit yang diderita di dalam tubuhnya hilang seketika. Jibril berkata padanya, ‘Wahai Ayyub, bangunlah!? “

“Bagaimana aku bisa bangun, sedangkan jasadku tidak berdaya apa-apa,” jawab Ayyub عليه السلام. Maka Jibril memegang Ayyub dengan tangannya kemudian memapahnya! sekitar dua belas langkah, lalu berkata padanya, “Coba sekarang doronglah dengan kaki kananmu (untuk berjalan)!” Maka Ayyub melihat ada sebuah mata. air yang sejuk. Jibril kembali menyuruhnya, “Mandilah dengan air hangat dan minum dengan air dingin!” Maka ketika Ayyub melaksanakan saran tersebut, spontan saja kegantengan dan kemolekannya tampak kembali, tubuhnya bersih bagaikan perak yang bersinar. Lalu membawakan sebuah mantel dari surga. untuk dipakaikan pada Ayyub. Setelah itu Jibril memasangkah-mahkota dari

surga untuknya. Dengan demikian Ayyub menjadi sosok yang bersih bersinar bagaikan matahari yang sedang menerangi. Pada saat itu pula Ayyub langsung melakukan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur pada Allah atas nikmat dan keridhaan yang telah diberikan kepadanya.

Selanjumya Wahab bin Munabbih menuturkan, setelah Ayyub mandi di Sumber air tersebut, maka belatung yang ada pada tubuhnya menjadi bertebaran membentuk permadani emas. Kemudian belatung itu terbang di udara. Dan akhirnya apa yang tadinya sebagai musibah menjadi nikmat baginya. Menurut Abu Laits As Samarkindy, dalam Tanbihul Ghafilin, hari itu adalh 10 Muharram. Sedangkan menurut keterangan dari As-Suddi, konon Ayyub mandi di sumber air tersebut dan sembuh dari penyakitnya pada hari Nairuz (hari tahun baru Iran). Karenanya, kita menemukan tradisi menyemprotkan manisan dengan air pada hari Nairuz.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ditimpa musibah selama delapan belas tahun. Orang dekat dan orang jauh menolaknya, kecuali dua orang laki-laki saudaranya yang selalu menjenguknya setiap pagi dan petang hari. Suatu hari salah seorang dari keduanya berkata kepada temannya, ‘Ketahuilah, demi Allah, Ayyub telah melakukan sebuah dosa yang tidak dilakukan oleh seorang manusia di dunia ini.’ Temannya menanggapi, ’Apa itu?’ Dia menjawab, ’Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dan tidak mengangkat ujian yang menimpanya.’

Manakala keduanya pergi kepada Ayyub, salah seorang dari keduanya tidak tahan dan dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Maka Ayyub عليه السلام berkata, ’Aku tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan. Hanya saja, Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bersengketa dan keduanya menyebut nama Allah, lalu aku pulang ke rumah dan bersedekah untuk keduanya karena aku khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.’

Nabi saw bersabda, “Ayyub pergi buang hajat. Jika dia buang hajat, istrinya menuntunnya sampai di tempat buang hajat. Suatu hari Ayyub عليه السلام terlambat dari istrinya dan Allah mewahyukan kepada Ayyub عليه السلام, ”Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. Shad: 42) Istrinya menunggunya cukup lama. Dia melihat dan memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya dan dia lebih tampan dari sebelumnya. Ketika istrinya melihatnya, dia berkata, ”Semoga Allah memberimu berkah, apakah kamu melihat Nabiyullah, orang yang sedang diuji? Demi Allah, kamu sangat mirip dengannya jika dia itu dalam keadaan sehat.’ Ayyub عليه السلام berkata, ”Sesungguhnya akulah Ayyub.”

Ayyub عليه السلام memiliki dua tempat untuk mengeringkan hasil bumi, yang pertama untuk gandum dan yang kedua untuk jewawut, lalu Allah mengirim dua potong awan. Ketika awan yang pertama tiba di atas tempat pengeringan gandum, ia memuntahkan emas sampai ia melimpah, dan awan yang lainnya menumpahkan di tempat pengeringan jewawut sampai melimpah pula.”

