Hukum Melafazkan Niat

Assalammu’alaikum wbt 

Dewan ustadz yang saya hormati, nama saya Muhammad Misbahul Munir dari Sorong PapuaBarat. Sejak kecil saya mendapat pelajaran mengenai wudlu, sholat dsb dari guru-guru madrasah MI dan MTs di Salatiga Jawa Tengah (asal saya). Umumnya mereka mengajarkan adanya lafadz niat wudlu (nawaitu) dan niat sholat “ushalli”. Namun di Sorong (tempat tinggal saya sejak 1989) ada beberapa teman yang memberi info bahwa lafadz niat wudlu/sholat itu sebenarnya tidak diajarkan oleh nabi dan juga sahabat, jadi menurut mereka kalo kita melakukan niat seperti itu dikatakan Bid’ah. Saya tanya dasarnya mereka menunjukkan buku Sifat Sholat Nabi yang memuat juga hadits-hadist tentang sholat. Kebetulan di toko buku di sorong banyak juga buku-buku tuntunan sholat, antra lain karya Minan Zuhri yang menyalin dari kitab Fashalatan KHR Asnawi. Di buku itu diajarkan juga adanya lafadz niat itu, namun tidak ada penjelasan hadits-hadist pendukung tentang lafadz-lafadz niat itu. Nah yang saya mau tanyakan pada ustadz sebenarnya bagaimana sebaiknya kita mulai wudlu/sholat? perlukan mengucap nawaitu/ushalli itu? benarkan itu bid’ah? darimana asal tuntunan lafadz niat itu? Mohon penjelasan.Semoga Allah memberi petunjuk kepada Ustadz.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

M.M. Munir
Sorong- Papua Barat

 

Solat

Jawab:
Wa’alaikummussalam

Sebenarnya tentang melafalkan atau mengucapkan niat, misalnya membaca “Ushalli fardla dzuhri arba’a raka’atin mustaqbilal kiblati ada’an lillahi ta’ala” (Saya berniat melakukan shalat fardlu dzuhur empat rakaat dengan menghadap kiblat dan tepat pada waktunya semata-mata karena Allah SWT) pada menjelang takbiratul ihram dalam shalat dzuhur adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan di kalangan sebagian umat Islam.

Meskipun ada sebagian umat islam yang tidak melakukan itu dan cukup membaca “Allahu Akbar” ketika memulai sholat. Adapun hukum melafalkan niat shalat pada saat menjelang takbiratul ihram menurut kesepakatan para pengikut mazhab Imam Syafi’iy (Syafi’iyah) dan pengikut mazhab Imam Ahmad bin Hambal (Hanabilah) adalah sunnah, karena melafalkan niat sebelum takbir dapat membantu untuk mengingatkan hati sehingga membuat seseorang lebih khusyu’ dalam melaksanakan shalatnya. Jika seseorang salah dalam melafalkan niat sehingga tidak sesuai dengan niatnya, seperti melafalkan niat shalat ‘Ashar tetapi niatnya shalat Dzuhur, maka yang dianggap adalah niatnya bukan lafal niatnya. Sebab apa yang diucapkan oleh mulut itu (shalat ‘Ashar) bukanlah niat, ia hanya membantu mengingatkan hati. Salah ucap tidak mempengaruhi niat dalam hati sepanjang niatnya itu masih benar.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) dan pengikut Imam Abu Hanifah (Hanafiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri). Menurut penjelasan Malikiyah, bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir menyalahi keutamaan (khilaful aula), tetapi bagi orang yang terkena penyakit was-was hukum melafalkan niat sebelum shalat adalah sunnah. Sedangkan penjelasan al Hanafiyah bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbir adalah bid’ah, namun dianggap baik (istihsan) melafalkan niat bagi orang yang terkena penyakit was-was.

Sebenarnya tentang melafalkan niat dalam suatu ibadah wajib pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat melaksanakan ibadah haji.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Dari Anas r.a. berkata: Saya mendengar Rasullah saw mengucapkan, “Labbaika, aku sengaja mengerjakan umrah dan haji”.” (HR. Muslim).

Memang ketika Nabi Muhammad SAW melafalkan niat itu dalam menjalankan ibadah haji, bukan shalat, wudlu’ atau ibadah puasa, tetapi tidak berarti selain haji tidak bisa diqiyaskan atau dianalogikan sama sekali atau ditutup sama sekali untuk melafalkan niat.

Memang tempatnya niat ada di hati, tetapi untuk sahnya niat dalam ibadah itu disyaratkan empat hal, yaitu Islam, berakal sehat (tamyiz), mengetahui sesuatu yang diniatkan dan tidak ada sesuatu yang merusak niat. Syarat yang nomor tiga (mengetahui sesuatu yang diniatkan) menjadi tolok ukur tentang diwajibkannya niat. Menurut ulama fiqh, niat diwajibkan dalam dua hal. Pertama, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat), seperti membedakan orang yang beri’tikaf di masjid dengan orang yang beristirah di masjid. Kedua, untuk membedakan antara suatu ibadah dengan ibadah lainnya, seperti membedakan antara shalat Dzuhur dan shalat ‘Ashar.

Karena melafalkan niat sebelum shalat tidak termasuk dalam dua kategori tersebut tetapi pernah dilakukan Nabi Muhammad dalam ibadah hajinya, maka hukum melafalkan niat adalah sunnah. Imam Ramli mengatakan:
وَيُنْدَبُ النُّطْقُ بِالمَنْوِيْ قُبَيْلَ التَّكْبِيْرِ لِيُسَاعِدَ اللِّسَانُ القَلْبَ وَلِأَنَّهُ أَبْعَدُ عَنِ الوِسْوَاسِ وَلِلْخُرُوْجِ مِنْ
خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ

“Disunnahkan melafalkan niat menjelang takbir (shalat) agar mulut dapat membantu (kekhusyu’-an) hati, agar terhindar dari gangguan hati dank arena menghindar dari perbedaan pendapat yang mewajibkan melafalkan niat”. (Nihayatul Muhtaj, juz I,: 437)

Jadi, fungsi melafalkan niat adalah untuk mengingatkan hati agar lebih siap dalam melaksanakan shalat sehingga dapat mendorong pada kekhusyu’an. Karena melafalkan niat sebelum shalat hukumnya sunnah, maka jika dikerjakan dapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa. Adapun memfitnah, bertentangan dan perpecahan antar umat Islam karena masalah hukum sunnah adalah menyalahi syri’at Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

H.M.Cholil Nafis, MA.

Rujukan:

Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”
Website:
http://www.pesantre nvirtual. com
Informasi: info@pesantrenvirtu al.com
Konsultasi: konsultasi@pesantre nvirtual. com

9 Respons

  1. Mohon disebutkan secara gamblang ulama2 yang mazhab syafi’i dan hambali yang menegaskan bahwa melafazkan niat adalah sunnah. Dalam kitab apa mereka menegaskan hal itu . terima kasih.

  2. Assalammu’alaikum Saudara Najib. Secara amalinya ‘niat’ itu sendiri adalah lintasan di hati kita. Ini adalah pendapat penulis yang kurang arif. Mungkin ada di kalangan pembaca yang boleh menerangkan pertanyaan saudara Najib ini barangkali.

    …di mana aku berada di sana ada DIA…

  3. Niat artix dsengaja. T4x dhati. Smua org mempunyai niat dlm melakukn aktifitasx. Hanya org gila & org yg keliru tdk punya niat dlm mengerjakn sesuatu. Misalx sy brtamu kruma org.& swaktu pulang,sy salah pake sendal. Kebetuln sendal sy & sendal yg pux ruma sama. Dsini, sy tdk sengaja/tdk brniat mengambil/ memakai sendal org lain. Sdangkn, org gila sdh jlas tdk brniat dlm melakukn smua aktifitsx.

  4. Masalah khilafiah sebaiknya tidak dpertentangkan!!!Para imam besar tidak perlu kita ragukan keilmuannya…seharusnya kita instrospeksi diri!!!!memangnya sepintar apa sih kita berani menyalahkan pendapat para imam mahzab????Dan ingatlah “Tidak akan masuk syurga orang-orang yang ada rasa sombong dhatinya,walaupun hanya sebesar biji dzarrah”..

  5. Lafadz niat sangat masyhur dinisbatkan kepada mazhab Syafi’i, hal ini karena Abu Abdillah Al Zubairi yang masih termasuk dalam ulama mazhab Syafi’I telah ‘Menyangka’ bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah telah mewajibkan untuk melafazkan niat ketika shalat.

    Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh dengan perkataan Imam Syafi’I radhiallahu anhu didalam masalah shalat. Redaksinya sebagai berikut:

    “Sesungguhnya shalat tidak sama dengan puasa. Tidak ada seorangpun yang akan memasuki shalat kecuali dengan DZIKIR.”

    Kata dzikir disini dikira pe-lafaz-an niat oleh orang yang shalat. Padahal yang dimaksud oleh Imam Syafi’i dengan kata dzikir disini adalah TAKBIRATUL IHRAM. Bagaimana mungkin Imam Syafi’I mensunahkan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, tidak juga oleh para khulafa’nya, dan para shahabatnya.

    Sebabnya adalah pemahamannya yang keliru dalam mengiterpretasikan perkataan Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut:” Jika seseorang berniat menunaikan ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafazkan.Tidak seperti
    shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al
    Zubairi dengan melafazkan, sedangkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah takbir) [al Majmuu’ II/43]

    An Nawawi (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i) berkata:”Beberapa rekan kami berkata:”Orang yang mengatakan hal itu telah keliru.Bukan itu yang dikehendaki oleh As Syafi’I dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat,melainkan yang dimaksud
    dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir. [al Majmuu’ II/43; lihat juga al Ta’aalaim :syaikh Bakar Abu Zaid:100]

    Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata :”Tidak ada seorang ulamapun dari imam 4 (mazhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafaz niat. Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati.Hanya saja sebagian ulama belakangan mewajibkan seseorang melafazkan niatnya dalam shalat. Dan pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i. Imam An Nawawi
    rahimahullahu berkata :”Itu tidak benar” (Al Itbaa’ :62)

    Ibn Qoyyim berkata :”Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam jika hendak mengerjakan shalat,maka dia mengucapkan Allahu Akbar dan beliau tidak mengucapkan lafaz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafazkan niat sama sekali.