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1/176-177), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (3/374-375) dari dua jalan dari Said bin Abu Maryam. Nafi’ bin Yazid menyampaikan kepada kami, Aqil memberitakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik secara marfu’.” Dan dia berkata, “Gharib dari hadits Az-Zuhri, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Aqil. Rawi-rawinya disepakati keadilan mereka. Nafi meriwayatkannya secara sendiri.”

Muslim meriwayatkan haditsnya, rawi-rawi lainnya adalah rawi-rawi Syaikhain. Jadi, hadits ini shahih. Ia dishahihkan oleh Ad-Dhiya’ Al-Maqdisi. Dia meriwayatkannya dalam Al-Mukhtarah (2/220-221) dari jalan ini. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (2091) dari Ibnu Wuhaib. Nafi’ bin Yazid memberitakan kepada kami.”

Perawi melanjutkan, pada saat Ayyub عليه السلام sembuh, Rahmah sedang pergi mencari makanan untuk suaminya, Ayyub عليه السلام. Tiba-tiba Iblis datang menemui Rahmah di jalan. Dia berkata, “Sampai kapan kau kerja keras seperti ini demi mengabdi pada suamimu yang tidak sabar menerima musibah? Bukankah dia pernah berjanji akan mencambukmu seratus kali jika ia sembuh dari penyakitnya?” Tetapi Rahmah terus berjalan untuk menemui Ayyub عليه السلام dengan tidak memperdulikan omongan Iblis tersebut. Sesampainya di tempat, Rahmah merasa kehilangan Ayyub عليه السلام. Dia mencari Ayyub ke mana-mana tetapi tidak juga ditemukan. “Ayyub! Apakah binatang buas telah memangsamu. Atau jangan- jangan kamu telah ditelan bumi!” seru Rahmah memanggil-manggil suaminya dengan nada cemas. Kemudian Ayyub عليه السلام datang dan berkata pada istrinya, “Hai wanita muda, siapa yang kau cari?” “Aku sedang mencari Ash-Shabir Ayyub,” jelas Rahmah tidak mengenal Ayyub عليه السلام yang berada di hadapannya. Pada saat itu Ayyub عليه السلام mengenakan pakaian mewah. Di atas kepalanya terdapat mahkota dan di sampingnya terlihat ada sumber air mengalir. Ayyub عليه السلام memang sudah sehat dan pulih kembali seperti sedia kala. Sehingga hal itu membuat Rahmah tidak mengenalinya. Karena sebelum ditinggalkan, Ayyub عليه السلام dalam keadaan sakit parah.

Dan Ayyub عليه السلام menyadari kebingungan yang menyelimuti istrinya. Dia berkata, “Apakah Anda masih ingat ciri-ciri Ayyubmu?” Rahmah akhirnya mengerenyitkan keningnya sambil mengingat ciri-ciri suaminya itu. Dan begitu ia sadar bahwa orang yang di depannya itu adalah orang yang dicarinya, dia berkata, “Sepertinya tuan mirip sekali dengan Ayyub عليه السلام.” Maka Ayyub pun tersenyum melihat istrinya. “Akulah Ayyub. Tuhanku telah menyembuhkanku,”

As-Suddi berkata, setelah Ayyub عليه السلام sembuh dari penyakitnya, dia merasa bingung akan sumpah yang pemah diucapkannya. Waktu itu, ia bersumpah, jika ia sembuh, maka ia akan mencambuk Rahmah sebanyak seratus kali. Hal inilah yang membuatnya tertekan. Karenanya, Jibril datang dan berkata pada Ayyub عليه السلام, “Hai Ayyub, ambillah seratus dahan dari ujung tangkai pohon. Kemudian jadikan dahan itu sebagai cambuk. Dan pukulkanlah cambuk itu pada Rahmah sekali saja. Maka kamu sudah bebas dari sumpahmu.” Ayyub عليه السلام akhimya mengerti petunjuk tersebut dan ia pun bebas dari beban sumpahnya. Masih menurut As-Suddi, beliau terus menerus merasakan kenikmatan dan kebahagiaan di atas sampai meninggal dunia. Usia beliau saat itu adalah tujuh puluh tiga tahun. Keterangan lainnya mengatakan bahwa usianya ketika meninggal dunia mencapai seratus tahun.