    Beliau juga TIDAK mengucapkan : ushali lillah shalaata kadzaa mustaqbilal qiblah arba’a raka’at imaaman aw ma’muuman (artinya :aku berniat mengerjakan shalat ini dan itu karena Allah,menghadap kiblat sebanyak 4 raka’at sebagai imam atau makmum).

    Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan adaa’aa atauqadhaa’an (artinya melakukannya secara tepat waktu atau qadha’). Dan tidak pernah juga menyebutkan kefardhuan waktu shalat.

    Semua itu adalah bid’ah yang tidak ada sumbernya dari seorangpun baik dengan sanad yang sahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (ada perawi yang gugur dalam sanadnya). Bahkan tidak juga dinukil dari seorang sahabat nabi,para tabi’in dan imam 4 (mazhab)

    semoga Allah SWT selalau menuntun kita agar tidak tersesat dari jalan Nya yang lurus, yaitu jalan yang sudah diarahkan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW kepada kita.

  6. assalamualikum ……
    mudah2 perbedaan di sini tidak membuat perpecahan ……
    menurut saya jangan mengambil keputusan ada yang salah dan benar …….
    semua di kerjakan atas dasar masing2 …..
    dan jangan mengatakan orang lain bid`ah ……
    belum tentu juga pendapat kita benar ……
    semoga kita di beri petunjuk oleh allah SWT.
    amin ……

  7. Ya, benar sekali pendapat saudara ian. Keputusan dan hukum sudah pun termaktub di dalam Qur’an dan Hadith. Kita pula termaktub kepada keterbatasan fikiran. Maka itulah gunakan ‘petunjuk’ yang Allah sudah turunkan sebelum kita berhukum hakam. Kerana kita ini manusia.

    …di mana aku berada di sana ada DIA…

    • cakap pakai Al Quran dan Hadits, tapi telah jelas siapa yg pakai dan siapa yg hanya dakwa ia pakai…terang lagi bersuluh. Ini semua bukan perbedaan pendapat, tapi samada hendak berhukum kepada Allah dan Rasulullah saw atau mengelat. Sila lihat tulisan yg kuambil dibawah , subhanallah

      LAFADZ / BACAAN NIAT
      —————————————————————————
      Masalah hukum niat adalah wajib berasal dari hadist “innamal ‘amalu bin
      niyyati” (sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya), yg
      diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai dasar pengerjaan suatu amal. Dan semua
      ulama sepakat bahwa niat sebelum melakukan amal perbuatan ibadah adalah
      wajib !

      Tetapi yg dipermasalahkan adalah apakah MELAFADZKAN NIAT atau BACAAN NIAT itu
      disyari’atkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta diikuti oleh
      para sahabat dan ulama salaf ?

      A. SIAPA PENGGAGAS LAFAZ NIAT?[1]
      Lafadz niat sangat masyhur dinisbatkan kepada mazhab Syafi’i, hal ini karena
      Abu Abdillah Al Zubairi yang masih termasuk dalam ulama mazhab Syafi’I telah
      menyangka bahwa Imam Asy Syafi’i rahimahullah telah mewajibkan untuk
      melafazkan niat ketika shalat.

      Sebabnya adalah pemahamannya yang keliru dalam mengiterpretasikan perkataan
      Imam Syafi’i yakni redaksi sebagai berikut:” Jika seseorang berniat menunaikan
      ibadah haji atau umrah dianggap cukup sekalipun tidak dilafazkan.Tidak seperti
      shalat, tidak dianggap sah kecuali dengan AL NUTHQ (diartikan oleh Al Zubairi
      dengan melafazkan, sedangkan yang dimaksud dengan AL NUTHQ disini adalah
      takbir) [al Majmuu’ II/43]

      An Nawawi (seorang ulama pembesar mazhab Syafi’i) berkata:”Beberapa rekan
      kami berkata:”Orang yang mengatakan hal itu telah keliru.Bukan itu yang
      dikehendaki oleh As Syafi’I dengan kata AL NUTHQ di dalam shalat,melainkan
      yang dimaksud dengan AL NUTHQ oleh beliau adalah takbir. [al Majmuu’ II/43;
      lihat juga al Ta’aalaim :syaikh Bakar Abu Zaid:100]

      Ibn Abi Izz Al Hanafi berkata :”Tidak ada seorang ulamapun dari imam 4
      (mazhab), tidak juga Imam Syafi’i atau yang lainnya yang mensyaratkan lafaz
      niat.Menurut kesepakatan mereka, niat itu tempatnya dihati.Hanya saja sebagian
      ulama belakangan mewajibkan seseorang melafazkan niatnya dalam shalat.Dan
      pendapat ini dinisbatkan sebagai mazhab Syafi’i.Imam An Nawawi rahimahullahu
      berkata :”Itu tidak benar” (Al Itbaa’ :62)

      Ibn Qoyyim berkata :”Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam jika hendak
      mengerjakan shalat,maka dia mengucapkan Allahu Akbar.dan beliau tidak
      mengucapkan lafaz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafazkan niat sama
      sekali.Beliau juga tidak mengucapkan :

      “ushali lillah shalaata kadzaa mustaqbilal qiblah arba’a raka’at imaaman aw
      ma’muuman (artinya :aku berniat mengerjakan shalat ini dan itu karena
      Allah,menghadap kiblat sebanyak 4 raka’at sebagai imam atau makmum).

      Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengatakan adaa’aa atau
      qadhaa’an (artinya melakukannya secara tepat waktu atau qadha’). Dan tidak
      pernah juga menyebutkan kefardhuan waktu shalat. Semua itu adalah bid’ah yang
      tidak ada sumbernya dari seorangpun baik dengan
      sanad yang sahih,dhaif,musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (ada
      perawi yang gugur dalam sanadnya).Bahkan tidak juga dinukil dari seorang
      sahabat nabi,para tabi’in dan imam 4 (mazhab).

      Pendapat ini muncul akibat sebagian ulama belakangan yang terkecoh dengan
      perkataan Imam Syafi’I radhiallahu anhu didalam masalah shalat.Redaksinya
      sebagai berikut:
      “Sesungguhnya shalat tidak sama dengan puasa.Tidak ada seorangpun yang akan
      memasuki shalat kecuali dengan DZIKIR.”
      Kata dzikir disini dikira pe-lafaz-an niat oleh orang yang shalat.Padahal yang
      dimaksud oleh Imam Syafi’i dengan kata dzikir disini adalah TAKBIRATUL
      IHRAM.Bagaimana mungkin Imam Syafi’I mensunahkan sesuatu yang tidak pernah
      dikerjakan oleh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam,tidak juga oleh para
      khulafa’nya, dan para shahabatnya.Demikianlah jalan hidup dan petunjuk yang
      mereka ajarkan,jika memang ada seseorang membawa berita satu huruf saja yang
      berasal dari beliau,maka kita akan menerimanya karena tidak ada petunjuk yang
      lebih sempurna dari petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil
      dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam [Zaadul Ma’aad I/201;Ighatsatul
      Lahfaan I/136-139;I’laamul Muwaqqi’iin II/371;Tuhfatul Maulud :93]

      Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail Sulaiman al-Mishri [2] berkata :
      “Perbuatan seperti ini tidak benar. Tidak ada dalil dari Qur’an dan Sunnah,
      tidak pula dari ijma’ dan qiyas jali (qiyas yang jelas dan benar) untuk
      perbuatan tersebut sebab tempat niat adalah di dalam hati. Adapun anjuran
      Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadirkan niat di dalam
      segala amalan, yaitu hadist beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya
      seluruh amal shaleh hanya diterima dengan niat yang ikhlas dan bagi setiap
      orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan.”

      Maksudnya bukan melafalkan niat dengan lisan kita, baik dengan melirihkan
      ataupun mengeraskannya. Tidak ada satu riwayat pun yang dinukil dari beliau
      bahwa beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam melafalkan niat ketika hendak
      shalat dan berpuasa. Tidak pernah beliau mengucapkan : “Sengaja aku berpuasa
      di bulan ramadhan pada tahun ini secara sempurna tanpa kekurangan…” dan
      mengulang-ngulanginya setiap malam ketika bersahur atau setelah shalat
      tarawih. Demikian pula dalam ibadah zakat dan lainnya.

      Untuk lebih jelasnya, baiklah kita coba simak uraian pendapat para ulama
      salaf, sebagai orang-orang yg mengerti dan paham ttg sunnah dan perkataan
      Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta mereka adalah para mufassirin
      (penafsir) makna ayat qur’an maupun hadist, mengenai LAFADZ NIAT (makna
      lafadz niat ini secara umum meliputi niat sholat, puasa, zakat, haji, dan
      ibadah lainnya).

      B. HAKEKAT NIAT
      Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata dalam kitab Majmu’atur Rasaaili Kubra
      I/243 : Tempatnya niat itu di hati tanpa (pengucapan) lisan berdasar
      kesepakatan para imam Muslimin dalam semua ibadah : bersuci (thaharah),
      shalat, zakat, puasa, haji membebaskan budak (tawanan) serta berjihad dan
      yang lainnya. Meskipun lisannya mengucapkan berbeda dengan apa yang ia
      niatkan dalam hati, maka teranggap dengan apa yang ia niatkan dalam hati
      bukan apa yang ia lafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama
      niat, dan niat itu belum sampai ke dalam hatinya, hal ini belum mencukupi
      menurut kesepakatan para imam Muslimin. Maka sesungguhnya niat itu adalah
      jenis tujuan dan kehendak yang tetap.