Setelah Ayyub عليه السلام wafat, beliau dimakamkan di Hauran. Sedangkan anak-anaknya sepeninggal Ayyub عليه السلام, senantiasa meneruskan ajaran ayahnya, yaitu beribadah dan taat kepada Allah. Anak Ayyub عليه السلام yang paling tua bemama Hawamil, kemudian disusul dengan Maqil, Rusyd, Rasyid dan Basyir (kelak menjadi Rasul dan Nabi Dzulkifli عليه السلام). Pada masa zaman Nabi Ayyub عليه السلام, raja yang berkuasa waktu itu adalah bernama Lam bin Di’am. Dia adalah salah seorang dari penguasa wilayah Syiria. (insya Allah akan dikisahkan pertempuran dengan Dzulkifli bin Ayyub عليه السلام)

Kisah Sultan Mesir jadi orang buangan

Seorang Sultan Mesir konon mengumpulkan orang orang terpelajar, dan-seperti biasanya–timbullah pertengkaran. Pokok masalahnya adalah Mikraj Nabi Muhammad. Dikatakan, pada kesempatan tersebut Nabi diambil dari tempat tidurnya, dibawa ke langit. Selama waktu itu ia menyaksikan sorga neraka, berbicara dengan Tuhan sembilan puluh ribu kali, mengalami pelbagai kejadian lain–dan dikembalikan ke kamarnya sementara tempat tidurnya masih hangat. Kendi air yang terguling karena tersentuh Nabi waktu berangkat, airnya masih belum habis ketika Nabi turun kembali.

Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu benar, sebab ukuran waktu disini dan di sana berbeda. Namun Sultan menganggapnya tidak masuk akal. Para ulama cendikia itu semuanya mengatakan bahwa segala hal bisa saja terjadi karena kehendak Tuhan. Hal itu tidak memuaskan raja.

Berita perbedaan pendapat itu akhirnya didengar oleh Sufi Syeh Shahabuddin, yang segera saja menghadap raja. Sultan menunjukkan kerendahan hati terhadap sang guru yang berkata,”Saya bermaksud segera saja mengadakan pembuktian. Ketahuilah bahwa kedua tafsiran itu keliru, dan bahwa ada faktor-faktor yang bisa ditunjukkan, yang menjelaskan cerita itu tanpa harus mendasarkan pada perkiraan ngawur atau akal, yang dangkal dan terbatas.”

Di ruang pertemuan itu terdapat empat jendela. Sang Syeh memerintahkan agar yang sebuah dibuka. Sultan melihat keluar melalui jendela itu. Di pegunungan nunjauh disana terlihat olehnya sejumlah besar perajurit menyerang, bagaikan semut banyaknya, menuju ke istana. Sang Sultan sangat ketakutan.

“Lupakan saja, tak ada apa-apa,” kata Syeh itu.

Ia menutup jendela itu lalu membukanya kembali. Kali ini tak ada seorang perajurit pun yang tampak. Ketika ia membuka jendela yang lain, kota yang di luar tampak terbakar. Sultan berteriak ketakutan.

“Jangan bingung, Sultan; tak ada apa-apa,” kata Syeh itu. Ketika pintu itu ditutup lalu dibuka kembali, tak ada api sama sekali.

Ketika jendela ketiga dibuka, terlihat banjir besar mendekati istana. Kemudian ternyata lagi bahwa banjir itu tak ada. Jendela keempat dibuka, dan yang tampak bukan padang pasir seperti biasanya, tetapi sebuah taman firdaus. Dan setelah jendela tertutup lagi, lalu dibuka, pemandangan itu tak ada.