      Sehubungan dengan masalah niat, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan di
      dalam kitab ‘Ighasatul Lahfan’ bahwa : “Niat artinya ialah menyengaja dan
      bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu. Dan tempatnya ialah di
      dalam hati, dan tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan lisan. Dari itu
      tidak pernah diberitakan dari Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam ,
      begitu juga para sahabat, mengenai lafadz niat ini.” [3]

      Sedangkan hakikat niat itu sendiri BUKANLAH UCAPAN ‘NAWAITU’ (saya
      berniat).Ia adalah dorongan hati seiring dengan futuh (pembukaan
      terhadapnya),tetapi kadang-kdang juga sulit. Barangsiapa hatinya dipenuhi
      dengan urusan dien,akan mendapatkan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk
      berbuat baik.Sebab ketika hati telah condong kepada pangkal kebaikan, ia pun
      akan terdorong untuk cabang-cabang kebaikan.Barangsiapa hatinya dipenuhi
      dengan kecenderungan kepada gemerlap dunia, akan mendapatkan kesulitan besar
      untuk menghadirkannya. Bahkan dalam mengerjakan yang wajib sekalipun.Untuk
      menghadirkannya ia harus bersusah payah. [4]

      Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri telah menjabarkan dgn panjang
      untuk penjelasan hadist “innamal ‘amalu binniyyati” dalam kitabnya “Fathul
      Baari bi Syarh al-Bukhari” (kitab yg menjelaskan tentang sanad & syarh dari
      hadist-hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari), diantaranya yg bisa
      diambil adalah :

      “Amal perbuatan adalah tergantung niatnya, dengan demikian kita dapat (dgn
      sendirinya) membedakan apakah niat sholat atau bukan, sholat fardhu atau
      sunnah, dhuhur atau ashar, di qashar atau tidak, dan seterusnya. Dan apakah
      masih perlu ditegaskan (kembali) jumlah rakaat sholat yang akan
      dikerjakan ? …Tapi pendapat yg kuat menyatakan tidak perlu lagi menjelaskan
      jumlah bilangan rakaatnya, seperti seorang musafir yg berniat melakukan
      sholat qashar, ia tidak perlu (lagi) menegaskan bhw jumlah rakaatnya adalah
      dua, karena itu merupakan suatu hal yg pasti bahwa jumlah rakaat qashar
      adalah dua !”

      Dan beliau juga menjelaskan makna niat dari perkataan Imam Baidhawi : “Niat
      adalah dorongan hati untuk melakukan sesuatu dgn tujuan, baik mendatangkan
      manfaat atau menolak mudharat, sedangkan syariat adalah sesuatu yg membawa
      kpd perbuatan yg diridhai Alloh dan mengamalkan segala perintah-Nya.” [5]

      1. MASALAH BACAAN NIAT DALAM SHOLAT
      Masalah malafadzkan bacaan niat dalam sholat ini, tidak ada satu orang perawi
      hadist pun dari 6 orang imam (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, Tirmidzi,
      dan Ibnu Majah) yang memuat dalam Kuttubus Sittah, termasuk Imam Ahmad dalam
      kitab “Musnad Ahmad” dan al-Hakim dalam kitab “Mustadrak”, yang meriwayatkan
      tentang bacaan niat sholat begini dan begitu, dan seterusnya dengan bermacam-
      macam bacaan / lafadz sesuai dgn masing-masing jenis sholat.

      Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata dalam kitab ‘Zaadul Ma’ad’ :
      “Sesungguhnya Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallambila berdiri untuk
      bersholat, beliau berdiri dengan tegak ke arah kiblat disertai khusyu’ lalu
      bertakbir’Allohu Akbar’, tanpa suatu ucapan lain atau melafadzkan niat
      usholli lillahi, shalat ini dan itu, mustaqbilal qiblati arbaah rakaat
      imaaman atau makmuman, juga tidak mengucap adhaan atau qadhaan, atau fardhu
      atau sebagainya.” [6]

      Kemudian beliau menambahkan : “Tidak mengucapkan apapun sebelumnya atau
      melafadkan niatnya dan tidak pula hal tersebut dianjurkan oleh para tabi’in
      atau imam para madzhab.”
      Imam Ahmad bin Hambal mengomentari masalah niat dalam sholat dengan
      berkata : “Ini (melafadzkan niat usholli) adalah sepuluh macam bid’ah, tidak
      ada yang meriwayatkan dengan sanad shahih atau dhoif, musnad atau mursal,
      bahkan tidak ada seorang dari sahabatnya atau dari pada tabi’in yang
      mengerjakannya.” [7]

      Imam An-Nawawi (salah satu imam madzhab Syafi’i) mengatakan di
      dalam ‘Raudhatu ‘th-Thalibin’ I/224, Al-Maktab Al-Islami : “Niat adalah
      maksud. Orang yang shalat hendaklah menghadirkan di dalam ingatannya dzat
      shalat itu sendiri dan sifat-sifatnya yang wajib ia lakukan, seperti
      Zhuhriyah
      dan Fardhiyah dan lain-lain. Kemudian, ia memasukkan pengetahuan-pengetahuan
      ini secara sengaja dan menghubungkan dengan awal takbir.” [8]