Kemudian Syeh meminta seember air, dan meminta Sultan memasukkan kepalanya dalam air sesaat saja. Segera setelah Sultan melakukan itu, ia merasa berada di sebuah pantai yang sepi, di tempat yang sama sekali tak dikenalnya, karena kekuatan gaib Syeh itu. Sultan marah sekali dan ingin membalas dendam.

Segera saja Sultan bertemu dengan beberapa orang penebang kayu yang menanyakan siapa dirinya. Karena sulit menjelaskan siapa dia sebenarnya, Sultan mengatakan bahwa ia terdampar di pantai itu karena kapalnya pecah. Mereka memberinya pakaian, dan iapun berjalan ke sebuah kota. Di kota itu ada seorang tukang besi yang melihatnya gelandangan, dan bertanya siapa dia sebenarnya. Sultan menjawab bahwa ia seorang pedagang yang terdampar, hidupnya tergantung pada kebaikan hati penebang kayu, dan tanpa mata pencarian.

Orang itu kemudian menjelaskan tentang kebiasaan kota tersebut. Semua pendatang baru boleh meminang wanita yang pertama ditemuinya, meninggalkan tempat mandi, dan dengan syarat si wanita itu harus menerimanya. Sultan itupun lalu pergi ke tempat mandi umum, dan di lihatnya seorang gadis cantik keluar dari tempat itu. Ia bertanya apa gadis itu sudah kawin: ternyata sudah. Jadi ia harus menanyakan yang berikutnya, yang wajahnya sangat buruk. Dan yang berikutnya lagi. Yang ke empat sungguh-sungguh molek. Katanya ia belum kawin, tetapi ditolaknya Sultan karena tubuh dan bajunya yang tak karuan.

Tiba-tiba ada seorang lelaki berdiri didepan Sultan katanya, “Aku disuruh ke mari menjemput seorang yang kusut di sini. Ayo, ikut aku.”

Sultanpun mengikuti pelayan itu, dan dibawa kesebuah rumah yang sangat indah. Ia pun duduk di salah satu ruangannya yang megah berjam-jam lamanya. Akhirnya empat wanita cantik dan berpakaian indah-indah masuk, mengantarkan wanita kelima yang lebih cantik lagi. Sultan mengenal wanita itu sebagai wanita terakhir yang ditemuinya di rumah mandi umum tadi.

Wanita itu memberinya selamat datang dan mengatakan bahwa ia telah bergegas pulang untuk menyiapkan kedatangannya, dan bahwa penolakannya tadi itu sebenarnya sekedar merupakan basa-basi saja, yang dilakukan oleh setiap wanita apabila berada di jalan.

Kemudian menyusul makanan yang lezat. Jubah yang sangat indah disiapkan untuk Sultan, dan musik yang merdu pun diperdengarkan. Sultan tinggal selama tujuh tahun bersama istrinya itu: sampai ia menghambur-hamburkan habis warisan istrinya. Kemudian wanita itu mengatakan bahwa kini Sultanlah yang harus menanggung hidup keduanya bersama ketujuh anaknya.

Ingat pada sahabatnya yang pertama di kota itu, Sultan pun kembali menemui tukang besi untuk meminta nasehat. Karena Sultan tidak memiliki kemampuan apapun untuk bekerja, ia disarankan pergi ke pasar menjadi kuli. Dalam sehari, meskipun ia telah mengangkat beban yang sangat berat, ia hanya bisa mendapatkan sepersepuluh dari uang yang dibutuhkannya untuk menghidupi keluarganya.

Hari berikutnya Sultan pergi ke pantai, dan ia sampai di tempat pertama kali dulu ia muncul di sini, tujuh tahun yang lalu. Ia pun memutuskan untuk sembahyang, dan mengambil air wudhu: dan pada saat itu pula mendadak ia berada kembali di istananya, bersama-sama dengan Syeh itu dan segenap pegawainya.

“Tujuh tahun dalam pengasingan, hai orang jahat” teriak Sultan. “Tujuh tahun, menghidupi keluarga, dan harus menjadi kuli: Apakah kau tidak takut kepada Tuhan, Sang Maha Kuasa, hingga berani melakukan hal itu terhadapku?”

“Tetapi kejadian itu hanya sesaat,” kata guru Sufi tersebut, “yakin waktu Baginda mencelupkan wajah ke air itu.” Para pegawai membenarkan hal itu.

Sultan sama sekali tidak mempercayai sepatah katapun. Ia segera saja memerintahkan memenggal kepala Syeh itu. Karena merasa bahwa hal itu akan terjadi, Syeh pun
menunjukkan kemampuannya dalam Ilmu Gaib (Ilm el-Ghaibat). Iapun segera lenyap dari istana tiba-tiba berada di Damaskus, yang jaraknya berhari-hari dari istana itu.

Dari kota itu ia menulis surat kepada Sultan:

“Tujuh tahun berlalu bagi tuan, seperti yang telah tuan rasakan sendiri; padahal hanya sesaat saja wajah tuan tercelup di air. Hal tersebut terjadi karena adanya kekuatan-kekuatan tertentu, yang hanya dimaksudkan untuk membuktikan apa yang bisa terjadi. Bukankah menurut kisah itu, tempat tidur Nabi masih hangat dan kendi air itu belum
habis isinya?

Yang penting bukanlah terjadi atau tidaknya peristiwa itu. Segalanya mungkin terjadi. Namun, yang penting adalah makna kenyataan itu. Dalam hal tuan, tak ada makna sama sekali. Dalam hal Nabi, peristiwa itu mengandung makna.”

Catatan

Dinyatakan, setiap ayat dalam Quran memiliki tujuh arti, masing-masing sesuai untuk keadaan pcmbaca atau pendengarnya. Kisah ini, seperti macam lain yang banyak beredar di kalangan Sufi, menekankan nasehat Muhammad, “Berbicaralah kepada setiap orang sesuai dengan taraf pemahamannya.” Metode Sufi, menurut Ibrahim Khawas, adalah: “Tunjukkan hal yang tak diketahui sesuai dengan cara-cara yang ‘diketahui’ khalayak.”

Versi ini berasal dari naskah bernama Hu-Nama “Buku Hu” dalam kumpulan Nawab Sardhana, tahun 1596.

Tanah Melayu (Malaysia) siapa yang punya?

Semasa Cikgu Hani mengunjungi sebuah kedai Saloon untuk menggunting dan mencuci rambutnya yang cantik, Cikgu Hani berbual-bual dengan amoi yang men-touch-up kan rambutnya. Amoi tersebut bertanya,

“Ini Malaysia ha, bukan orang Melayu punya. Lu tau ka siapa punya?”

Cikgu Hani terkebil-kebil memikirkan jawapannya. Kemudian Cikgu Hani dengan lantangnya,

“Eh, Sudah semestinya orang Melayu punya. Sejarah sudah ada maa”

kata Cikgu Hani yang kebetulan cikgu Sejarah. Kemudian, amoi tersebut membantah,

”Salah maa.. ini Malaysia bukan orang Melayu punya. Sejarah semua tipu sahaja.”

balas amoi yang comel itu. Cikgu Hani menyambung lagi,

”Apasal lu tak mau percaya Sejarah? Habis lu mau percaya apa? Cerita dongeng ka?”

balas Cikgu Hani lagi. Amoi tersebut berubah mukanya dan menyambung lagi,

”Ini Malaysia ha, itu orang asli punya lo.. bukan orang Melayu.. Jadi, orang Melayu sama juga macam orang Cina, orang India, pindah sini..” ujar amoi itu lagi.

Seterusnya Cikgu Hani dengan penuh bijaksananya berkata,

“Ini Malaysia dulu nama asalnya Tanah Melayu. Pada tahun 1963 baru tukar nama Malaysia. Lu tau ka kenapa dia punya nama Tanah Melayu? Sebab ini tanah, Melayu yang punya maa.. Itu bangsa lain termasuk itu orang Asli kemudian sampai di Tanah Melayu ini, sebab orang Melayu kasi datang sini. Kalau orang Melayu tak kasi datang, lu takkan jadi orang Malaysia maa..”