      Muhammad Nashruddin Al-Albani
      Niat ,yaitu : menyengaja untuk shalat menghambakan diri kepada Allah Subhanahu
      wa Ta’ala semata, serta menguatkannya dalam hati sekaligus. Dan tidaklah
      disebutkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari salah
      seorang sahabatnya bahwa niat itu dilafadzkan atau mengucapkan : “Usholli
      fardhu … rak’ah Lillahi Ta’ala” atau ucapan sejenisnya.

      Berkata : “Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam membuka sholat dengan kata-
      kata’Allohu Akbar’ (HR. Muslim dan Ibnu Majah). Di dalam hadist ini terdapat
      sebuah isyarat bahwasannya ia belum pernah membuka sholat dengan ucapan
      seperti yang mereka ucapkan ‘Nawaitu an usholli…’ (aku berniat sholat).

      Bahkan telah disepakati bahwa hal ini adalah bid’ah. Dan mereka hanya
      berselisih apakah bid’ah seperti itu baik atau buruk. Sedangkan kami
      mengatakan bahwa setiap bid’ah di dalam ibadah itu adalah merupakan suatu
      kesesatan.berdasarkan sabda Nabi Shalallahu alaihi wa sallam :”Setiap bid’ah
      adalah sesat dan setiap sesat neraka tempatnya.” [8]

      Dishahihkan pula oleh Sayyid Sabiq dalam ‘Fiqqus Sunnah’ bahwa : “Dan
      ungkapan-ungkapan yang dibuat-buat dan diucapkan pada permulaan bersuci dan
      sholat ini, telah dijadikan oleh syaitan sebagai arena pertarungan bagi orang-
      orang yang diliputi was-was, yang menahan dan menyiksa mereka dalam lingkaran
      tersebut, dan menuntut mereka untuk menyempurnakannya. Maka anda lihat masing-
      masing mereka mengulang-ulanginya dan bersusah payah untuk melafadzkannya,
      pada hal demikian itu sama sekali tidak termasuk dalam upacara sholat.” [9]

      Al-Qadhi Jamaludin Abu Rabi Sulaiman bin Umar As-Syafi’I (seorang pembesar
      ulama mazhab Syafi’i), ia berkata : “Mengeraskan dan membaca niat bagi
      makmum tidak termasuk sunnah, bahkan makruh. Jika hal itu menimbulkan
      gangguan (membuat bising) kepada jama’ah sholat, maka hukumnya haram.
      Barangsiapa yang mengatakan bahwa mengeraskan niat adalah sunnah, maka ia
      keliru. Haram baginya dan lainnya berbicara dalam agama Alloh subhanahu wa
      ta’ala tanpa didasari ilmu. [Al A’lam 3/194 [10]

      Syaikh ‘Alauddin Al ‘Athhor , belau berkata : meninggikan (niat) suara hingga
      menimbulkan kebisingan / gangguan kepada jam’ah sholat adalah haram secara
      ijma’, apabila tidak demikian (tidak menimbulkan gangguan) maka bid’ah yang
      keji.Jika dimaksudkan dalam melafadzkan niat itu riya’ , adalah haram dari 2
      sisi yakni dosa besar dari dosa-dosa besar.

      Adalah benar mengingkari orang yang mengatakan bahwa melafadzkan niat itu dari
      sunnah.Membenarkan (niat dengan lafadz) adalah kekeliruan, dan menisbahkan
      keyakinan demikian pada agama ini adalah kekufuran!!….dst. lih. Majmu Ar
      Rosail al Kubro 1/254 [10]

      Abu Abdillah Muhammad bin Qasim at-Tunisi al-Maliki, ia berkata : “Niat
      termasuk amalan hati. Maka mengeraskannya adalah bid’ah dan perbuatan itu
      juga menganggu orang lain.”[1]

      Imam Abu Dawud pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, : “Apakah
      seorang yang hendak shalat ada membaca sesuatu sebelum takbir ?” Beliau
      menjawab, “Tidak ada !” [1]

      Imam As-Suyuthi (salah seorang imam madzhab Syafi’i) berkata, : “Juga
      termasuk perbuatan bid’ah, adalah was-was di dalam niat shalat. Perbuatan
      ini tidak dilakukan Rasululloh dan para sahabatnya. Mereka tidak mengucapkan
      niat ketika shalat, melainkan hanya takbir.” [1]

      Imam Asy-SYAFI’I berkata : “Was-was dalam niat shalat termasuk kejahilan
      tentang syariat atau kebodohan akal.” [1]

      Ibnu Jauzy berkata : “Diantara tipu daya iblis adalah menipu mereka dalam
      niat shalat. Diantara mereka ada yang berkata, ‘Sengaja aku shalat ini dan
      ini,’ kemudian ia mengulanginya lagi karena ia mengira niatnya telah batal,
      padahal niatnya tidak gugur walaupun ia melafalkan apa yang tidak
      dimaksudkannya.”