Si amoi yang comel itu, terkebil-kebil sambil berkata,

“Lu mau saya kasi botak ka ini rambut?”

Cikgu Hani hanya tersenyum dan tersengeh-sengeh sambil berkata,

“Customer always right. Next time jangan sesekali sentuh sensitiviti orang Melayu“

Si amoi hanya menganguk dan tersenyum pahit. Di dalam hatinya dia berkata, salah orang rupanya dia bertanya… sekali Cikgu Sejarah daa…

 

Apa pendapat sidang pembaca dengan persoalan di atas ini, terutamanya rakyat Malaysia?

Tentang Nabi Sam’un AS

Seperti yang diketahui di dalam ajaran Islam, bahwa jumlah nabi menurut hadits yaitu 124 ribu orang, dan rasul berjumlah 312 orang, sesuai rukun iman ke-4 di dalam rukun iman diwajibkan untuk mengetahui 25 orang nabi dan rasul.

“Dari Abi Zar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “Jumlah para nabi itu adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312).”

(Hadits riwayat At-Tirmizi)

Samson atau Simson, merupakan seorang Nabi di dalam ajaran Islam yang dikenal dengan nama Nabi Sam’un Ghozi AS. Kisah nabi ini, terdapat di dalam kitab-kitab, seperti kitab Muqasyafatul Qulub dan kitab Qishashul Anbiyaa. Nabi Sam’un Ghozi AS memiliki kemukjizatan, yaitu dapat melunakkan besi, dan dapat merobohkan istana. Cerita Nabi Sam’un Ghozi AS adalah kisah Israiliyat yang diceritakan turun-temurun di jazirah Arab. Cerita ini melegenda jauh sebelum Rasulullah lahir.

Dari kitab Muqasyafatul Qulub karangan al Ghazali, diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat dibulan Suci Ramadhan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Sam’un Ghozi AS, beliau adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi.

Dikisahkan Nabi Sam’un Ghozi AS berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah SWT. Ketangguhan dan keperkasaan Nabi Sam’un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafirin saat itu, yakni raja Israil. Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Sam’un. Berbagai upaya pun dilakukan olehnya, sehingga akhirnya atas nasehat para penasehatnya diumumkanlah, barang siapa yang dapat menangkap Sam’un Ghozi, akan mendapat hadiah emas dan permata yang berlimpah.

Singkat cerita Nabi Sam’un Ghozi AS terpedaya oleh isterinya. Karena sayangnya dan cintanya kepada isterinya, nabi Sam’un berkata kepada isterinya, “Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku.” Akhirnya Nabi Sam’um Ghozi AS diikat oleh istrinya saat ia tertidur, lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa dengan dibutakan kedua matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.

Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Sam’un Ghozi AS berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdoa dengan dimulai dengan bertaubat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah. Do’a Nabi Sam’un dikabulkan, dan istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian nabi bersumpah kepada Allah SWT, akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah SWT.

Ketika Rasulullah selesai menceritakan cerita Nabi Sam’un Ghozi AS yang berjuang fisabilillah selama 1000 bulan, salah satu sahabat nabi berkata “Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti nabiyullah Sam’un Ghozi AS. Kemudian Rasulullah SAW, diam sejenak. Kemudian Malaikat Jibril AS datang dan mewahyukan kepada beliau, bahwa pada bulan Ramadhan ada sebuah malam, yang mana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan.

Pada kitab Qishashul Anbiyaa, dikisahkan, bahwa Rasullah Muhammad SAW tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, “Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?” Rasullah menjawab, “Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Sam’un.”

Demikian kisah Nabi Sam’un Ghozi AS atau yang lebih dikenal dengan Samson atau Simson. Semoga dari kisah ini, dapat kita petik sebuah pelajaran di dalamnya.

Wallohualam.

Kisah Nabi Daud AS dan Ulat Merah

Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghozali menceritakan pada suatu hari ketika Nabi Daud AS sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia melihat seekor ulat merah pada debu. Lalu Nabi Daud AS. berkata pada dirinya, “Apa yang dikehendaki Alloh terhadap ulat ini?”

Sesaat saja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Alloh pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mulai berkata-kata kepada Nabi Daud AS, “Wahai Nabi Alloh! Alloh SWT telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca ‘Subhanallohu walhamdulillahi walaa ilaaha illallohu wallohu akbar’ setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Alloh mengilhamkan kepadaku supaya membaca ‘Allohummaa solli alaa Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa alaa aalihi wa sohbihi wa sallim’ setiap malam sebanyak 1000 kali.”

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud AS “Apakah yang dapat engkau katakan kepadaku agar aku dapat manfaat darimu?”

Akhirnya Nabi Daud menyadari akan kekhilafannya karena memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Alloh SWT maka Nabi Daud AS pun bertaubat dan menyerah diri kepada Alloh SWT. Begitulah sikap para Nabi AS apabila mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Alloh SWT.

Kisah-kisah yang berlaku pada zaman para nabi bukanlah untuk kita ingat sebagai bahan sejarah, tetapi hendaklah kita jadikan sebagai teladan supaya kita tidak memandang rendah kepada apa saja makhluk ciptaan Alloh yang berada di bumi yang sama-sama kita tumpangi ini.

Pencarian Malam Lailatul Qadar

Jadikan 10 malam terakhir di bulan ramadan sebagai malam untuk mengumpulkan sebanyak pahala. Semoga kita dapat bertemu dgn Malam Lailatulqadar..setiap orang muslim pasti ingin bertemu dengan malam lailatulqadar itu..kerana malam itulah mukjizat Allah S.W.T iaitu Al-Quran diturunkan..dan malam itu lebih baik dari 1000 bulan..

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr:1-5)

اِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ (يَعْنِي لَيْلَةَ القَدْرِ) فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ البَوَاقِي
“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.” (HR. Muslim no.1165)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa shalat malam/tarawih (bertepatan) pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhariy 38 dan Muslim no.760)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Diriwayatkan dari ‘A`isyah, dia berkata: Aku bertanya: Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tahu kapan Lailatul Qadr (terjadi), apa yang harus aku ucapkan? Beliau menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR. At-Tirmidziy 3760 dan Ibnu Majah 3850, sanadnya shahih)

Tanda-tandanya
Dari Ubaiy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Pagi hari malam Lailatul Qadr, matahari terbit tidak ada sinar yang menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR. Muslim no.762) Dan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Malam Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. Ath-Thayalisiy 349, Ibnu Khuzaimah 3/231 dan Al-Bazzar 1/486, sanadnya hasan)

Ciri-ciri Lailatul Qodr

Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :

1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.

2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)

4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

Perbedaan Waktu Antar Negara

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)

Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)

Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Antara amalan yang dilakukan Rasululah SAW dan para sahabat pada malam-malam terakhir Ramadhan ialah:

  • Mandi, berpakaian cantik dan berwangi-wangian.
  • Beriktikaf iaitu mendampingi masjid untuk mentaati Allah.
  • Mengejutkan keluarga agar bangun beribadah.
  • Uzlah (tidak mendekati) isteri.
  • Memperbanyakkan amal ibadat dan berqiamulail di masjid atau surau.
  • Menghadiri majlis ilmu, mengulangkaji hadith, tafsir dan sirah nabi.
  • Memperbanyakkan bertasbih, tahmid, takbir, istighfar dan bersalawat.
  • Membaca dan tadarus al-Quran serta berzikir kepada Allah.
  • Bersolat Tarawih, Witir, Tahajud, Taubat dan solat Hajat.
  • Bertaubat daripada segala kesalahan dan dosa selama ini.
  • Berdoa ke hadrat Ilahi. Baginda SAW sering me
    mbaca doa:  “Wahai Tuhan kami! Anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan juga kebajikan di akhirat serta peliharakanlah kami daripada seksaan api neraka yang pedih.”

Berdoa mendapatkan keampunan dan keberkatan malam itu

Selamat mencari malam Al-Qadr

Rujukan: http://peribadirasulullah.wordpress.com

By MahmudShah Posted in Agama