      2. MASALAH BACAAN NIAT DALAM SHAUM (PUASA) [11]
      Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam(yang artinya): “Barangsiapa
      yang tidak berniat puasa pada malam harinya maka tidak ada puasa baginya.”
      [HR An-Nasa’I (4/196), Al-Baihqi (4/202), Ibnu Hazm (6/162)]

      Niat itu tempatnya di hati, melafadzkannya adalah bid’ah yang sesat walaupun
      manusia menganggapnya baik, kewajiban untuk berniat sejak malam itu khusus
      bagi puasa wajib, karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah
      datang ke Aisyah selain bulan ramadhan beliau berkata “Apakah engkau punya
      santapan siang ? kalau tidak ada, aku berpuasa”. [HR Muslim/1154]

      Hal in juga dilakukan oleh para shahabat: Abu Darda’, Abu Thalhah, Abu
      Hurairah, Ibnu Abbas, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhum kita dibawah
      bendera sayyidnya bani Adam.

      Ini berlaku dalam puasa sunnah menunjukan wajibnya niat di malam hari sebelum
      terbit fajar dalam puasa wajib, Wallahu Ta’ala A’lam.

      3. MASALAH MELAFAZKAN NIAT DALAM HAJI DAN UMRAH [12]
      Adapun melafadzkan niat hanya ada dalam ibadah Haji atau Umrah, itupun
      hadistnya tidak shahih, sehingga lafadz niat yg diucapkan dihukumi sebagai
      sunnah hanya pada kondisi apabila seseorang sedang menghajikan orang lain
      (badal haji). Untuk keterangan lebih lengkap bisa dibaca sedikit fatwa dr
      Syaikh Ibnu Utsaimin dibawah ini.

      Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:Apakah boleh melafazkan niat
      untuk melaksanakan umrah, haji, thawaf, atau sa’i?Dan kapan boleh mengucapkan
      niat ?

      Jawaban: Melafazkan niat tidak terdapat keterangan dari Nabi
      Shalallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam shalat (fardhu maupun sunnah),
      thaharah, puasa, bahkan dalam semua ibadah yang dilakukan Nabi
      Shalallahu ‘alaihi wa sallam termasuk haji dan umrah. Nabi Shalallahu ‘alaihi
      wa sallam ketika ingin haji atau umrah tidak mengatakan : “Ya Allah, saya
      niat ingin demikian dan demikian”.

      Tidak terdapat riwayat dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam demikian itu
      dan beliau juga tidak pernah memerintahkan kepada seorang pun dari
      sahabatnya”. Yang ada dalam hal ini hanya bahwa Dhaba’ah binti Zubair, semoga
      Allah meridhainya, mengadu kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia
      ingin haji dan dia sakit. Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata
      kepadanya :
      “Artinya : Berhajilah kamu dan syaratkan, bahwa tempatku ketika aku tertahan.
      Sebab yang dinilai oleh Allah untukmu, apa yang kamu kecualikan”
      [Muttafaqun ‘Alaihi]

      Sesungguhnya perkataan di sini dengan lisan. Sebab akad haji sama dengan
      nadzar. Dan bila manusia niat untuk bernazdar dalam hatinya maka demikian
      itu bukan nadzar dan tidak berlaku hukum nadzar. Karena haji seperti nadzar
      dalam keharusan menepatinya jika telah merencanakannya (niat), maka Nabi
      Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Dhaba’ah untuk mensyari’atkan
      dengan mengatakan : “Jika aku terhalang oleh halangan apapun, maka tempatku
      ketika aku terhalang”. Adapun hadits yang menyatakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi
      Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan
      berkata : “Shalatlah kamu di lembah yang diberkati Allah ini, dan
      katakanlah : ” Umrah dalam haji atau umrah dan haji”.

      Maka demikian itu bukan berarti bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam
      mengucapkan niat. Tetapi maknanya bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam
      menyebutkan manasiknya dalam talbiyahnya. Karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa
      Sallam tidak pernah mengucapkan niat. Talbiyah sebagaimana dilakukan orang-
      orang yang haji dan umrah, yaitu :
      “Artinya : Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah
      dan tiada sekutu apapun bagi-Mu. Sesungguhnya puji, nikmat dan kekuasaan
      hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu. Ya Allah aku penuhi panggilan-Mu.
      Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, Rabb kebenaran”
      Tempat niat di dalam hati, bukan di lisan. Adapun bagaimana cara niat haji
      karena mewakili orang lain ? Caranya adalah agar sesorang niat dalam hatinya
      bahwa dia akan haji atas nama fulan bin fulan. Demikian itulah niat.

      Namun untuk itu dia disunnahkan melafazkan seperti dengan mengatakan :Labbaik
      Allahumma Hajjan an Fullan ” (Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu untuk haji
      atas nama fulan), atau “Labbaik Allahumma ‘Umratan ‘an Fulan ” (Ya Allah, aku
      penuhi panggilan-Mu untuk umrah atas nama Fulan) hingga apa yang ada dalam
      hati dikuatkan dengan kata-kata. Sebagaimana para sahabat juga melafazkan
      demikian itu seperti diajarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallamdan
      mereka mengeraskan suara mereka. Ini adalah sunnah.

      Dan dalam suatu riwayat dikatakan,bahwa Abdullah bin Umar mendengar seseorang
      berkata ketika sedang berihram:”Ya Allah,sesungguhnya hamba ingin melakukan
      haji dan umrah.”Maka Ibnu Umar berkata kepadanya:”Apakah engkau memberitahukan
      (niatmu) itu kepada orang lain? Dan bukankah Allah lebih mengetahui isi
      hatimu? Padahal niat itu adalah kehendak hati dan tidak wajib dilafazkan dalam
      beribadat.” (riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Jami’ul
      Uluum wal Hikam:19) [4]

      ——————————————————————————–
      Referensi:

      1.Secara ringkas dari Qaulul Mubin Fi Akhtahil Mushollin :Syaikh Abu Ubaidah
      Masyhur bin Hasan bin Mahmud bin Salman: edisi indonesia :Koreksi Total Ritual
      Shalat ,terbitan Pustaka Azzam 98-101

      2.”Silsilah Al-Fatawa Asy-Syar’iyah” (edisi Indonesia) Bunga Rampai Fatwa-
      Fatwa Syar’iyah oleh Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail As-Sulaiman Al-
      Mishri, terbitan Pustaka At-Tibyan, Penerjemah Abu Ihsan

      3. “Ighasatul Lahfan”, Ibnu Qayyim al-Jauziyah

      4. “Tazkiyatun Nufus : penulis : Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Rajab, dan
      Imam Al-Ghazali, pengumpul : Dr. Ahmad Farid ; pentahqiq : Majid ibnu Abi
      Laila, hal 18 & 20.

      5. “Fathul Baari bi Syarh Shahih al-Bukhari”,(edisi Indonesia) Penjelasan
      Kitab Shahih Bukhari oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, peneliti Syaihk
      Abdul Aziz Abdullah bin Baz

      6. “Zaadul Ma’ad”, hal 7, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, cet. ke-1, (edisi
      Indonesia) Duta Ilmu

      7. “Syahdzaratil Balatin min Thayyibati Kalimati Salafinash Shalihin –
      Betulkah Sholat Anda”, hal 98, Imam Ahmad bin Hambal, cet. ke-X, (edisi
      Indonesia) Bulan Bintang

      8. “Shifatu Sholati Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam , hal 85 & 86, Muhammad
      Nashruddin Al-Albani, Maktabah Al Ma’arif Riyadh

      9. “Fiqqus Sunnah”, Jilid I – Bab Fardhu Shalat, hal 286, cet. ke-V, Al-
      Ma’arif

      10. Qawaid wal Fawaid minal Arbaina An Nawawiyah , Fati’ Muhammad Sulthan , hal
      31 , cet. II/1410 H , Darul Hijroh Linnasyr wa Attazi’ Riyadh.

      11. “Sifat Puasa Nabi”, oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilali, (edisi Indonesia)
      Pustaka Al-Haura

      12. “Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia”, Penyusun
      Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, (edisi Indonesia) terbitan Pustaka Imam
      Asy-Syafi’i, hal 98 – 104, Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc99
      ——————————————————————————-

      Disusun kembali oleh:
      Abu Ismail – Karang Tengah@2003
      email: Apriadi27@…

      “Apabila amalan hati bersesuaian dengan amalan dhahir, itulah KEADILAN

      “Apabila amalan hati LEBIH BAIK dari amalan dhahir , itulah KEUTAMAAN

      “Apabila perbuatan dhahir itu LEBIH BAGUS dari amalan hati, itulah KECULASAN
      (perkataan ibnu Uyainah , dlm shifatush Shafwah :II/234)

      Fudhail bin Iyadh berkata

      “Wahai orang yang sengsara, kamu orang jahat tetapi menganggap dirimu baik.Kamu
      orang bodoh tetapi menganggap dirimu pintar.Kamu tolol, tetapi menganggap
      dirimu cerdik.Umurmu pendek, tetapi angan-anganmu panjang”

      Imam Adz-dzhabi menambahkan:
      “Demi Allah , sungguh benar apa yang beliau katakan. Kita ini dzalim , tetapi
      justru merasa didzalimi.Tukang memakan yang haram , tetapi merasa diri kita
      orang suci ,Fasik tetapi merasa diri kita shalih. Mencari ilmu untuk mengejar
      dunia , tetapi merasa mencarinya karena Allah semata”

      [Siyaru A’laamin Nubalaa VIII:440]

  8. Salam sejahtera saudara Anb Azz. Terima kasih di atas perkongsiannya.. Semoga mampu mencerahkan yang gelap.

    …di mana aku berada di sana ada Dia…

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: